Kisah 2 Korea dan 2 Jerman

Dongeng Dua Korea

Jaman dahulu kala kira-kira abad ke 10 masehi, di sebuah semenanjung yang menempel Asia di timur Cina, ada sebuah kerajaan yang bernama Goryeo. Lidah orang sering keseleo akhirnya nama ini menjadi Korea. Orang-orang di kerajaan ini bermata sipit seperti orang Cina dan Jepang. Berkulit kuning. Dan mereka suka makan kimchi. Orang-orang disana mempunyai seni bela-diri yang bernama taekwondo yang berbeda dengan kungfu dari Cina atau karate dari Jepang. Yang menjadi ciri dari seni bela-diri taekwondo adalah penggunaan kaki yang sangat ekstensif. Semenanjung ini juga mengalami jaman kekejaman pendudukan Jepang tahun 1910.

Sejarah menjadi bercabang ketika perang dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang. Dalam kesepakatan sekutu, Uni Soviet akan melucuti tentara Jepang yang berada di utara garis 38 derajat lintang utara, dan Amerika Serikat akan melucuti tentara Jepang yang berada di selatannya. Kemudian wilayah semenanjung Korea di utara garis 38 derajat lintang utara ini di sebut Korea Utara dan di sebelah selatannya di sebut Korea Selatan. Walaupun keduanya terpisah oleh garis imaginer yang disebut 38 derajat lintang utara, masyarakat di kedua daerah ini tetap sama; matanya sipit, kulitnya kuning dan suka makan kimchi.

Dari interaksi dengan Uni Soviet, para politikus di Korea Utara melihat contoh-contoh dari Uni Soviet yang bisa adopsi untuk negrinya. Politikus Korea Utara dengan bantuan rekannya dari Uni Soviet menjanjikan bahwa pemerintah akan mengurus semua urusan mereka, rakyatnya dari mulai menyediakan lapangan pekerjaan, perawatan kesehatan, perlindungan, bahan pangan, pendek kata menyediakan kemakmuran bagi mereka. Mereka, katanya menyukai berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, tidak perlu negara lain seperti Sukarno di Indonesia. Nama negara itu resminya Republik Demokrasi Rakyat Korea. Untuk menunjang peran dan tujuan negara maka dibentuklah birokrasi yang makin lama makin besar, sangat besar. Pemimpinnya bernama Kim Il-sung. Semula jabatannya adalah perdana menteri yang dimulai dari awal pendirian Korea Utara, tahun 1948, kemudian menjadi presiden tahun 1972 sampai sekarang dan mungkin sampai negara ini bubar. Kim Il-sung meninggal tahun 1994. Jadi sekarang Korea Utara mempunyai presiden yang mati. Membingungkan bukan? Kok ada negara dengan jabatan presiden mati.

Setelah kematian Kim Il-sung, anaknya Kim Jong-il menjadi pemimpin di Korea Utara sebagai kepala komisi pertahanan Korea Utara, bukan sebagai presiden.

Di seberang garis demarkasi 38 derajat lintang utara, yang di sebut Korea Selatan rakyatnya lebih suka bebas dan tidak tergantung pada pemerintah. Mereka lebih suka berusaha sendiri, lapangan kerja tidak perlu disediakan pemerintah, kesejahteraan adalah usaha sendiri. Pendek kata, peran pemerintah tidak banyak. Besarnya birokrasi pemerintahnya jauh lebih kecil dari pada rekannya Korea Utara. Dalam hal kebebasan berusaha, Korea Selatan menempati peringkat 30 (tahun 2009), tepat di bawah Belgia yang masuk kategori negara bebas. Dalam hal kebebasan, Korea Selatan dari tahun-ke tahun menjadi semakin bebas. Sebagai perbandingan, Indonesia masuk pada peringkat 114 untuk tahun 2009.

Memperbandingkan dua Korea ini untuk menilai dampak campur tangan pemerintah di dalam tata kehidupan negara sangat relevan. Sebelum pemisahan keduanya di tahun 1948, kedua Korea ini mempunyai sejarah yang sama. Orang-orangnya sama, sukunya sama, mata mereka sama-sama sipit, bahasa mereka juga sama, kulitnya juga kuning, makanan mereka sama. Bahkan dulu, bau mereka mungkin juga sama. Nah setelah enam dekade, nampak perbedaan yang sangat menyolok.

Pertama GDP/PPP per kapita Korea Utara tidak beranjak dari posisi tahun 1948 sedangkan Korea Selatan sudah melesat hampir 25 kali lipat (lihat Grafik V- 11).

Grafik GDP di atas bisa bercerita banyak. Rakyat Korea Selatan, dengan kemakmuran yang meningkat 25 kali lipat diukur dengan GDP, secara fisik akan membuat kontras dibandingkan dengan tetangganya, rakyat Korea Utara, misalnya tinggi badan, harapan hidup (umur) rata-rata, kesehatan dan lain sebagainya. Tinggi rata-rata pemuda Korea Selatan tahun 2005 – 2010 menurut banyak statistik adalah 174 cm. Sedangkan rekannya di Korea Utara hanya 165 cm. Menurut catatan statistik tahun 2010[1], harapan hidup rakyat Korea Utara adalah 63.8 tahun dan ini adalah 1,5 dekade lebih pendek dari padan saudaranya di Korea Selatan yang harapan hidupnya (umur rata-ratanya) 78.7 tahun. (Orang malas dibenci Tuhan cepat mati?)

Perbandingan GDP Korea Utara dan Korea Selatan

Grafik V- 11 GDP Korea Utara dan Korea Selatan

Kebebasan berkreasi dan berusaha membuat rakyat Korea Selatan mampu melahirkan produsen barang konsumsi berkwalitas seperti Hyundai dan KIA untuk mobil, dan di bidang produk elektronika dikenal Samsung dan LG. Pemerintah tidak akan mampu melahirkan barang-barang konsumsi yang bagus dengan harga bersaing. Barang konsumsi bukan satu-satunya produk Korea Selatan. Untuk industri dan mesin-mesin juga mereka ciptakan. Bagaimana dengan Korea Utara? Birokrat hanya mampu menciptakan kelaparan dan mesin perang yang tidak ada kaitannya dengan kemakmuran.

Kisah dua Korea ini bukan satu-satunya contoh yang bisa dijadikan pelajaran bahwa perencanaan terpusat dan campur tangan pemerintah yang terlalu banyak justru menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat. Di abad ini masih ada beberapa kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Kisah dua Jerman, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.

Sampai tahun 1945 kedua Jerman ini masih bersatu. Mereka melewati perang dunia I dan II bersama. Bersama juga di bawah pimpinan Hitler. Mereka sama-sama berbadan tinggi besar dan suka minum bir dan menyukai wurst. Dan kalau memaki, kata yang sering digunakan juga sama yaitu “scheiße”. Kemudian mereka ini berpisah di tahun 1945 sampai tahun 1990. Jerman Barat rakyatnya bebas menentukan nasibnya sendiri dan Jerman Timur dengan pemerintahan/birokrasi sebagai pusat segala kegiatan untuk mencapai kemakmuran. Perkembangan selanjutnya tidak banyak berbeda dengan kisah dua Korea. Di Jerman Barat mobil-mobil berkwalitas dan berkelas diproduksi seperti Porche, Mercedes Benz, BMW, dan VW. Dan di Jerman Timur hanya ada Trabant yang sama sekali tidak terkenal, dengan mesin dua-langkah yang berasap (mencemari udara) dan selama 30 tahun hanya diproduksi 3 juta unit. Jerman Barat melahirkan nama-nama terkenal di bidang industri, seperti Siemens, BASF, Bayer, Hoechst, Allianz dan lain sebagainya. Industri Jerman Timur bagaimana? Nyaris tak terdengar. Tidak seperti Korea, rakyat Jerman Timur menyadari sistem dimana peran pemerintah dalam kehidupannya terlalu banyak tidak akan menciptakan kemakmuran. Pada tahun 1990 ada kesempatan untuk mendepak para politikusnya dan kemudian bergabung dengan Jerman Barat setelah 4,5 dekade berpisah.

Kalau mau menelusuri lebih lanjut, masih ada lagi kisah-kisah yang lain yang relevan untuk mempelajari hubungan antara peran pemerintah dan laju pertumbuhan kemakmuran masyarakat. Kisah 4 Cina misalnya. Ada Cina Komunis, Cina Taiwan, Hongkong dan Singapura. Kaitan antara peran pemerintah dan laju pertumbuhan kemakmuran negara-negara ini antara tahun 1945 – 1985 nampak bedanya.


[1] WORLD HEALTH RANKINGS (http://www.worldlifeexpectancy.com)

sumber: EOWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: