Posts Tagged ‘tuhan’

Renungan: Mengenali Allah lewat Rasul-Nya

Bismillaahi-r Rahmaani-r Rahiim,

[QS al-Hujurat 49:7] wa’lamuu anna fiikum rasuulallaahi.. (Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu –ditengah-tengah kamu- ada Rasulullah..)

[QS Ali Imran 3:101] wakayfa takfuruuna wa-antum tutlaa ‘alaykum aayaatu allaahi wafiikum rasuuluhu..  (Bagaimanakah kamu sampai menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?..)

[QS at-Taubah 9:128] laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum.. (Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri -dari dirimu sendiri-,..)

Saudaraku, semoga keselamatan dan berkah selalu terlimpah atasmu, Wahai Saudaraku, sesungguhnya kitalah yang berkehendak kepada Allah SWT (QS Faathir 15). Oleh karenanya, sudah sewajibnya kita harus benar-benar mengenal Tuhan kita, yang mempunyai asma Allah, yang ghaib tetapi wajib wujudnya dan harus kita kenali sebenar-benarnya.

Allah adalah nama dari Dzat yang wajib wujudnya tersebut. Dzat yang maha kuasa, maha mengetahui dan Yang dhahir dan Yang bathin serta distinct (unik – tunggal).  Nama saja, tidak memiliki manfaat maupun mudharat apapun. Nama Tuhan, pada kurun waktu perguliran zaman bisa dan mungkin berubah, tetapi Dzatnya tetap satu. Yang wajib kita sembah, ingat dan kita mohon perlindungan dariNya adalah kepada Dzat yang memiliki nama Allah (QS Thaa-Haa 14) yang dekat dengan kita dan keberadaanNya adalah nyata (QS Qaaf 16). Dia-lah yang harus selalu kita ingat dan “lihat” setiap kita Sholat dan berdzikir sejalan dengan keluar masuknya nafas dari pagi hingga petang, baik dalam posisi duduk, berdiri, maupun berbaring (tanpa mengurangi aktifitas kita sebagai makhluq sosial).

Kebanyakan dari kita — mohon maaf — seringkali merasa puas dengan pengetahuan yang kita miliki (QS Yunus 7,8 ) dan terlalu cepat menduga-duga hal yang sangat mutlak keberadaan-Nya ini dengan santainya (QS Saba’ 52, 53). Padahal Tuhan adalah asal dan tempat kembali kita semua (QS Faathir 18 ) sehingga sangatlah celaka bila kita tidak mengenal tempat kembali kita sendiri (QS Al Isra’ 72), karena mati yang selamat adalah berhasil kembalinya Roh dan Rasa ke hadhirat Allah SWT (perlu diingat jasad akan kembali ke tanah). Mungkin gugatan keyakinan ini dianggap aneh, mengada-ada dan terlalu mempermasalahkan hal yang tidak substansial, tetapi demi Dzat yang memelihara alam semesta, kita harus berani bertanya pada kita sendiri; sudahkah kita betul-betul mengenal Tuhan kita, sehingga berada pada jalan yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan do’a kita (dalam Al-Fathihah) yang selalu kita baca setiap rekaat dalam Sholat?

Sudahkah kita benar-benar mengenal Rabb kita yang kewajiban akan mengenalnya lebih utama daripada Sholat itu sendiri? Apakah kita hanya terjebak didalam keyakinan tradisi yang  kebetulan melingkupi lingkungan kita? Karena pada dasarnya Sholat itu untuk mengingat Allah (QS Thaa-Haa 14). Rasa kita harus tertambatkan pada Allah. Permasalahannya, rasa kita selama ini terdominasi oleh gembira, sedih, kecewa, marah, bangga, iri, cemas, dan sejuta rasa keduniawian lainnya. Lalu, dimana letak kekhusyu’an kita? Sedangkan tradisi yang turun temurun tidak menjamin hakekat kebenaran (QS As Shaffaat 69,70) dan Islam pada mulanya asing dan akan dirasa asing pula pada suatu saat karena berbeda dengan tradisi biasanya (Hadits Nabi).

Saudaraku, syahadat yang kita ucapkan bukanlah kalimat formalitas yang hanya untuk dihafal, melainkan kalimat agung yang penuh makna dan harus kita fahami secara sadar. Bagaimana kita dapat mengaku menyaksikan bahwa tiada sesembahan selain Allah, sedang kita tidak mengenal Dzat yang memiliki asma Allah? Bagaimana kita bisa menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah sedang Nabi telah meninggalkan kita berabad-abad lamanya? Saudaraku, sesungguhnya sebelum kita terlahir kedunia, secara sendiri-sendiri dan oleh Tuhan sendiri, kita telah dipersaksikan secara sadar bahwa Allah-lah Tuhan kita. Akankah kita mengingkari dan tidak ingin menyadari persaksian itu?

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke hadhirat Tuhanmu dengan damai. Untuk mengenal dan menuju kepada-Nya, tentulah ada jalannya. Untuk melatih dan mendekatkan diri kepadaNya pun ada caranya. Intinya adalah pengesaan murni kepada Allah. Mengingat dari zaman ke zaman, dari masa ke masa tantangan umat berbeda-beda, maka penekanan tatacara riyadhah pun dapat berbeda, serta diberikan pula tiap umat tersebut aturan dan cara-cara yang jelas (QS Al Maidah 48 dan Al Hajj 57). Tetapi memang, hal ini terasa sangat asing (QS Shaad 7). Pertanyaan-pertanyaan tentang mungkinkah terdapat utusan Allah saat ini? Bukankah Muhammad adalah masa lalu? Bukankah pemikiran semacam ini justru menyeret kita kedalam perdebatan tanpa henti dan kontra produktif? – sangat mungkin bermunculan.

Saudaraku, semoga petunjuk dan ridho Allah terlimpah atas kita semua. Yang penting kita bersama-sama meluruskan niat untuk ma’rifat billah atau mengenal Allah dengan sebenarnya. Untuk menggapai hidayah Ilahi, kita perlu bersama-sama introspeksi dan membuka hati kita dan open minded akan kebenaran yang boleh jadi agak asing bagi kita. Seperti halnya proses pencarian Tuhan oleh Ibrahim dan kegelisahan Muhammad sebelum menerima wahyu. Jangan sampai karena keangkuhan kita, informasi keberadaan kebenaran dan pemberi peringatan ditengah kita itu justru menjauhkan kita dari kebenaran karena prasangka dan antipati terhadap kondisi yang sebenarnya telah menjadi sunnatullah ini (QS Faathir 42).

Saudaraku, Allah tidak mungkin kita lihat dengan mata jasad, karena keberadaan Allah memang tidak seperti keberadaan makhluq-Nya. Tetapi Allah wajib wujudnya dan dapat kita kenali dengan mata hati. Bahkan ketika ditanya oleh seseorang apakah Imam ‘Ali pernah melihat Tuhan, maka Beliau menjawab; “Mana mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak aku lihat!” Dan benarlah ketika Nabi Musa pingsan ketika Allah memperlihatkan diri, karena puncak pertemuan dengan Tuhan adalah kematian, dan Nabi Muhammad pernah mengisyaratkan kepada kita untuk; “Muttu Qabla ‘Anta Al- Muttu” (belajarlah “mati” sebelum kamu mati). Saudaraku, kita, bahkan tidak bisa mengedipkan mata dan menggerakkan niat dalam hati tanpa kekuatan Allah. Tiada kekuatan dan daya upaya keculi dengan Allah. Hanya Dialah Dzat yang patut kita takuti, karena sesungguhnya alam semesta ini berada dalam genggamannya. Masihkah kita tidak ingin mengenal Tuhan kita? Mengenal-Nya tidak cukup hanya dengan mengenal nama-nama-Nya, mengerti sifat-sifat-Nya, tetapi harus sampai “masuk” kedalam-Nya dan menghadirkan-Nya sampai yakin (QS Al Hijr 99).

Keghaiban Allah (sehingga Allah disebut Al-Ghaib) bukan menjadi penghalang bagi hambaNya untuk mengenaliNya. Karena Allah tidak menyosokkan diriNya dalam dimensi manusia atau mahluk yang lain (karena ini tidak mungkin), maka dipilihlah seorang manusia dari golongan mereka sendiri sebagai perantara dan wakil Allah di bumi. Hal ini berlangsung terus menerus karena pengetahuan akan Tuhan sejati bukanlah monopoli umat-umat terdahulu, tetapi sampai akhir zaman (QS Al Anbiya 7 dan An Nahl 43). Nabi Muhammad, sebagai seorang nabi, masih memerlukan Jibril sebagai perantara untuk mengenali-Nya. Terlebih lagi kita, sangatlah sombong bila kita sudah merasa mengenali-Nya hanya berdasar dugaan subyektif kita belaka (QS Al Maidah 35) tanpa adanya upaya untuk menanyakan kepada ahlinya, sebagai konsekuensi kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan manusia. Jangan pula kita diserupakan dengan Iblis karena ia enggan beroleh ilmu dari dan memandang sebelah mata terhadap Adam.

Semoga kita bukan umat-umat yang akan atau sedang mendapat azab dari Allah SWT lantaran kita  mendustakan utusan-utusan-Nya yang berada ditengah-tengah kita, sebagaimana umat-umat terdahulu dilumatkan dan diazab karena selalu memperolok dan mendustakan Rasul-rasul-Nya, dan semoga kita bukan pula tergolong bangsa Iblis yang tidak mengakui Adam (sebagai mahluk yang lebih berilmu dan mendapat delegasi dari Allah saat itu) dengan tidak mau tunduk kepadanya sambil mengatakan; “Aku lebih baik darinya!” (QS Shaad 76).

Saudaraku, bila apa yang kami sampaikan ini ada benarnya, itu semata-mata dari Allah SWT, Dzat agung penguasa alam raya sejati. Kami berlindung kepada Allah dari segala sifat riya’, ujub dan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan. Semoga kita selalu mendapat petunjuk-Nya. “Kalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret – kedalam kesesatan/neraka” (QS As Shaffaat: 57).
Semoga bermanfaat!
Wassalam,

 

sumber: disarikan dari https://adhipermana.wordpress.com/2008/05/03/muhasabah-kita/

Pemaknaan Jumbuhing Kawulo Gusti

Jumbuhing Kawulo Gusti: Jalan Menuju Ingsun Sejati dan Urip Sejati
Penulis: AN Ubaedy
30-09-2009

Jumbuhing Kawulo Gusti
Nilai-nilai spiritual Jawa mengajarkan kita agar selalu membangun hubungan yang harmonis dengan Sang Gusti atau Tuhan atau biasa disebut dengan istilah jumbuhing kawulo Gusti. Jumbuh itu hubungan yang baik atau hormonis. Kata “ing” di situ bisa kita pahami seperti kata “ing” dalam bahasa Inggris yang kerap berfungsi menjadi Gerund, seperti dalam kata look menjadi looking, search menjadi searching, dan seterusnya, atau Masdar dalam bahasa Arab.
Lalu siapa itu kawulo? Menurut nilai-nilai spiritual Jawa, kawulo itu kita semua. Semua orang adalah kawulo atau hamba. Tugas kawulo adalah menjalankan apa yang diperintahkan Gustinya. Meski manusia itu diposisikan sebagai kawulo, tapi pengertian kawulo di sini bukan kawulo yang manut asal manut secara pasrah-kalah atau pasif-lemah, seperti layaknya kawulo pada manusia.
Pengertian kawulo dalam ajaran spiritual Jawa adalah hamba yang menyadari tugas utamanya, potensi yang ada di dalam dirinya, atau peranan yang harus dijalaninya. Ini bisa kita lihat dari pesan-pesan fundamental dalam pewayangan. Secara umum, pewayangan mengajarkan tiga hal kepada kawulo:
Pertama, kawulo perlu menyadari bahwa di dunia ini ada kebaikan dan keburukan, kejahatan dan kesalehan, kesalahan dan kebenaran, energi positif dan energi negatif, dan seterusnya.
Kedua, tugas kawulo adalah memilih atau tepatnya memperjuangkan yang positif, yang baik, yang saleh dan melawan yang tidak baik, yang menyimpang, atau melawan energi negatif. Kawulo punya tugas berjuang, bukan menunggu nasib atau pasrah pada keadaan atau terlalu memberi toleransi pada keburukan.
Ketiga, memberikan bukti sejarah atau fakta-fakta realitas bahwa siapa yang memperjuangkan kebaikan, kebenaran, kemaslahatan itu akhirnya pasti mendapatkan kemenangan, meski di tengah-tengahnya, sering mengalami kekalahan oleh kekuatan jahat. Kita disuruh mencontoh Pendawo atau Satria dan dilarang mencontoh kehidupan Kurowo dan kroninya.
Jadi, kawulo di situ adalah pejuang gagasan, ide, nilai-nilai, atau prinsip sebagai bukti keharmonisan hubungan. Sedangkan untuk istilah Gusti, masyarakat Jawa tempo dulu menggunakannya untuk menyebut orang atau Dzat yang tinggi atau Yang Maha Tinggi. Karena itu, untuk menyebut Tuhan, disebutnya Gusti Allah. Sedangkan untuk pembesar masyarakat, seperti raja disebutnya gusti. Bahkan sampai sekarang, putra kyai di Jawa masih dipanggil gus, seperti Gus Dur, Gus Mus, dan seterusnya, entah itu singkatan dari den bagus atau gusti (orang yang punya derajat tinggi).
Terlepas apapun pengertiannya, tapi dari sini bisa kita lihat bahwa masyarakat Jawa tempo dulu sudah mengalami transformasi spiritual yang cukup dahsyat, sama seperti bangsa-bangsa besar lain di dunia, seperti Yunani, Mesir, dan lain-lain, yang membuat mereka punya basis yang kuat untuk berkesimpulan bahwa di jagat raya ini ada kekuatan agung yang disebutnya Gusti atau Tuhan.
Karena itu, menurut nilai-nilai spiritual Jawa, orang yang masih mempertanyakan keberadaan Tuhan di abad milinium ini dianggapnya sangat ketinggalan zaman, yang disebabkan oleh ketertinggalannya membaca ayat-ayat (tanda-tanda) alam atau dianggap sebagai orang yang spiritualnya tidak mengalami developing.

Ingsun Sejati Sebagai Proses
Memahami seperti apa itu Ingsun Sejati memang rumit. Ini tidak hanya di nilai-nilai spiritual Jawa. Di kajian Psikologi atau HRD (Human Resource Development) sekali pun, penjelasan mengenai diri (ingsun) sejati (real / truth) itu tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata yang ada. Cuma, baik di Jawa atau di ilmu pengetahuan modern, menjadi Ingsun Sejati itu bukan hasil, melainkan proses yang terus menerus perlu diperjuangkan oleh kawulo.
Dari perspektif spiritual, bisa disimpulkan bahwa menjadi Ingsun Sejati itu baru bisa diraih apabila kita sudah selalu menjalankan kesadaran untuk berperan di berbagai bidang yang tujuan dan caranya adalah kebaikan, kebenaran, atau kemaslahatan, baik itu untuk diri sendiri dan orang lain, karena kita menyadari itulah perintah Gusti kepada kita dan itulah alasan kenapa Gusti itu memberikan sekian anugerah dan nikmat kepada kita.
Kalau kita lihat di kajian ilmu pengetahuan modern, sebagian besar esensi dari Ingsun Sejati itu sama, kecuali pada tujuan akhir dan pada penjelasan yang lebih konkret untuk cara berpikir yang dianut orang sekarang. Di kajian ilmu pengetahuan, Gusti tidak dinyatakan sebagai tujuan akhir dari proses penggalian karena (mungkin) dinilai masuk wilayah pribadi. Esensi Ingsun Sejati kalau merujuk pada kondisi modern saat ini, bisa kita lihat dari beberapa indikatornya seperti berikut ini, antara lain :
1)      Eling lan waspada: eling maksudnya yakni tidak akan kehilangan persepsi obyektif dan rasional terhadap dirinya dan ingsun sejati punya pemahaman, dan punya penerimaan yang akurat terhadap dirinya. Tanda-tandanya adalah tidak minder dan tidak berlebihan; tidak rendah-diri dan tidak pula tinggi hati; tidak inferior dan tidak superior.
Eling lan waspada juga mencakup kemampuan berkesadaran terhadap munculnya berbagai emosi dan rasa yang muncul, disertai dengan kemampuan mengolah roso-nya. Tanda-tandanya adalah punya kemampuan dalam menangani persoalan dengan proporsional, punya kendali diri yang pas, tidak kurang tidak lebih, tidak berlebihan menanggapi kesenangan atau kesedihan, tetap bisa fokus pada hal-hal positif di tengah kekacauan atau kemapanan, tidak menjadi sombong dan lupa diri (dumeh)
2)      Unggah ungguh: punya kemampuan beretika yang tinggi di dalam menjalankan kehidupannya, mampu mengekspresikan perasaan dan keinginan, rasa – karsa secara konstruktif dan efektif. Tanda-tandanya adalah mampu memikirkan dan memilih sikap dan ungkapan yang bagus dalam berkomunikasi atau mengkomonikasikan sesuatu kepada orang lain, mampu memilih tindakan dengan memikirkan konsekuensinya pada orang lain di luar dirinya atau keluarganya.
3)      Sumarah, sumeleh dan sumrambah: ketiga elemen ini jika di satukan secara umum digambarkan seperti punya kematangan dan keberlimpahan emosi, bahagia pada dirinya (contentment) atau punya kemandirian mental, kesabaran yang benar, tidak mudah tertusuk perasaannya oleh orang lain, tidak mudah merasa merana, rasional dalam menyelesaikan persoalan, tidak mudah terbuai oleh hal-hal yang menipu, serta mampu merantasi hidup yang penuh tantangan dan persoalan. Deskripsi ini sebenarnya masih belum cukup untuk menggambarkan ketiga elemen tersebut.
4)      Aktualisasi diri : punya tujuan yang terus direalisasikan dengan mengembangkan potensi. Tandanya antara lain: memiliki langkah hidup yang dinamis, punya kemauan belajar, berani bereksperimentasi ide-ide baru, tetap memiliki perhitungan, membutuhkan orang lain namun tidak mengandalkan mereka.
Atau dengan kata lain, orang yang belum menemukan Ingsun Sejati-nya akan kurang bisa berperan sesuai dengan dirinya dan lingkungannya karena terhalangi oleh penilaian yang me-minder-kan dirinya atau penilaian yang meng-over-kan dirinya sehingga menjadi sombong atau berlebihan. Itulah kenapa, menurut penulis buku Healing The Child Within, Dr. Charles L. Whitfield, M.D (1989), kalau kita ingin tahu the real self kita, lihatlah anak-anak kecil yang terbebas dari rasa minder dan over ketika bereksplorasi atau mengembangkan diri (free to grow, to develop, dst).
Menuju Urip Sejati
Definisi Urip (Hidup) Sejati tidak tunggal dan tidak bisa ditunggalkan juga. Kalau mau pakai yang pasti benarnya, Urip Sejati itu adanya nanti setelah kita meninggal dunia atau di negeri akhirat dimana ruang untuk memilih dan memperjuangkan sudah tidak dibuka. Tapi, untuk konteks hidup di dunia ini, pengertian Urip Sejati itu yang benar memang tidak pernah ada titiknya, karena dunia sendiri itu ruang untuk berproses.
Jika dikembalikan pada nilai-nilai spiritual Jawa, Urip Sejati itu baru akan terwujud saat kita sudah sanggup menjalani hidup di alam Kasunyatan di dunia ini. Kasunyatan sendiri artinya the true reality yang merupakan esensi dari diri kita dan dunia ini. Seperti kita tahu, baik kita dan dunia ini mengandung realitas yang materi (beserta simbolnya, seperti uang, pekerjaan, dst) dan realitas non-materi (beserta representasinya, seperti nilai, prinsip, Tuhan, dst).
Begitu kita sudah mulai belajar (berproses) untuk menjalani hidup berdasarkan realitas materi dan non-materi, maka kita sudah berada pada jalur hidup yang menuju Urip Sejati. Kalau niat kita kerja hanya untuk mencari materi saja, itu belum Urip Sejati. Sama juga kalau kita mengabaikan materi dengan lari ke gunung. Yang Sejati adalah materi dan non-materi dengan menempatkan diri kita sebagai kawulo bagi Tuhan dan penguasa bagi diri sendiri atau ber-topo (tapa).
Dari sini bisa dipahami bahwa alam Kasunyatan sendiri tak bertepi atau lebih tepatnya bisa disebut ruang hampa yang menawarkan kesempatan berproses tak terbatas, sesuai kemampaun dan keterbatasan kita masing-masing. Biasanya, padanan dari Kasunyatan adalah Kadonyan, yang diambil dari kata donyo atau duniawi. Duniawi sendiri, kalau merujuk ke asal katanya dari bahasa Arab, adalah pendek, rendah, atau dekat. Orang yang hanya berkonsentrasi untuk urusan duniawi semata disebutnya orang yang berjiwa pendek, memperjuangkan sesuatu yang tidak mulia atau hanya berpikir untuk sesuatu yang nyata-nyata saja (dekat).
Nah, paham hidup duniawi ini menjadi lawan dari paham hidup keimanan (kasunyatan). Karena itu, dalam agama dikatakan bahwa syarat untuk menjadi orang yang bertakwa adalah mengimani yang tidak nyata (the invisible), seperti nilai-nilai, prinsip hidup yang sudah pasti benarnya menurut siapapun, Tuhan, dan lain-lain. Bertakwa adalah bahasa lain dari Jumbuhing Kawulo Gusti.
Semoga bermanfaat.

Sumber : http://terrajawa.net/ dikutip dari http://ilmutiten.blogspot.com/2010/06/jumbuhing-kawulo-gusti-jalan-menuju.html