Posts Tagged ‘jibril’

Renungan: Mengenali Allah lewat Rasul-Nya

Bismillaahi-r Rahmaani-r Rahiim,

[QS al-Hujurat 49:7] wa’lamuu anna fiikum rasuulallaahi.. (Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu –ditengah-tengah kamu- ada Rasulullah..)

[QS Ali Imran 3:101] wakayfa takfuruuna wa-antum tutlaa ‘alaykum aayaatu allaahi wafiikum rasuuluhu..  (Bagaimanakah kamu sampai menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?..)

[QS at-Taubah 9:128] laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum.. (Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri -dari dirimu sendiri-,..)

Saudaraku, semoga keselamatan dan berkah selalu terlimpah atasmu, Wahai Saudaraku, sesungguhnya kitalah yang berkehendak kepada Allah SWT (QS Faathir 15). Oleh karenanya, sudah sewajibnya kita harus benar-benar mengenal Tuhan kita, yang mempunyai asma Allah, yang ghaib tetapi wajib wujudnya dan harus kita kenali sebenar-benarnya.

Allah adalah nama dari Dzat yang wajib wujudnya tersebut. Dzat yang maha kuasa, maha mengetahui dan Yang dhahir dan Yang bathin serta distinct (unik – tunggal).  Nama saja, tidak memiliki manfaat maupun mudharat apapun. Nama Tuhan, pada kurun waktu perguliran zaman bisa dan mungkin berubah, tetapi Dzatnya tetap satu. Yang wajib kita sembah, ingat dan kita mohon perlindungan dariNya adalah kepada Dzat yang memiliki nama Allah (QS Thaa-Haa 14) yang dekat dengan kita dan keberadaanNya adalah nyata (QS Qaaf 16). Dia-lah yang harus selalu kita ingat dan “lihat” setiap kita Sholat dan berdzikir sejalan dengan keluar masuknya nafas dari pagi hingga petang, baik dalam posisi duduk, berdiri, maupun berbaring (tanpa mengurangi aktifitas kita sebagai makhluq sosial).

Kebanyakan dari kita — mohon maaf — seringkali merasa puas dengan pengetahuan yang kita miliki (QS Yunus 7,8 ) dan terlalu cepat menduga-duga hal yang sangat mutlak keberadaan-Nya ini dengan santainya (QS Saba’ 52, 53). Padahal Tuhan adalah asal dan tempat kembali kita semua (QS Faathir 18 ) sehingga sangatlah celaka bila kita tidak mengenal tempat kembali kita sendiri (QS Al Isra’ 72), karena mati yang selamat adalah berhasil kembalinya Roh dan Rasa ke hadhirat Allah SWT (perlu diingat jasad akan kembali ke tanah). Mungkin gugatan keyakinan ini dianggap aneh, mengada-ada dan terlalu mempermasalahkan hal yang tidak substansial, tetapi demi Dzat yang memelihara alam semesta, kita harus berani bertanya pada kita sendiri; sudahkah kita betul-betul mengenal Tuhan kita, sehingga berada pada jalan yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan do’a kita (dalam Al-Fathihah) yang selalu kita baca setiap rekaat dalam Sholat?

Sudahkah kita benar-benar mengenal Rabb kita yang kewajiban akan mengenalnya lebih utama daripada Sholat itu sendiri? Apakah kita hanya terjebak didalam keyakinan tradisi yang  kebetulan melingkupi lingkungan kita? Karena pada dasarnya Sholat itu untuk mengingat Allah (QS Thaa-Haa 14). Rasa kita harus tertambatkan pada Allah. Permasalahannya, rasa kita selama ini terdominasi oleh gembira, sedih, kecewa, marah, bangga, iri, cemas, dan sejuta rasa keduniawian lainnya. Lalu, dimana letak kekhusyu’an kita? Sedangkan tradisi yang turun temurun tidak menjamin hakekat kebenaran (QS As Shaffaat 69,70) dan Islam pada mulanya asing dan akan dirasa asing pula pada suatu saat karena berbeda dengan tradisi biasanya (Hadits Nabi).

Saudaraku, syahadat yang kita ucapkan bukanlah kalimat formalitas yang hanya untuk dihafal, melainkan kalimat agung yang penuh makna dan harus kita fahami secara sadar. Bagaimana kita dapat mengaku menyaksikan bahwa tiada sesembahan selain Allah, sedang kita tidak mengenal Dzat yang memiliki asma Allah? Bagaimana kita bisa menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah sedang Nabi telah meninggalkan kita berabad-abad lamanya? Saudaraku, sesungguhnya sebelum kita terlahir kedunia, secara sendiri-sendiri dan oleh Tuhan sendiri, kita telah dipersaksikan secara sadar bahwa Allah-lah Tuhan kita. Akankah kita mengingkari dan tidak ingin menyadari persaksian itu?

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke hadhirat Tuhanmu dengan damai. Untuk mengenal dan menuju kepada-Nya, tentulah ada jalannya. Untuk melatih dan mendekatkan diri kepadaNya pun ada caranya. Intinya adalah pengesaan murni kepada Allah. Mengingat dari zaman ke zaman, dari masa ke masa tantangan umat berbeda-beda, maka penekanan tatacara riyadhah pun dapat berbeda, serta diberikan pula tiap umat tersebut aturan dan cara-cara yang jelas (QS Al Maidah 48 dan Al Hajj 57). Tetapi memang, hal ini terasa sangat asing (QS Shaad 7). Pertanyaan-pertanyaan tentang mungkinkah terdapat utusan Allah saat ini? Bukankah Muhammad adalah masa lalu? Bukankah pemikiran semacam ini justru menyeret kita kedalam perdebatan tanpa henti dan kontra produktif? – sangat mungkin bermunculan.

Saudaraku, semoga petunjuk dan ridho Allah terlimpah atas kita semua. Yang penting kita bersama-sama meluruskan niat untuk ma’rifat billah atau mengenal Allah dengan sebenarnya. Untuk menggapai hidayah Ilahi, kita perlu bersama-sama introspeksi dan membuka hati kita dan open minded akan kebenaran yang boleh jadi agak asing bagi kita. Seperti halnya proses pencarian Tuhan oleh Ibrahim dan kegelisahan Muhammad sebelum menerima wahyu. Jangan sampai karena keangkuhan kita, informasi keberadaan kebenaran dan pemberi peringatan ditengah kita itu justru menjauhkan kita dari kebenaran karena prasangka dan antipati terhadap kondisi yang sebenarnya telah menjadi sunnatullah ini (QS Faathir 42).

Saudaraku, Allah tidak mungkin kita lihat dengan mata jasad, karena keberadaan Allah memang tidak seperti keberadaan makhluq-Nya. Tetapi Allah wajib wujudnya dan dapat kita kenali dengan mata hati. Bahkan ketika ditanya oleh seseorang apakah Imam ‘Ali pernah melihat Tuhan, maka Beliau menjawab; “Mana mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak aku lihat!” Dan benarlah ketika Nabi Musa pingsan ketika Allah memperlihatkan diri, karena puncak pertemuan dengan Tuhan adalah kematian, dan Nabi Muhammad pernah mengisyaratkan kepada kita untuk; “Muttu Qabla ‘Anta Al- Muttu” (belajarlah “mati” sebelum kamu mati). Saudaraku, kita, bahkan tidak bisa mengedipkan mata dan menggerakkan niat dalam hati tanpa kekuatan Allah. Tiada kekuatan dan daya upaya keculi dengan Allah. Hanya Dialah Dzat yang patut kita takuti, karena sesungguhnya alam semesta ini berada dalam genggamannya. Masihkah kita tidak ingin mengenal Tuhan kita? Mengenal-Nya tidak cukup hanya dengan mengenal nama-nama-Nya, mengerti sifat-sifat-Nya, tetapi harus sampai “masuk” kedalam-Nya dan menghadirkan-Nya sampai yakin (QS Al Hijr 99).

Keghaiban Allah (sehingga Allah disebut Al-Ghaib) bukan menjadi penghalang bagi hambaNya untuk mengenaliNya. Karena Allah tidak menyosokkan diriNya dalam dimensi manusia atau mahluk yang lain (karena ini tidak mungkin), maka dipilihlah seorang manusia dari golongan mereka sendiri sebagai perantara dan wakil Allah di bumi. Hal ini berlangsung terus menerus karena pengetahuan akan Tuhan sejati bukanlah monopoli umat-umat terdahulu, tetapi sampai akhir zaman (QS Al Anbiya 7 dan An Nahl 43). Nabi Muhammad, sebagai seorang nabi, masih memerlukan Jibril sebagai perantara untuk mengenali-Nya. Terlebih lagi kita, sangatlah sombong bila kita sudah merasa mengenali-Nya hanya berdasar dugaan subyektif kita belaka (QS Al Maidah 35) tanpa adanya upaya untuk menanyakan kepada ahlinya, sebagai konsekuensi kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan manusia. Jangan pula kita diserupakan dengan Iblis karena ia enggan beroleh ilmu dari dan memandang sebelah mata terhadap Adam.

Semoga kita bukan umat-umat yang akan atau sedang mendapat azab dari Allah SWT lantaran kita  mendustakan utusan-utusan-Nya yang berada ditengah-tengah kita, sebagaimana umat-umat terdahulu dilumatkan dan diazab karena selalu memperolok dan mendustakan Rasul-rasul-Nya, dan semoga kita bukan pula tergolong bangsa Iblis yang tidak mengakui Adam (sebagai mahluk yang lebih berilmu dan mendapat delegasi dari Allah saat itu) dengan tidak mau tunduk kepadanya sambil mengatakan; “Aku lebih baik darinya!” (QS Shaad 76).

Saudaraku, bila apa yang kami sampaikan ini ada benarnya, itu semata-mata dari Allah SWT, Dzat agung penguasa alam raya sejati. Kami berlindung kepada Allah dari segala sifat riya’, ujub dan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan. Semoga kita selalu mendapat petunjuk-Nya. “Kalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret – kedalam kesesatan/neraka” (QS As Shaffaat: 57).
Semoga bermanfaat!
Wassalam,

 

sumber: disarikan dari https://adhipermana.wordpress.com/2008/05/03/muhasabah-kita/

Shalat: Rahasia Mi’raj-nya Orang Mukmin

PANGERAN NAN RUPAWAN YANG DI UNDANG KE ARSYILLAH

by Habib Rais Ridjaly on Sunday, February 13, 2011 at 3:09pm

“Kalau tidak karena Engkau (Muhammad)…., kalau tidak karena Engkau, maka tiada AKU jadikan alam semesta ini, karena AKU maka KU jadikan Engkau, dan karena Engkau maka AKU jadikan semua yang ada” Hadits Qudsi

 

Di malam yang begitu mulia, sang kekasih yang maskulin (Allah), telah mengundang kekasihnya yang feminin (Muhammad) untuk mengunjungi-Nya di tempat-Nya. sebelumnya tidak ada seorangpun yang telah di panggil kehadlirat-Nya, tentulah lantaran terkasihnya sang kekasih-Nya ini, maka terjadilah suatu prosesi perjalanan yg begitu asyikqdan ma’syuq, karena yang merindui sedang melarikan yang dirindui dengan kemauan-Nya menuju tempat-Nya yang sangat sepi dari seluruh intaian mata yang jalang.

 

Datanglah sang utusan dengan gagahnya (Jibril as), menyampaikan amanah dari sang kekasih yang maskulin (Allah), bahwa Engkau (Muhammad) harus diperjalanakan menuju rumah keabadiannya, karena IA sedang menanti dengan kerinduan-Nya yang teramat sangat.

 

Muhammad memahaminya dengan kerinduan yang membara pula, maka sang Jibril as menyiapkan kendaraan cahaya yang bernama Buraq, yang mana kendaraan yang sama pernah digunakan oleh nabi Ibrahim as, bersama Jibril as, yang waktu itu bernama Namusalakhin. keduanya mengendarai cahaya itu dengan kecepatan-Nya.  dimalam yang begitu mesra (isra), keduanya melalui maqam2 kemulian, mulai dari tempat sujud yang suci (masjidil haram) sampai ketempat sujud yang jauh (masjidil aqsha).

 

Saat pangeran Muhammad serta Tuan Jibril as, hendak menanjak, batu yang menjadi ikatan tali kendaraan cahaya itupun ingin turut serta, lantaran ia memahami kalau perjalanan tersebut adalah perjalanan yang akan membebaskan umat dari kebelengguan yang menghinakan, karena sang batu tidak memiliki martabat manusia pil;ihan saat itu, maka ia diperintahkan tinggal pada tempatnya.

 

melalui pintu langit pertama sampai ketujuh, maka pada pelataran langit yang ketujuh itu, dimana nabi Ibrahim as, sebagai pimpinannya, memerintahkan kepada empat Autath (wali Allah) untuk mengangkat dunia dari empat penjuru. setelah terangkat dunia tersebut, maka tersingkaplah wilayah yang disebut Sidratul Munthahah , dalam lakon, sang Jibril as, gentar. ia menghendaki sang Pangeran mulia yang melangkah seorang diri kedalam pintu yang menganga. saat itu sang Pangeran Muhammad mengatakan : wahai Jibril…, bagaimana mungkin engkau harus meninggalkan aku sendiri memasuki pintu kekasih ini, sedangkan engkau telah membawaku sejauh ini. maka tanpa berkata apa2, sang Jibril menggeserkan Pangeran Mulia tersebut kearah dalam pintu, dan sekecap pintupun tertutup, sementara Pangeran nan rupawan Muhammad SAW hanya menemukan dirinya sendirian berdiri di ujung sidratul munthahah. dimanakah sang Jibril as, waktu itu, apakah ia menanti diluar pintu…? jawabannya “Tidak…! “. menurut pemahaman ilmu keshufian, bahwa dengan cekatan sang Jibril meliwati pintu belakang dan kemudian menggantikan baju utusan dengan baju sang pengutus, yang kemudian memasuki wilayah cinta kasih dan duduk menanti kekasih-Nya sendiri (‘araftu rabbi bi rabbi..).

 

dari sidratul munthahah, ada perintah kepada pangeran mulia : “maju kedepan….”, saat sayidina Muhammad maju, maka sampailah sang pangeran pada Ghabagausain, kemudian meliwati Arafraf, lalu Musthawa, dan sampailah pada Arsyillah. keadaan saat itu sepi…, seakan arasy tiada bertuan, oleh sang pangeran mulia, terlihat sebuah pintu tertutup dari cahaya 70 puluh lapis, yang mana pada lembaran cahaya itu tertulis kalimat “Dzul jalaali wal ikram” artinya “Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan“, tulisan itu dengan cahaya merah yang sangat agung.

 

beberapa saat sang pangeran feminin menanti sang maskulinnya. lantaran kemuliaan sang maskulin terkasih (Allah), membuat sang feminin (Muhammad) membuka sapaannya :

Sang Pangeran Muhammad : Attahiyyatul mubarakaatush shalawaatuth thayyibaatuh lillaah

Suara Terkasih Allah            : Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyu warahmatullaahi wabarakaatuh

Para malaikat                       : Assalaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadika shaalihin

 

maka mendadak pintu gerbang kemuliaan raja yang maha agungpun terbuka, muncullah wajah yang bercahaya bagaikan berjuta matahari tanpa menyakitkan pandangan sang pangeran mulia, maka berkatalah ia :

 

Sang Pangeran Muhammad : Asyhadu anlaa ilaaha ilallah

Wajah terkasih Allah            : Wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah

Sang Pangeran Muhammad : Anta syamsun yaa Allah (Engkaulah matahari-ku wahai Allah)

Wajah Terkasih Allah           : Anta badrun yaa Muhammad (engkaulah purnama-KU wahai Muhammad)

Wajah Terkasih Allah           : Anta nuuru yaa Muhammad (engkau cahaya-KU wahai Muhammad)

Sang Pangeran Muhammad : Fauqa nuuru yaa Allah (Engkau cahaya diatas-ku wahai Allah)

Wajah terkasih Allah            : Anta iqsyi ruaghaaliy ya Muhammad (engkau sesuatu-KU yang sangat berkilauan)

Sang Pangeran Muhammad : Anta mishbah hushuduuri (Engkaulah pelita di dalam dada-ku wahai Allah)

 

Wajah terkasih Allah dengan seketika dan segera memeluk dan mendekap Sang Pangeran Muhammad dengan Muhit-Nya sebagai tanda rasa kerinduan yang sangat mendalam, maka dalam dekapan itu terpancarlah Gahhar-Nya Allah ta’ala yang berupa shalat 50 waktu kedalam diri sang pangeran Muhammad yang sangat luhur.

 

lantaran pertimbangan nabi Musa as, maka shalat 50 waktu tersebut kini telah menjadi 5 waktu. pada semua dasar perhitungan, berarti telah terkurang 45 waktu. jika pemahamannya demikian, maka itulah tanda kekeliruan di dalam memahami ilmu keluhuran pada rana cinta dan kerinduan yang membara.

 

sesungguhnya yang terkurang adalah ” titik ” dari angka lima puluh tersebut, karena dalam angka arab, yg disebut 50 itu adalah ( O. = lima puluh). titik tersebut difahami di dalam keilmuan hakikat dan ma’rifatullah, adalah disebut ” ‘ainul bashirah ” artinya ” mata yang melihat “. itulah titik ” Ba ” pada tulisan Bismillahi rahmani rahiimi.

 

titik ” Ba ” tersebut memiliki hikayat bersama sunan kalijaga, yang tentunya kita semua sudah pernah mendengarnya.

 

pertanyaan : Dimanakah ‘ainul bashirah itu…….?

 

salam

 

Habib Rais Ridjaly bin Hasjim Bin Thahir

sumber: http://www.facebook.com/notes/habib-rais-ridjaly/pangeran-nan-rupawan-yang-di-undang-ke-arsyillah/10150093151188691