Shalat: Rahasia Mi’raj-nya Orang Mukmin

PANGERAN NAN RUPAWAN YANG DI UNDANG KE ARSYILLAH

by Habib Rais Ridjaly on Sunday, February 13, 2011 at 3:09pm

“Kalau tidak karena Engkau (Muhammad)…., kalau tidak karena Engkau, maka tiada AKU jadikan alam semesta ini, karena AKU maka KU jadikan Engkau, dan karena Engkau maka AKU jadikan semua yang ada” Hadits Qudsi

 

Di malam yang begitu mulia, sang kekasih yang maskulin (Allah), telah mengundang kekasihnya yang feminin (Muhammad) untuk mengunjungi-Nya di tempat-Nya. sebelumnya tidak ada seorangpun yang telah di panggil kehadlirat-Nya, tentulah lantaran terkasihnya sang kekasih-Nya ini, maka terjadilah suatu prosesi perjalanan yg begitu asyikqdan ma’syuq, karena yang merindui sedang melarikan yang dirindui dengan kemauan-Nya menuju tempat-Nya yang sangat sepi dari seluruh intaian mata yang jalang.

 

Datanglah sang utusan dengan gagahnya (Jibril as), menyampaikan amanah dari sang kekasih yang maskulin (Allah), bahwa Engkau (Muhammad) harus diperjalanakan menuju rumah keabadiannya, karena IA sedang menanti dengan kerinduan-Nya yang teramat sangat.

 

Muhammad memahaminya dengan kerinduan yang membara pula, maka sang Jibril as menyiapkan kendaraan cahaya yang bernama Buraq, yang mana kendaraan yang sama pernah digunakan oleh nabi Ibrahim as, bersama Jibril as, yang waktu itu bernama Namusalakhin. keduanya mengendarai cahaya itu dengan kecepatan-Nya.  dimalam yang begitu mesra (isra), keduanya melalui maqam2 kemulian, mulai dari tempat sujud yang suci (masjidil haram) sampai ketempat sujud yang jauh (masjidil aqsha).

 

Saat pangeran Muhammad serta Tuan Jibril as, hendak menanjak, batu yang menjadi ikatan tali kendaraan cahaya itupun ingin turut serta, lantaran ia memahami kalau perjalanan tersebut adalah perjalanan yang akan membebaskan umat dari kebelengguan yang menghinakan, karena sang batu tidak memiliki martabat manusia pil;ihan saat itu, maka ia diperintahkan tinggal pada tempatnya.

 

melalui pintu langit pertama sampai ketujuh, maka pada pelataran langit yang ketujuh itu, dimana nabi Ibrahim as, sebagai pimpinannya, memerintahkan kepada empat Autath (wali Allah) untuk mengangkat dunia dari empat penjuru. setelah terangkat dunia tersebut, maka tersingkaplah wilayah yang disebut Sidratul Munthahah , dalam lakon, sang Jibril as, gentar. ia menghendaki sang Pangeran mulia yang melangkah seorang diri kedalam pintu yang menganga. saat itu sang Pangeran Muhammad mengatakan : wahai Jibril…, bagaimana mungkin engkau harus meninggalkan aku sendiri memasuki pintu kekasih ini, sedangkan engkau telah membawaku sejauh ini. maka tanpa berkata apa2, sang Jibril menggeserkan Pangeran Mulia tersebut kearah dalam pintu, dan sekecap pintupun tertutup, sementara Pangeran nan rupawan Muhammad SAW hanya menemukan dirinya sendirian berdiri di ujung sidratul munthahah. dimanakah sang Jibril as, waktu itu, apakah ia menanti diluar pintu…? jawabannya “Tidak…! “. menurut pemahaman ilmu keshufian, bahwa dengan cekatan sang Jibril meliwati pintu belakang dan kemudian menggantikan baju utusan dengan baju sang pengutus, yang kemudian memasuki wilayah cinta kasih dan duduk menanti kekasih-Nya sendiri (‘araftu rabbi bi rabbi..).

 

dari sidratul munthahah, ada perintah kepada pangeran mulia : “maju kedepan….”, saat sayidina Muhammad maju, maka sampailah sang pangeran pada Ghabagausain, kemudian meliwati Arafraf, lalu Musthawa, dan sampailah pada Arsyillah. keadaan saat itu sepi…, seakan arasy tiada bertuan, oleh sang pangeran mulia, terlihat sebuah pintu tertutup dari cahaya 70 puluh lapis, yang mana pada lembaran cahaya itu tertulis kalimat “Dzul jalaali wal ikram” artinya “Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan“, tulisan itu dengan cahaya merah yang sangat agung.

 

beberapa saat sang pangeran feminin menanti sang maskulinnya. lantaran kemuliaan sang maskulin terkasih (Allah), membuat sang feminin (Muhammad) membuka sapaannya :

Sang Pangeran Muhammad : Attahiyyatul mubarakaatush shalawaatuth thayyibaatuh lillaah

Suara Terkasih Allah            : Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyu warahmatullaahi wabarakaatuh

Para malaikat                       : Assalaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadika shaalihin

 

maka mendadak pintu gerbang kemuliaan raja yang maha agungpun terbuka, muncullah wajah yang bercahaya bagaikan berjuta matahari tanpa menyakitkan pandangan sang pangeran mulia, maka berkatalah ia :

 

Sang Pangeran Muhammad : Asyhadu anlaa ilaaha ilallah

Wajah terkasih Allah            : Wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah

Sang Pangeran Muhammad : Anta syamsun yaa Allah (Engkaulah matahari-ku wahai Allah)

Wajah Terkasih Allah           : Anta badrun yaa Muhammad (engkaulah purnama-KU wahai Muhammad)

Wajah Terkasih Allah           : Anta nuuru yaa Muhammad (engkau cahaya-KU wahai Muhammad)

Sang Pangeran Muhammad : Fauqa nuuru yaa Allah (Engkau cahaya diatas-ku wahai Allah)

Wajah terkasih Allah            : Anta iqsyi ruaghaaliy ya Muhammad (engkau sesuatu-KU yang sangat berkilauan)

Sang Pangeran Muhammad : Anta mishbah hushuduuri (Engkaulah pelita di dalam dada-ku wahai Allah)

 

Wajah terkasih Allah dengan seketika dan segera memeluk dan mendekap Sang Pangeran Muhammad dengan Muhit-Nya sebagai tanda rasa kerinduan yang sangat mendalam, maka dalam dekapan itu terpancarlah Gahhar-Nya Allah ta’ala yang berupa shalat 50 waktu kedalam diri sang pangeran Muhammad yang sangat luhur.

 

lantaran pertimbangan nabi Musa as, maka shalat 50 waktu tersebut kini telah menjadi 5 waktu. pada semua dasar perhitungan, berarti telah terkurang 45 waktu. jika pemahamannya demikian, maka itulah tanda kekeliruan di dalam memahami ilmu keluhuran pada rana cinta dan kerinduan yang membara.

 

sesungguhnya yang terkurang adalah ” titik ” dari angka lima puluh tersebut, karena dalam angka arab, yg disebut 50 itu adalah ( O. = lima puluh). titik tersebut difahami di dalam keilmuan hakikat dan ma’rifatullah, adalah disebut ” ‘ainul bashirah ” artinya ” mata yang melihat “. itulah titik ” Ba ” pada tulisan Bismillahi rahmani rahiimi.

 

titik ” Ba ” tersebut memiliki hikayat bersama sunan kalijaga, yang tentunya kita semua sudah pernah mendengarnya.

 

pertanyaan : Dimanakah ‘ainul bashirah itu…….?

 

salam

 

Habib Rais Ridjaly bin Hasjim Bin Thahir

sumber: http://www.facebook.com/notes/habib-rais-ridjaly/pangeran-nan-rupawan-yang-di-undang-ke-arsyillah/10150093151188691

4 responses to this post.

  1. Posted by hardin budia a on January 31, 2013 at 12:03 am

    subhananllah. . .
    sudah lama saya ingin mengkaji ilmu, dan ingin hidup ini tak sia-sia,.. penjelasan habib dapat saya cerna . . pemahaman habib dulu kala pernah di pakai oleh petua terdahulu suku kami di buton. . yaitu biasa di kenal dgn nama H.PADA. . . beliau sangat di kenal dgn ilmu pengetahuannya tentang ilmu allah. . . sampai suatu saat beliau pernnah sholat di atas rumput alang-alang…

    Reply

  2. Posted by Sudjatmika on January 31, 2012 at 12:24 pm

    Assalamualaikum wr. wb.
    Saya ingin menanyakan tentang hadits ini. dimanakah bisa saya temukan mengenai hadits qudsi ini

    “Kalau tidak karena Engkau (Muhammad)…., kalau tidak karena Engkau, maka tiada AKU jadikan alam semesta ini, karena AKU maka KU jadikan Engkau, dan karena Engkau maka AKU jadikan semua yang ada” Hadits Qudsi

    Atas dibalasnya komen ini saya ucapkan terima kasih
    Wassalam

    Reply

  3. sirullah itu berada diluar dzikir, diluar rasa rilex, diluar daripada sirr-Nya dan DIA diluar segala sesuatu dari yg pernah tersangkakan oleh manusia, karena DIA nyata senyata-nyata-Nya, seluruh terminologi td…k dapat menjelaskan-Nya, kecuali penyaksian tanpa arah, karena tahapan2 pencapaian kearah Tuhan itu, adalah “hanya” merupakan suatu cara sampai jika menemukan-Nya, baru cara tersebut adalah tepat, walaupun sebagian orang memahaminya bahwa cara tersebut “tidak benar”.

    banyak orang mencari ilmu untuk kemudian berilmu, lalu dengan ilmu itu dia ingin menemukan yang punya ilmu, tapi untuk katagori ilmu yang tepat itu adalah terlebih dahulu mencari pemilik ilmu, kemudian mendapatakan ilmu daripada-Nya untuk melakukan proses degradasi kedalam nilai hamba.

    cara demikian ini adalah suatu cara terberani bagi seseorang untuk mengambil langkah turun kedalam nilai hamba sementara ia berada di dalam kesadaran keilahian, dan kesadaran ini hanyalah dimiliki semata-mata oleh sayidina yang mulia sang pangeran yang rupawan Muhammad SAW yang merupakan sang Mursyidnya mursyid.

    Musa alaihi salam tersungkur dalam ekstase dan pingsan sesaat menyaksikan satu sifat dari sifat-Nya, banyak orang mengatakan bahwa inilah model pencapaian dalam fana dan merupakan jenis pencapaian tertinggi. tapi bagi pangeran nan rupawan sayidina Muhammad SAW, walau telah menyaksikan hakikat daripada hakikat-Nya, beliau masih tetap bisa berdiri tegak sambil tersenyum dihadlirat-Nya…, subhanallah….

    jadi DIA adalah nyata, sehinga disuatu pagi yang cerah, sayidina Muhammad menyaksikan kekasihnya (Allah) dengan mata bashirahnya, lalu sayidina Muhammad bertanya : “siapa Engkau..?, maka IA menjawab : ” kau…”, hal itulah yang membuat tuan pangeran tersenyum, yang dengan senyumannya itu, sang purna menjadi malam terbit dengan cahaya malam lima belas itu.

    saksikan DIA tanpa hijab, karena DIA lebih hampir kepadamu melebihi dekatnya semua hijab…..

    Saat sayyidina Muhammad kembali dari mi’raj, sahabat2nya bertanya :
    ” wahai Muhammad, apakah engkau bertemu dengan Allah..?” , jawab nabi : ” ya bertemu”, bagaimanakah wajah-Nya kata sahabat nabi, kemudian kata nabi : ” apakah belum cukup kalian melihat wajahku, sehingga masih menuntut wajah kekasihku (Allah )…., maka sahabat semuany…a terdiam.
    Pertanyaan : Kenapa mereka terdiam ??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: