Haqiqat Rahasia Haji

SEJARAH HAJI DAN YANG BERHAK

by Habib Rais Ridjaly on Monday, February 28, 2011 at 3:31pm

labaeka allaahumma labaeka, labaeka laa syariika laka labaeka

ini adalah teriakan kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya, walau sebagian orang mengartikan bahwa “kami telah datang ya Allah….”

dalam artian kerinduan, maka artinya demikian ini :

“Labaek”  dapat dipilah menjadi dua kata, yaitu Lab = Lub, artinya “hati” , sedangkan “ka” adalah engkau, yang dalam hal ini oleh orang2 awam dilambangkan dengan “Allah” , sehingga kata “labaeka” adalah “Hati-Mu” , maka untuk kalimat yang saya awali diatas memberi artian : “hati-Mu duhai yang aku condongi hati-Mu.., hati-Mu jangan duakan hati-Mu….

Hakikat sepasang kekasih adalah Allah dan Rasul, atau Adam dan Hawa, atau Suami dan istri, itulah bingkai kasih dan mengasihi, dengan demikian tidak ada yang disebut kekasih adalah bersendirian diri, itulah makna  HAJI yang sesungguhnya.

Mari kita telusuri sejarah haji, dari mana sampai kemana..?

Saat Adam dan Hawa diturunkan dari Sorga, mereka terpisahkan selama 80 tahun, Adam diturunkan di daerah Sailan (Sailon sekarang), dan Hawa di turunkan di Jeddah, setelah sekian lama terpisahkan, maka Adam rindu untuk berjumpa dengan Hawa, menurut alqur’an Adam mengirim berita lewat angin kepada Hawa (istrinya), istilah sekarang “sms”, kemudian Hawa membalasnya dengan mengatakan : “Saya istrimu berada di Jeddah”, maka tanpa hitungan kedua, Adam langsung berlari dari Sailon melalui pulau Siranbad dan sampailah di Jeddah, sesaat Hawa mendengar bunyi langkah tapak kaki Adam, ia mengetahui bahwa itulah langkah tapak kaki suaminya (Adam as) walau sudah berpisah 80 tahun lamanya, lain halnya dengan ibu2 sekarang, suami baru pergi beberapa jam saja, saat pulang kelewat malam dan mengetok pintu rumahnya, maka sang istri dan anak2nya ketakutan menyangka gedoran tersebut adalah orang jahat, itu tandanya ibu2 sekarang tidak mengenal isi suaminya sebagaimana Hawa mengenal Adam sebagai suaminya.

saat Adam alaihi salam tiba di Jeddah, maka masa kejar2an segera dimulai yang dipicu oleh rasa rindu yang membakar jiwa dan ruh mereka berdua, itulah tanda yang disebut “miqat” pemasang ihram tanda haji dimulai.

maka berlarilah Hawa yang sedeang dikejar oleh Adam as sebagai suaminya. bukannya Hawa sedang menghindari Adam suaminya, melainkan dengan cara itu Hawa menunjukkan kemanjaannya kepada suaminya Adam as.

kejar2an ini sampailah di Mekkah, yang kala itu merupakan padang pasir yang berbukit, yang dikenal dengan sebutan bukit Farran. diantara selangkangan bukit itu ada gundukan batu dimana diatasnya ada sebuah batu yang disebut Hajar Aswad. menurut hadits qudsi : bahwa Para malaikat itu bertawaf di arsy-Nya, setelah bertambah banyak malaikatnya bertawaf, maka Allah pindahkan tempat tawaf para malaikat ke Baitul Ma’mur, tapi saat sudah penuh juga, maka Allah pindahkan tempat tawaf itu kebumi dengan mengambil sebuah batu dari sorga dan meletakkannya dio bumi Makkah yang penuh barakat dan kemuliaan. kata hadits nabi SAW : Hajar Aswad adalah kanan Allah di Bumi, saat diturunkan dari Sorga, ia putih bagaikan siusu, tapi orang2 musyriklkah yang telah membuat batu itu menjadi hitam.

setalah Hawa tiba di daerah berbatuan itu, maka ia mendapatkan tempat untuk menghindari Adam suaminya dalam canda kemanjaannya, ia pun berlari mengelilingi tumpukan batu yang ada hajar aswad diatasnya, dibelakangnya, Adam sebagai suaminya mengejarnya dengan penuh ghirrah.

saat putaran baru tujuh kali, maka Adam as dapat menjangkau Hawa sebagai istrinya, itulah yang telah disepakati sebagai 7 (tujuh) kali tawaf. saat itu Adam dan Hawa ingin melepaskan kerinduan cinta kasih mereka dengan suatu pemberian dari diri kepada diri (bersenggama), tapi karena banyak malaikat yang bertawaf, maka diputuskan untuk mencari suatu tempat yang lebih sepi berupa bukit, maka mereka berjalan sampai mencapai suatu bukit yang rendah, lalu keduanya naik keatas bukit itu pada hari Kamis sore. setelah matahari terbenam, maka Hawa menyampaikan perasaannya yang tidak tertahankan lagi kepada Adam suaminya : Duhai suamiku, aku rindu dengan suasana sorga, bisakah engkau membawa aku kembali kesan, lalu kata Adam : insyaallah, hanya saja untuk mencapai wilayah sorga harus melalui suatu pintu, yaitu “Pintu Rasa Maut”, bertanyalah Hawa : Bagaimanakah itu, kata Adam : nanti menjelang subuh saya akan ajarkan kepadamu.

Maka tepat pukul 03.00. dini hari jum’at, Adam mengajarkan cara kumpul suami istri kepada Hawa sebagai istrinya, dan rasa nikmat yang dicapai itu menurut Adam as, itu adalah rasa maut yg akan membawamu ke sorga yang diimpikan. setelah itu ternyata Hawa mencapai sorga yang diimpikan tersebut. karena terjadi kasih sayang di bukit tersebut, maka bukit itu dinamakan “Jabal Rahmah”. saat siang tiba, keduanya turun dan bergiling-guling di tanah/pasir pada dataran yang sangat luas, yang kemudian pada hari ini di kenal sebagai “Wukuf di arfah”. perbuatan wukuf ini atau guling badan di pasir/tanah, adalah perbuatan purba dikala selesai berhubungan intim pada makhluk2 Allah. (Pernahkah melihat jika kucing selesai bersenggama, maka mereka berguling-gulingan ditanah, juga pada jenis binatang lainnya. maka manusialah yang menyempurnakan maksudnya. itulah tanda asyik dan ma’syuk semalaman di bukit rahmah tersebut.

sesudah itu keduanya ingin berlibur di Minna, yang saat itu sangatlah indah tiada terkira, maka mereka berdua mempersiapkan diri mereka untuk berjalan menuju Minna, dalam perjalanan mereka mengambil batu2 kecil untuk canda dan tawa nanti saat di minna, kala itu menjelang malam, maka saat2 bermalam itulah yang sekarang dinamakan “Mabid” di muzdhalifah. setelah batunya terkumpul 70 butir, maka setelah subuh mereka berdua berjalan menuju Minna. disana keduanya duduk berhadapan dan saling menceriterakan keterpisahan mereka selama 80 tahun, kemudian perjumpaan mereka, kemudian kejadian di jaba;l rahmah, maka dengan nakalnya, keduanya saling menimpuk atau melempar tanda canda dan manja dalam kerangka kasih sayang. kenyataan tersebut pada sekarang ini dinamakan melontar jumrah dengan ashbabnya antara nabi Ibrahim, nabi Ismail, sitti Hajar dan syaithan. ini adalah bentuk pengalihan ashbab, agar tertutup lagi rahasia yang agung itu dari mata2 jalang yang tdk bertanggung jawab.

setelah tiga hari di Minna, keduanya lapar dan memohon makanan kepada Allah, maka dikirimlah seekor kibas atau domba, dipotonglah dimana untuk dim akan, dan penyembelihan tersebut sekarang ini dinamakan “Qurban” haji di Minna.

kemudian keduanya merencanakan untuk berkejar-kejaran lagi di tumpukan batu yang ada hajar aswad, dikarenakan kerinduan untuk mengulang kasih sayang yang terjadi di jabal rahmah Jum’at dini hari itu. sehingga kalau wukuf itu jatuh pada hari jum’at, maka di katakan haji akbar, karena harinya bertepatan dengan kejadian awal tersebut.

maka turunlah Adam dan Hawa ke Mekkah untuk kejar2an tersebut, maka kejar2an yang direncanakan itu pada sekarang ini dinamakan “Tawaf Ifadlah” yaitu tawaf wajib haji. yang kemudian dilanjutkan dengan sa’i (shafa – marwah), yaitu suatu napak tilas dimana sitti hajar sedang kebingungan mencari-cari air untuk anaknya nabi Ismail, yang kemudian ditemukan sebagai air zamzam, artinya air kumpul yaitu air yang ada karena dikumpul….

oleh karena pekerjaan haji merupakan pekerjaan napak tilas Adam (suami) dan Hawa (istri) yang dijelaskan melalui nabi Ibrahim dan nabi Ismail dan Sitty Hajar, maka sudah tergambar bahwa pekerjaan tersebut adalah pekerjaan suami istri, lagi-lagi pada ka’bah itu ada tergambar Hajar aswad yang berbentuk milik feminin (Hawa) dan Mihzab (pancoran emas sebagai lambang miliknya maskulin (Adam), lalu dimanakah haknya seseorang yang belum menikah untuk mengerjakan haji tersebut. apakah pantas jika anak kita yang belum berkeluarga tapi dia mempertonton kan cara2 berkeluarga di khalayak ramai, sedmentara kain ihram adalah lambang ketelanjangan seorang hamba di hadapan-Nya.

simaklah duhai para pembaca dengan memakai kacamata ilmu yang halus, agar engkau menemukan makna dibalik kalimat2ku ini.

wslm

sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150103457308691&comments

One response to this post.

  1. IA telah mengajarkan semua nama kepada Adam as, walau Muhammad belum terlahir sebagai jasad di Mekkah, memang ia telah bersinar di hadlirat ilahiya sejak Adam masih menjadi tanah lempung, tapi dimanakah ciptaan Allah yang teristimewa seperti kejadian Adam as, sebagaimana pula sayidina pangeran yang mulia, sebagaimana pula sayidina Isa as, masing2 dengan kejadiannya yang unik, walau demikian, perlu disadari bahwa di dalam kerinduan Adam dan Hawa, ada nalar alamiah berupa perasaan yang terbawa melalui nur Muhammad dan nurullah (maskulin dan feminin), dengan itulah mereka melakukan segalanya di dalam keilmuannya Allah swt.

    siapakah yang telah mengajarkan kepada semua hewan cara2 melanjutkan regenerasi mereka, padahal mereka melakukan sepanjang masa, siapakah yang telah mengajarkan kepada kumbang atau kupu2 untuk membantu penyerbukan, siapakah yang telah mengajarkan kepada ikan dilautan ataupun katak untuk berkembang biak dengan segala tata cara hubungan intim mereka, apalagi seorang Adam dan seorang Hawa yang sebagai khalifah yang dijadikan dengan tangan-Nya sendiri, tentulah lebih memahami segala itu dengan kesederhanaannya. afwan

    al hajju ‘aroofah=haji itu mengetahui?!!!
    ibadah haji itu penuh dengan simbol2 yang halus.dan orang yang berhati lembut yang di beri tahu arti simbul tsb

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: