Mengenal Kekurangan Manusia

“Mundus vult decipi, ergo decipiatur”

“Dunia ingin ditipu, mari kita tipu dia”

(kata mutiara Latin)

“Beauty fades, dumb is forever.”

“Keindahan akan memudar, tetapi kedunguan adalah baka/tetap sifatnya”

(Judge Judy, Judith Sheindlin pemeran hakim dalam perkara perdata sumir di televisi Amerika Serikat)

“The fact that a believer is happier than a skeptic is no more to the point than the fact that a drunken man is happier than a sober one.”

“Kenyataan bahwa orang yang mudah percaya lebih bahagia dari pada seseorang yang skeptis sama seperti seorang pemabuk lebih bahagia dari pada orang yang selalu sadar”.

(George Bernard Shaw)

“Skeptics question, cynics assume.”

“Orang yang skeptis akan mempertanyakan, orang sinis akan berasumsi”

(tidak dikenal)

“The difference between genius and stupidity is that genius has limits”.

“Perbedaan antara kecerdasan dan kekonyolan ialah bahwa kecerdasan ada batasnya”

(Albert Einstein)

The beginning of wisdom is found in doubting; by doubting we come to the question, and by seeking we may come upon the truth.

(Pierre Abelard)

—-oo0oo—-



Tidak Suka Kerumitan dan Tidak Kritis

Pada dasarnya manusia tidak suka kerumitan. Konsep yang sederhana akan mudah diterima. Di sekolah dasar dalam pelajaran ilmu alam diajarkan bahwa benda padat, contohnya adalah es, jika dipanaskan akan berubah menjadi cair dalam hal ini air. Kemudian jika air dipanaskan maka akan menguap menjadi fasa gas, dalam hal ini uap air. Proses sebaliknya akan berlaku. Proses ini disebut perubahan fasa (catatan: karena kurikulum sekolah sering berubah, topik perubahan fasa bisa juga diajarkan di sekolah menengah tergantung pada era pendidikan).

Pernahkan ada yang menyangkal konsep ini? Padahal di dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa telur tidak demikian. Siapapun yang ada di sekolah, baik muridnya atau gurunya pasti pernah melihat telur yang kalau masih mentah berfasa cair. Kemudian jika telur mentah yang berfasa cair ini dipanaskan, apakah itu direbus, akan menjadi telur rebus, atau digoreng akan menjadi telur dadar atau mata sapi. Baik telur rebus atau telur mata sapi atau telur dadar adalah benda padat. Dengan kata lain, untuk telur cair (mentah) jika dipanaskan akan menjadi benda padat, bukan gas. Dan telur matang yang padat itu, jika dipanaskan lagi tidak mencair melainkan akan hangus. Silahkan coba kalau tidak percaya.

Pernahkan ada yang protes? Bahkan para guru sekolah dasar atau sekolah menengah tidak pernah ada yang mempertanyakan kesahihan teori perubahan fasa dari ilmu fisika ini. Seakan para guru tidak pernah melihat telur mentah (cair) dimasak dan telur matang (padat) yang hangus karena terlalu lama di atas api. Dan ini berlawanan dengan teori perubahan fasa. Apakah mereka tidak pernah memasak?

Pada pelajaran agama, seorang guru agama mencoba meyakinkan murid mengenai adanya Tuhan dengan suatu pembuktian. Ini dilakukannya dengan analogi. Jika ada kursi, tentunya ada tukang kayu sebagai pembuatnya. Dengan demikian kalau ada alam semesta ini tentunya ada pembuatnya yaitu Tuhan.

Berapa banyak yang kritis dan melontarkan pertanyaan seperti ini kepada pak guru: “Kalau ada Tuhan, tentunya ada penciptaNya. Siapakah Dia?”.

Kebanyakan orang tidak kritis, tetapi enggan mengakuinya. Mungkin termasuk anda juga. Akan tetapi kalau anda tidak setuju dengan pernyataan di atas dan merasa bahwa anda cukup kritis dan tidak naif, anda bisa mengujinya dengan persoalan di bawah ini. Persoalannya sangat mudah dan anda akan dibimbing untuk mendapatkan jawabannya. Soalnya begini:

Hewan biasanya berkembang biak pada masa-masa subur dan dimana makanan berlimpah. Zebra dan kijang gazzel di Afrika melahirkan anak-anaknya di awal musim hujan. Pada masa ini persediaan makanan akan terjamin. Rumput dan dedaunan tersedia secara melimpah. Demikian juga singa, anak-anaknya lahir pada permulaan musim hujan. Alasannya sama dengan zebra dan kijang gazzel, yakni makanan berlimpah di musim hujan – musim subur. Siklus reproduksi hewan seperti singa, zebra dan kijang gazzel ini sudah diatur oleh alam.

Ulat raja, Larvae Danaus Plexippus, hidup di kepulauan Nusantara dan Amerika utara. Mereka termasuk hewan yang beracun dan dihindari pemangsanya. Warnanya belang-belang hitam, kuning dan putih. Yang menarik adalah sub-speciesnya yang hidup di Amerika utara yang mempunyai 4 musim, musim gugur (September – Desember), musim dingin (Januari – Maret), musim semi (Maret – Mei) dan musim panas (Juni – Agustus). Pada musim gugur, dedaunan – makanan utama ulat raja ini, berguguran. Di musim dingin, bersalju, pepohonan banyak yang gundul dan hampir tidak tumbuh. Pada musim semi, dedaunan mulai tumbuh sampai musim panas berakhir. Diketahui bahwa ulat raja menetas dari telurnya setelah 4 hari.

Pertanyaannya: Pada bulan-bulan apa saja ulat raja di Amerika utara bertelur? Pertanyaan yang sederhana bukan? Dan anda pasti bisa menjawabnya.

Kalau anda menjawab bahwa ulat raja bertelur pada bulan Maret – Agustus dengan alasan bahwa periode itu adalah periode subur dan makanan tersedia untuk anak-anak ulat raja, maka anda termasuk orang yang mudah dipengaruhi dan tidak suka kerumitan. Sebab…., ulat raja tidak bertelur. Yang bertelur adalah kupu-kupunya.


Herd Mentality, Mentalitas Ikut Arus

Ayah saya seorang dokter yang pernah membuka praktek dan bersebelahan dengan dokter lain. Dokter lain itu pasiennya banyak sekali, sampai antriannya panjang dan waktu prakteknya diperpanjang sampai malam. Sedangkan warungnya ayah saya sehari hanya ada 1 atau 2 pasien saja. Padahal ayah saya bukan dokter yang bodoh. Dia juga mengajar di salah satu universitas di Jakarta. Murid-muridnya sering datang ke rumah, dan sering ngobrol dengan saya. Mereka bilang bahwa ayah saya termasuk dosen yang paling pintar. Tetapi kenapa warungnya tidak laku?

Di Pejompongan Jakarta ada warung sate Jono yang bertetangga dengan warung sate lain. Warung sate Jono sangat penuh dengan pengunjung sedangkan tetangganya sepi. Apakah anda pernah bertanya kenapa, padahal rasa sate keduanya hampir sama.

Di dekade 70an, rambut gondrong (panjang) bagi para pemuda bermunculan, banyak dan menjamur. Semua band, penyanyi dan artis pria berambut panjang. Mode dandanan waktu itu adalah, kaos T-shirt, celana jean cut-brai dan rambut panjang. Mahasiswa, pelajar, pemuda pengangguran, semuanya berpakaian seperti itu. Kalau anak-anak muda ini ditanya kenapa mereka berambut panjang. Jawab mereka hampir sama: “Mau lain dari yang lain”. Kalau mereka mau lain dari yang lain, seharusnya mereka pakai dasi dan jas, serta berambut pendek. Bukan berkaos T-shirt. Yang mereka lakukan sebenarnya kebalikannya, yaitu: mau sama dengan yang lain.

Ada kecenderungan yang dipunyai manusia untuk terjun mengikuti arus trend massa; seperti layaknya kumpulan ternak, kijang gazzel, zebra, dan hewan mangsa lainnya di Afrika, atau ikan sardin dan ikan mangsa lainnya, ketika dikejar predator pemangsa. Apakah ini hanya sekedar insting untuk menyelamatkan diri dari pemangsa? Anehnya, kumpulan hewan mangsa ketika ujung tombak terdepannya mengarah kedalam jurang dan terjun, maka yang lain pun bisa ikut.

Mungkin itulah yang menyebabkan satu warung sangat penuh dan yang lain kosong, walaupun rasa masakannya sama. Orang cenderung mampir ke warung yang penuh. Orang membeli i-pod, blackberry, berambut gondrong, mengikuti mode, berambut punk seperti duri-duri mencuat, semuanya itu karena latah mengikuti arus. Kecenderungan semacam itu jugalah yang menyebabkan para pejuang kemerdekaan kehilangan akal dengan berbekal bambu runcing menyongsong pasukan Belanda yang bersenjata karaben mitraliyur (senjata mesin ringan) atau mitraliyur 12,7 mm (senjata mesin berat) dan kemudian mengorbankan nyawanya. Disini akal sehat sudah tidak dipakai lagi. Perhitungan untung dan rugi diabaikan.

Sifat semacam inilah yang bisa menjerumuskan massa ke dalam jebakan penipuan massal; apakah penipuan itu bertujuan untuk memperoleh harta ataupun untuk kekuasaan. Sifat ini kita sebut saja herd mentality atau terjun mengikuti arus trend massa. Kombinasi kecenderungan untuk terjun mengikuti arus trend massa, tidak kritis dan benci kerumitan membuat penipuan massal terjadi berulang-ulang sepanjang sejarah. Di masa depanpun akan berulang kembali.

Yang menarik, Quran menyebutkan orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai kumpulan ternak, (Inggris: herd):

“……apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau menggunakan akalnya. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak)”[1]

Jadi, wajar kalau orang-orang yang tidak berpikir dan menggunakan akalnya kemudian ditipu, dijebak dan disembelih seperti kambing atau sapi.

 


[1] Quran, Al-Furqan 44

sumber: EOWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: