Archive for December, 2008

Menyingkap Rahasia Sang Diri

• Kesadaran dan Kewaspadaan Sang Diri-Jati

       Sang Diri-Jati adalah kesadaran mendengar dari telinga, sama halnya
dengan, kesadaran dalam fungsi-fungsi indriya lainnya. Organ pendengaran,
organ
penglihatan, dll. tidak mampu berfungsi tanpa hadirnya Kewaspadaan Sang
Diri-Jati. Sifat dari Sang Diri-Jati dapat didefinisikan dengan apa ‘yang
bukan
itu’ (what it is not) dan tidak dengan ‘yang itu’ (what it is).

Sang Diri-Jati, seperti apa adanya dia, tak dapat dilukiskan, oleh karena
ketiadaan karakteristik-karakteristik yang dibutuhkan oleh suatu pendefinisian
untuk itu. Ia bukan substansi dengan atribut-atribut, bukan pula sosok pribadi
yang mengarahkan indriya-indriya, dll. Ia bukan apa-apa (nothing) bagi
indriya-indriya dan juga pikiran, walaupun segala-galanya bagi dirinya
sendiri.

Walaupun demikian, tindakan-tindakan pembebasan, kemauan dan determinasi,
memungkinkan bagi kita untuk menduga/mengambil kesimpulan atas sifat dari Sang
Diri-Jati. Kelahiran, asal dan substansi penyusunnya tak dapat dijelaskan dan
ditentukan, kecuali atas dasar pengertian tentang suatu yang tak-berawal, dan
yang tak-tersusun.

Dunia pengalaman adalah indikator dari keberadaan sosok Makhluk Abadi.
Penerimaan terhadap keberadaan kita yang terbatas adalah bukti dari adanya
Ketidak-terbatasan. Bahwasanya manusia tak-sempurna, juga berarti bahwa ada
Makhluk Yang Sempurna. Akan tetapi, tetaplah tidak memungkinkan untuk
menganggap
bahwa kita sendiri kini sempurna, sebab pengalaman kita sendiri menentang
keras
kesimpulan serupa itu. Bilamana ketidak-hadiran dari apapun juga yang
mendatangkan berbagai kesulitan dan bencana, barulah nilai dari kehadirannya
dapat disadari. Bilamana tanpa sesuatu petunjuk, penjelasan apapun tak bisa
diberikan, kita diharuskan untuk menerima/mengakui realitas dari ‘sesuatu
itu’.

Tak ada pengalaman yang dapat dijelaskan tanpa dilandasi oleh kehadiran
Diri-Jati, kecuali atas landasan sesosok Diri yang permanen. Rasa ‘aku’
yang ada
didalam menolak untuk ditolak, dan memantapkan dirinya bahkan sebelum kita
memulai memikirkannya.

• Lima Selubung Eksternal bukanlah Realitas Sejati

Kesadaran dipresuposisikan oleh pemikiran. Apapun yang merupakan suatu
kombinasi
dari beberapa bagian (komposit), haruslah bergantung pada ‘sosok keberadaan
utuh non-komposit’. Perbedaan-perbedaan hanya dapat dijelaskan oleh
ketidak-berbedaan. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan badaniah memiliki suatu
nilai, hanya atas dasar hipotesis dari ketidak-mampuan makhluk (dalam
menjadi).
Kita memberi nilai kepada keberadaan ragawi kita, oleh karena kita
mencampur-adukkan antara Diri-Jati —yang tak-terbagi— dengan raga terbagi ini.
Indriya-indriya tidak bersesuaian satu dengan yang lainnya, namun
ketidak-sesuaian ini didamaikan dan diharmonisasikan oleh Sang Diri-Jati,
pemersatu didalam. 

       Dalam keadaan terjaga, kesadaran meliputi tubuh, seperti halnya api
membuat bola besi menjadi merah membara, tatkala dipanasi. Menjadi sulit
membedakan antara api dan bola besi itu sendiri dalam keadaan seperti itu.
Sama
halnya dengan raga, tampak seperti Sang Diri-Jati oleh karena rembesan
kesadaran
pada raga dan indriya-indriyanya. Akan tetapi kesadaran berbeda dengan raga
berikut indriya-indriyanya, tak ubahnya seperti api yang berbeda dengan bola
besi itu.

Pengungkapan rahasia Diri merupakan sifat alami dari Sang Diri-Jati sendiri.
Oleh karena itulah maka indriya-indriya sensorik dapat mengungkapkan
objek-objek pada kita. Tanpa itu mereka mati.
Seperti halnya matahari menerangi dunia, Sang Diri-Jati menerangi lahir dan
batin. Nah, inilah yang membuktikan bahwa raga bukanlah Diri-Jati, demikian
juga
batin.  

       Sama juga halnya, Prana bukanlah Sang Diri-Jati. Prana adalah ekspresi
dari pikiran. Ia merupakan saluran penghubung antara pikiran dan raga. Aliran
Prana diatur oleh fungsi dari pikiran, dan pada gilirannya, raga dikendalikan
oleh gerakan Prana. Kondisi raga tergantung pada bagaimana kerja  Prana, dan
kondisi dari Prana tergantung pada bagaimana kerja si pikiran, berikut
keinginan-keinginan yang dipunyainya. 

       Hadirnya hidup pada Prana disebabkan oleh hidup dari Sang Diri-Jati.
Prana tidak mempunyai hidup (ataupun kesadaran) dalam keadaan tidur nyenyak,
ketika ia tak-berhubungan dengan Sang Diri-Jati. Ada juga yang lepas dari
kesadaran seperti bernafas dan fungsi-fungsi lain dari Prana. Oleh karena itu
dapat disimpulkan bahwa, dapat dipahami bahwa tak satupun dari kelima selubung
eksternal (panca mayakosa) memiliki realitas.

sumber: http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/4629?var=1

Hal Rahasia Diri

Ilmu zahir ada 12 macam dan ilmu batin pun 12 macam dibagi kepada golongan umum dan golongan khusus menurut kadar perjuangannya.

Dari 24 macam ini terbagi ia kepada 4 bab.

Bab 1 – Zahir Syariat – iaitu tentang perintah dan larangan serta hukum – hukum.

Bab 2 – Batin Syariat – yang disebut Ilmu Batin dan Tariqat.

Bab 3 – Ilmu Batin yang disebut Ilmu Ma’rifat.

Bab 4 – Ilmu Hakikat.

Manusia diharuskan menguasai bab keempat tadi, seperti mana sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud:

“Syariat bagaikan pohon, Tariqat bagaikan cabang; Ma’rifat bagaikan daun dan Hakikat bagaikan buah”.

“Bila pintu yang ini (Rasikhin) telah terbuka, maka akan Al-Quran mencakup 4 bab di atas dengan petunjuk dan isyarat secara tafsir dan takwil. Penyusun Kitab ‘Al – Majma’ berfatwa bahwa tafsir bagi awam dan takwil bagi orang khusus, karena orang – orang khusus ini adalah ulama’ yang ‘rusukh’.

Rusukh maknanya tetap kuat, kukuh dan teguh di bidang ilmu. Sifat ini dimiliki oleh ulama Rasikhin yaitu suatu hasil dari kalimat yang ditanamakan di lubuk hati setelah berupaya membersihkan hati. Bukti ketinggian martabat ulama Rasikhin adalah ayat Al-Quran yang mencantumkan lafaz Rasikhin yang di’athafkan kepada lafaz Jalalah (Illallah) dalam ayat ‘Syahidallahu….’ dan seterusnya di dalam Surah Ali Imran: 18;

Mufassir Tafsir Al – Kabir berkata :

terbukalah segala yang batin. Seorang hamba diwajibkan melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan melawan nafsu di seluruh daerah yang empat,

mulki (jasad)
malakut (hati)
jabarut (fuad)
lahut (sir)

Nafsu menggoda di daerah syariat dengan membuat perlawanan -perlawanan.

Sedangkan di daerah Tariqat , nafsu menggoda dengan mendorong dan menyetujuinya tetapi di dalamnya terkandung tipuan seperti pengakuan menjadi nabi, wali dan sebagainya.

Sedangkan di daerah ma’rifat nafsu menggoda dengan syirik khafi (penyekutuan yang samar) yang bangsa cahaya seperti pengakuan menjadi tuhan. Allah berfirman (Al-Furqan:43): “Engkau mengetahui orang – orang yang menjadi Tuhan sebagai hawa nafsunya”

Di daerah Hakikat pula syaitan, nafsu dan malaikat tidak dapat memasukinya sebab bila berada di situ akan hangus, kecuali AlLah. Jibril a.s. berkata : “Kalau aku memasukkan hujung jariku ke alam ini maka hanguskah aku.

Manusia yang telah mencapai alam ini berarti dia selamat dari dua seteru; dan jadilah dia manusia yang ikhlas”. Sesuatu yang tidak mencapai hakikat, maka dia tidak akan mencapai ikhlas karena sifat – sifat ‘Basyariyyah Ghairiyyah’ (sifat manusia selain Tuhan) tidak akan hancur, kecuali dengan ‘Tajalli Zat’.

Sifat bodoh hanya akan hilang dengan Ma’rifat Zat. Allah akan memberi ilmu orang yang sampai ke derajat ini tanpa perantaraan. Manusia akan mengenal AlLah kerana diperkenalkan oleh AlLah dan beribadat kepada AlLah dengan pendidikan AlLah, seperti Nabi Khidir a.s. Di alam ini dia akan menyaksikan Ruh – ruh Qudsiyah dan mengetahui Nabinya (Muhammad SAW) secara hakiki. Maka akan berbicaralah dari akhirnya hingga permulaannya.

Seluruh nabi menyampaikan khabar gembira atas keberhasilan si hamba karena sampai kepada AlLah yang kekal. Firman AlLah (Surah An-Nisa’:69): “Dan mereka itulah teman sebaik – baiknya”.

Amaliyah bagi Ruh Jasmani adalah menggunakan Ilmu Zahir. Pahalanya hanya syurga. Maka di sana akan jelaslah kebaikan dari sifat (orang yang beribadah akan masuk syurga; sebaliknya orang yang tidak beribadah akan masuk neraka).

Sedangkan untuk masuk ke ‘Haramil Qudsiyah’ dan dekat dengan AlLah tidak cukup bila hanya menggunakan Ilmu Zahir saja. Untuk ke sana harus dengan Ilmu Terbang; dan terbang itu harus menggunakan dua sayap. Bila satu, maka perjalanan akan pincang. Maka dengan kesepaduan Ilmu Zahir dan Batin barulah sampai seorang hamba ke Alam Qudsi.

AlLah berfirman di dalam Hadis Qudsi:

“Hai hambaKu, bila engkau ingin masuk ke HaramilKu (Haramil Qudsiyah), maka engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut; karena :
alam Mulki adalah syaitan bagi orang Alim;
alam Malakut, syaitan bagi orang Arif;
alam Jabarut, syaitan bagi orang yang akan masuk ke alam Qudsiyah”.

Wajib bagi semua manusia mengetahui ukuran dirinya dan jangan mengaku sesuatu yang bukan haknya. Imam Ali berkata: “AlLah menyayangi orang – orang yang mengetahui kadar dirinya dan tidak melewati batas perjalanannya; menjaga lisannya dan tidak mensia – siakan umurnya”.

Seorang Alim harus mampu mencapai makna hakikat manusia yang disebut Tiflul Ma’ani (Bayi Ma’nawi). Setelah itu harus mendidiknya dengan tetap melakukan Asma Tauhid dan keluar dari alam Jasmani ke alam Ruhani, yaitu alam As-Sirri yang di sana tidak sesuatupun selain AlLah. Sir itu seperti lapangan dari cahaya, tidak ada hujungnya. Inilah Maqam Al-Muwahidin.

Mudah – mudahan tulisan di atas bermanfaat dan menjelaskan sedikit sebanyak hal rahsia diri – insan. Berusahalah untuk mencapai ke tahap itu melalui petunjuk guru atau orang yang ahlinya. Ada di antaranya sengaja tidak diuraikan dengan lebih lanjut kerana sebagiannya adalah rahsia yang perlu dibicarakan secara khusus.

sumber: http://www.gagakmas.org/qolbu/?postid=52