Archive for November, 2009

Hagia Sophia: place where the ‘East’ meets the ‘West’, Istanbul in Turkey


Di dalam Hagia Sofia, Istanbul, Turki, Juni 1994
Hagia Sophia, bahasa Arab: آيا صوفيا , (bahasa Turki: Aya Sofya; bahasa Yunani: Aγια Σοφία, “Kebijaksanaan Suci”), Sancta Sophia dalam bahasa Latin atau Aya Sofya dalam bahasa Turki, adalah sebuah bangunan bekas basilika, masjid, dan sekarang museum, di Istanbul.
Popularly known as the strategic place where the ‘East’ meets the ‘West’, Istanbul in Turkey, is a historic and fascinating city, which bridges the continents of Europe and Asia. Situated on the west of the Bosporus strait, which is responsible for joining the Black sea and the Sea of Marmara, Istanbul has a diverse history that is packed with tradition and ethnicity of its various conquerors.

Istanbul is supposed to have been inhabited right from the primitive times, and excavations conducted in that place have unearthed several evidences, that date it somewhere between 5500 BC and 3500 BC. Records also point to the fact that the modern Istanbul was actually a small Thracian fishing village called Semista in 1000BC, which also had a port by name of Lygos.

By 667 BC, a Greek ruler by name of Byzas, from Megara, established his kingdom here, on the advice of an oracle of Delphi, and named it Byzantium. But it was besieged by the Romans in AD 196, and became part of the Roman Empire. The ravaged city was rebuilt by the Roman Emperor, Septimus Severus, and temporarily given the name of ‘Augusta Antonina’. But in 306 AD, Emperor Constantine the Great made Byzantium the capital of the entire Roman Empire, and from then on, the city was called Constantinople. The Byzantium Empire was more or less influenced by Greek culture, and was also a hub of Greek Orthodox Christianity, which resulted in the construction of several magnificent Christian architectural wonders, the prominent among them being the Hagia Sophia, which remained the world’s largest cathedral till 1850.

The Roman Empire passed through much turmoil due to attack from various sources, especially the Barbarians, not to mention their internal problems, and finally, in 532 AD, during the reign of Justinian I, the city was totally destroyed due to anti government riots. Though much favored for its ideal location, that made trade and transport between continents an easy affair, this very factor also proved to be the doom of Constantinople. For several hundred years hence, it had to face a lot of assault from the Arabs, Nomadic, Persians, as well as the Fourth crusaders, who periodically occupied it.

At last, in 1453, Constantinople was attacked and conquered by the courageous Ottoman Turks led by Sultan Mehmet II, who renamed it Istanbul. It continued to function not just as an important cultural, political and commercial hub, but also as their main centre for military operations too, till World War I, after which it was occupied by the Allies.

Sultan Mehmet II was supposed to have given the city a cosmopolitan social outlook. After deporting the remaining Byzantine population, a great many changes were made to the existing architecture in general. The old world Christian city was gradually transformed into a Muslim conurbation as the Emperor started rebuilding all churches so as to convert them to mosques. The great mosque and the Fatih College were built on the old burial grounds of the erstwhile Byzantine Emperors at the Church of the Holy Apostles. The Hagia Sophia too was converted to a mosque. But to his credit, the Sultan held a cosmopolitan outlook and for the greater part, allowed people of all faiths to settle in the vast city, and made effective use of their varied skills. Tolerance was a great virtue that was practiced by Sultan Mehmet II, and it was reflected all over the empire.Istanbul acquired a status of great importance in the eyes of all Muslims, after the conquest of Egypt, and its glory increased from leaps and bounds in the hands of its various rulers, many of whom were great patrons of art and architecture.

Although the capital of Turkey was changed from Istanbul to Ankara by Kemal Ataturk, in 1923, Istanbul still retained its attractions and continued to expand majestically. But gradually, due to the mass exodus of the various nationalities, especially after the war between Greece and Turkey, it became a prominent Muslim nation.

The many historic monuments of yesteryears, that are to be found there, like the various museums, castles, palaces, mosques, churches, etc contribute greatly to the increase in the tourism industry today. In fact, many of its historic architectures have been added to the UNESCO’s list of world heritage sites. Though no more a capital city, Istanbul, which is considered to be Turkey’s cultural and financial center, still retains its old world attraction and continues to generate its own individual history through out the ages.


Kedatangan Anak Dewa di Indonesia

Akan ada dewa tampil berbadan manusia
tanda datangnya perubahan zaman.

Jongko Joyoboyo 159.

Apabila disebutkan kata dewa, maka persepsi kita mengarah kepada sosok bukan manusia. Sosok itu hanya ada pada zaman dulu kala dan tidak ada di zaman sekarang. Sementara Ratu Adil yang kelak akan hadir di Indonesia disebut sebagai putra Batara Indra, istilah itu membawa pengertian bahwa dia seorang yang memiliki kesaktian layaknya dewa.

Banyak yang akan mengatakan tidak mungkin zaman sekarang ada orang sakti, apalagi bisa ini, bisa itu, atau bisa terbang dan sebagainya. Terlepas orang percaya atau tidak yang pasti Joyoboyo telah memprediksi akan kedatangan si anak dewa di Indonesia. Anak dewa akan beraksi membawa Indonesia keluar dari zaman Kalabendu.

Tetapi meskipun si anak dewa sakti mandraguna, namun dia adalah manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan manusia -manusia lain pada umumnya. Karena dia manusia biasa tentunya dia juga dapat diketahui asal usulnya, keluarganya juga hal-hal lain mengenai dirinya. Untuk itulah berikut ini beberapa hal mengenai anak dewa sebagai manusia biasa.

1. Asalnya dari kaki gunung Lawu.
Dalam bait 161 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa si anak dewa “asalnya dari kaki gunung Lawu”. Kata “kaki gunung Lawu” menunjuk kepada sebuah perkampungan atau pemukiman penduduk yang terletak di sekitar gunung Lawu Solo Jawa Tengah. Sedangkan kata “asalnya” dalam kalimat tersebut mengandung 3 kemungkinan yaitu :

Kemungkinan pertama si anak dewa memang dilahirkan di daerah sekitar kaki gunung Lawu. Orang akan berfikir bahwa kaki gunung Lawu sebagai asalnya merupakan daerah kelahiran si anak dewa yang kemudian dia tidak hidup di daerah tersebut. Asal tersebut hanya sebagai tempat kelahiran selanjutnya dia mungkin saja merantau ke daerah lain.

Kemungkinan kedua orang tua si anak dewa tinggal di sekitar kaki gunung Lawu. Alasan pekerjaan atau alasan pendidikan terkadang menjadikan orang harus meninggalkan tempat kelahirannya kemudian hidup dan beraktifitas di tempat perantauan. Bisa jadi si anak dewa merantau sementara orang tuanya tetap tinggal di daerah kaki gunung Lawu itu.

Kemungkinan ketiga si anak dewa memang rumahnya atau tempat tinggalnya di sekitar kaki gunung Lawu. Pada saat pertama kali muncul, dia pasti akan ditanya orang berasal dari manakah dirinya? Apabila memang si anak dewa rumah tinggalnya di wilayah sekitar kaki gunung Lawu maka dia akan menyampaikan hal tersebut.

Ketiga kemungkinan di atas tidak mungkin benar semua, tetapi juga tidak mungkin salah semua. Salah satu dari ketiganya kelak akan dibenarkan si anak dewa. Namun ketiganya lebih nampak mendekati kebenaran, meskipun hingga saat ini masih terdapat perdebatan. Benar atau tidak akan segera terjawab setelah si anak dewa muncul nantinya.

2. Berumah seperti Gatotkaca.
Sudah banyak yang mengetahui seperti apa rumah Gatotokaca. Rumah Gatotkaca bukan tipe rumah yang berada di atas tanah, tetapi merupakan tipe rumah yang dibangun di atas pohon. Uniknya lagi rumahnya itu tidak hanya satu lantai namun bersusun hingga tiga lantai. Menunjukkan tipe rumah yang beda dari rumah-rumah orang pada umumnya.

Anak dewa dikabarkan dalam bait 161 Jongko Joyoboyo “berumah seperti Raden Gatotkaca berupa rumah merpati susun tiga”. Apabila diartikan apa adanya maka rumah anak dewa tidak ada bedanya dengan rumah milik Gatotkaca yaitu bersusun tiga dan berada di atas pohon. Apa mungkin rumah anak dewa berada di atas pohon seperti itu ?

Mungkin saja keadaan rumah anak dewa seperti itu, akan tetapi dalam bait 161 Jongko Joyoboyo tersebut dikatakan “seperti” dan tidak dikatakan “sama dengan”. Kalo dikatakan sama dengan berarti rumah anak dewa ya sama dengan rumah Gatotkaca, namun karena dikatakan seperti maka rumah anak dewa hampir sama/mirip dengan rumah Gatotkaca.

Dalam hal ini letak kemiripannya pada kata susun tiga. Dengan kata itu diperkirakan rumah anak dewa bertingkat tiga (berlantai 3) dibangun di atas tanah dan tidak berada di atas pohon. Bila demikian anak dewa sepertinya termasuk dalam keluarga ekonomi menengah atau bahkan ekonomi kelas atas karena rumahnya bertingkat atau berlantai 3.

3. Berpakaian kurang pantas.
Dalam bait 163 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa anak dewa “kelihatan berpakaian kurang pantas”. Keadaan ini menunjukkan si anak dewa tidak begitu memperhatikan pakaian yang dia kenakan. Bisa jadi memang dia tipe orang yang cuek yang tidak begitu memperdulikan pakaian yang dipakai sehari-harinya.

Keadaan lain mungkin juga si anak dewa memang orang biasa, dia bukanlah seorang pejabat atau seorang pegawai negri/swasta. Oleh karena kesibukannya setiap hari tidak menuntut untuk menggunakan pakaian khusus atau pakaian kerja maka wajar saja bila akhirnya dia menggunakan pakaian seadanya yang terlihat kurang pantas.

Faktor lain apakah mungkin si anak dewa termasuk ke dalam keluarga ekonomi menengah atau ekonomi bawah. Bisa jadi demikian, tetapi Joyoboyo juga menyebut bahwa rumah anak dewa itu bersusun tiga. Maka itu tidak mungkin anak dewa termasuk keluarga tidak mampu apalagi dalam membeli pakaian sebagai kebutuhan pokok dalam hidup.

Dari sinilah muncul dugaan bahwa anak dewa memang tipe orang yang tidak peduli dengan pakaian yang dikenakannya setiap hari. Dia begitu percaya dan tidak peduli akan sindiran orang. Terlebih lagi memang yang terpenting itu bukan pakaian, tetapi skill atau keahlian dan kemampuan yang kelak dapat mengatasi keruwetan orang banyak.

4. Masih muda sudah dipanggil tua.
Dalam bait 165 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa anak dewa itu “masih muda sudah dipanggil orang tua”. Kalimat ini mengindikasikan bila kenyataannya nanti si anak dewa usianya masih muda, berarti sosoknya adalah seorang pemuda yang berusia kira-kira diatas 20 tahun dan dibawah usia 40 tahun. Sekitar 30 tahun maju atau mundur dikit.

Sebagai sosok pemuda tentunya tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda lain pada umumnya, dia akan dipanggil dengan panggilan mudanya seperti mas, kak dan sejenisnya. Tetapi kata Joyoboyo dia akan dipanggil orang tua. Keadaan ini dirasa aneh terdengar dan tidak sesuai dengan usia kepemudaan si anak dewa sebagai manusia biasa.

Apabila memang kenyataannya dia dipanggil orang tua dengan panggilan umumnya seperti pak, om, pakde dan yang sejenisnya, maka dipastikan ada penyebab yang melatarbelakangi. Bisa jadi dia telah berkeluarga dan punya anak di usia muda atau bisa jadi wajahnya yang terlihat seperti orang tua. Ntah mana yang benar.

Dengan panggilan orang tua yang diberikan orang kepadanya ketika dia masih muda, otomatis memposisikan dirinya sebagai orang tua atau orang yang dituakan atau juga orang yang dianggap telah tua. Posisi ini sekaligus memberitahukan bahwa anak dewa bukan lagi seorang bocah, tetapi orang yang diakui telah dewasa di mata orang banyak.

5. Kumara menebus dosa.
Dalam bait 165 Jongko Joyoboyo disebutkan bila si anak dewa sebagai “kumara yang sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa”. Semua orang mengetahui bahwa manusia diciptakan Tuhan tidak ada yang sempurna. Manusia tercipta dengan kelebihan dan kekurangan juga kekuatan dan kelemahan.

Dengan keadaan seperti itu maka wajarlah bila manusia bisa berbuat dosa bahkan ada yang malah suka berbuat dosa. Tapi anak dewa rupanya termasuk orang yang menyadari akan dosa-dosa yang diperbuatnya. Oleh karena menyadari maka akhirnya diapun melakukan penebusan dosa yang telah diperbuatnya. Anak dewa juga manusia biasa kan.

Tetapi jenis dosa apa yang telah dilakukannya sehingga dia merasa sangat perlu menebusnya. Belum diketahui pastinya karena memang orangnya masih tersembunyi sampe saat ini. Kalo dosanya kecil saja sepertinya Joyoboyo tidak perlu menyebutkan dalam Jongkonya. Tetapi kelihatannya dosa besar yang berpengaruh bagi kelanjutan hidupnya.

Terbebani oleh dosa yang telah dilakukannya maka si anak dewa melakukan penebusan dosa. Meskipun juga susah untuk ditebak bentuk tebusannya, namun adanya penebusan dosa ini akan menjadikan dirinya lepas dari segala beban dan dia dapat muncul setelah selesai menebus dosanya tanpa beban yang berarti.

6. Yatim Piatu.
Dalam bait 168 Jongko Joyoboyo disebutkan bila “satria itu yatim piatu tak bersanak saudara”. Kata yatim piatu semua orang telah mengetahuinya yaitu tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu kandung. Sementara kata tak bersanak saudara bisa diartikan bila si anak dewa juga tidak memiliki keluarga besar dan tidak memiliki saudara kandung, jadi dia anak Tunggal.

Dengan kalimat Joyoboyo tersebut menandakan bila anak dewa merupakan pemuda yang hidup sendiri tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa saudara juga tanpa keluarga dan kerabatnya. Belum diketahui secara pasti apakah kondisi anak dewa ini telah terjadi sejak dilahirkan ataukah terjadi ketika dia sudah beranjak ke sosok pemuda.

Apabila dikaitkan dengan Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan bahwa anak dewa atau si bocah angon “sudah pergi ke Lebak Cawéné bersama pemuda berjanggut”. Siliwangi tidak menyebut pergi bersama orang tua, istri atau saudara dan kerabatnya, tetapi menyebut pemuda berjanggut. Sepertinya dia bukan kerabat atau saudara anak dewa, bisa jadi karena yatim piatu itulah dia dibawa ke Lebak Cawéné.

Keadaannya yang hidup sendirian tanpa keluarga dan kerabat ditambah belum beristri menjadikan anak dewa hidup menyendiri. Kondisi ini secara langsung maupun tidak telah menjadikannya sebagai sosok satria piningit (tersembunyi). Bila ada masalah apapun itu tidak akan pernah diceritakan pada orang lain alias dipendam sendiri dan diselesaikan sendiri.

7. Sudah lulus Weda Jawa.
Dalam bait 168 Jongko Joyoboyo disebutkan bila si anak dewa “sudah lulus weda jawa”. Weda Jawa dalam kalimat tersebut bisa diartikan sebagai pembelajaran yang dijalani si anak dewa. Lebih tepatnya sekolah atau kuliah di lembaga pendidikan formal baik negri atau swasta. Kata lulus berarti sekolah atau kuliah yang dijalaninya telah selesai.

Pada saat ini memang belum jelas diketahui apakah sudah selesai atau belum belajarnya tetapi ketika telah muncul untuk membenahi Indonesia, anak dewa sepertinya telah lulus dari kuliah atau sekolahnya. Sehingga dia tidak lagi dibebani oleh tuntutan-tuntutan dalam lembaga pendidikan yang ditempuhnya, karena telah lulus.

Mengenai lembaga pendidikan formal yang menjadi tempat anak dewa belajar merupakan lembaga khusus keagamaan ataukah lembaga umum, hingga saat ini belum diketahui pastinya. Namun dalam beberapa bait Joyoboyo menyebut bila Trisula Weda menjadi pedoman hidupnya.

Apabila Trisula Weda menjadi pedoman hidupnya maka ini mengindikasikan bahwa lembaga pendidikan yang menjadi tempat belajar anak dewa merupakan lembaga keagamaan yang khusus mempelajari kitab yang diyakininya. Dari pendidikan yang ditempuhnya itulah kelak anak dewa akan menjadikan Trisula Weda sebagai pedoman hidupnya.

Anak dewa meskipun sosoknya sakti mandraguna, tetapi tetap saja dia memiliki identitas sebagai sosok manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya. Beberapa hal di atas merupakan contoh kecil sebagai bukti bahwa dia memang manusia dan bukan makhluk lainnya. Dengan identitasnya sebagai manusia tentunya kita rakyat Indonesia tidak perlu mencemaskan akan kehadirannya. Sebaliknya kita akan tertram dengan kehadirannya.