Tanpa Inflasi Padahal 1 gr Emas Hanya Untuk 4 kg Cabe

PEMERINTAH TIDAK BISA MENGENDALIKAN HARGA CABE
(dikutip dari EOWI, Ekonomi Orang Waras dan Investasi)
Harga cabe melambung mencapai Rp 100.000 per kg. Artinya 1 gr emas hanya dapat 4 kg cabe. Atau 1 buah cabe sebesar telunjuk harganya Rp 500.

Menurut anak saya yang berumur 9 tahun, dampak harga cabe akan mempengaruhi perekonomian orang Padang, Menado dan Sunda. Dia, sebagai penggemar “itik gulai hijau”, terpaksa harus menahan seleranya dulu. Itik gulai hijau adalah masakan Padang yang bahan pokoknya adalah bebek dan cabe. Untuk 1 kg bebek, diperlukan 2 kg cabe (saya agak melebih-lebihkan). Jadi untuk memasak bebek yang beratnya 2,5 kg biayanya bisa mencapai lebih dari setengah juta rupiah. Dengan kata lain, hanya jutawan yang bisa menikmati itik gulai hijau sekarang ini. Bebeknya 100 ribu dan cabenya Rp 500 ribu. Penjual itik gulai hijau yang terkenal di Bukit Tinggi dan bisa dipesan melalui telepon, Uni Ita, mungkin harus menaikkan harga jualannya berlipat-lipat. Biasanya harga cabe hanya Rp 20 – Rp 30 ribu per kg tergantung lokasi, sekarang mencapai Rp 100 ribu. Alternatif lain, bebeknya diperbanyak dan cabenya dikurangi, karena harga bebek lebih murah dari cabe.

Anehnya, pemerintah masih mengatakan bahwa inflasi di bawah 7%. Mungkin dalam menghitung inflasi tidak dimasukkan harga cabe atau bobotnya kecil sekali. Sehingga angka inflasi tidak mencerminkan harga benda yang menjadi bumbu utama rakyat Minang, Menado dan banyak suku di Indonesia. Menurut kabar, BPS mau menurunkan lagi bobot harga cabe supaya angka inflasi lebih tidak mencerminkan tingkat inflasi yang sebenarnya. Ini yang disebut statistic engineering. Singkatan BPS menjadi Badan Penipuan Statistik. Kata Mark Twain: Ada tipuan, ada tipuan besar dan ada statistik.

Kasihan diriku dan anakku, terpaksa menunda makan itik gulai hijau yang sedap itu. Mungkin bebeknya harus diperbanyak dan cabenya dikurangi sehingga rasa pedas itik gulai hijau yang khas ini hilang.

Dalam kaitannya dengan naiknya harga cabe di pasaran, di kalangan komunitas pengguna Black Berry muncul gossip tentang penyebab kenaikan harga cabe. Ternyata cabe telah digunakan sebagai bahan untuk spa (lihat photo di bawah). Katanya cabe berkhasiat membuat wanita menjadi hot (seksi). Pantas saja harga cabe naik, karena digunakan untuk mandi. Tentu saja hal ini hanyalah kelakar saja.


Mau hot (seksi) seperti Meghna Naidu, mulailah mandi cabe.

MATI KARENA MAKAN TIWUL
Kalau Meghna Naidu mandi cabe. Orang Jepara makan tiwul dari singkong. Berita di Kompas tanggal 3 Januari 2011 berjudul Enam Bersaudara Meninggal Akibat Tiwul mengatakan bahwa ada 6 bersaudara mati kelaparan di Jepara.

Di bawah ini petikan beritanya:

Sedangkan anak nomor lima dan tiga, yakni Saidatul Kusniah (8) dan Faridatul Solihah (15) yang meninggal Senin dini hari dimakamkan pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB. Dia mengakui, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sebagai makanan alternatif sejak dua pekan terakhir, mengingat penghasilannya sebagai penjahit di Semarang kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

“Setiap pekan, penghasilan saya hanya berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000,” ujarnya.

Penghasilan selama sepekan tersebut, kata dia, hanya bertahan selama tiga hingga empat hari saja. “Terkadang, kami hanya bisa membeli beras 10 kilogram dari biasanya bisa membeli hingga 16 kg untuk memenuhi kebutuhan delapan anggota keluarga,” ujarnya.

Di beberapa situs berita ini dikutip dan diplintir sehingga seakan-akan 6 orang anggota keluarga ini mati kelaparan. Padahal mati keracunan.

Terlepas penyebab matinya itu karena keracunan, tetapi hal ini bisa dihindari kalau mereka makan beras. Ketela atau bahan baku tiwul ada yang beracun. Namanya singkong mukibat dan singkong racun. Kalau mengolahannya tidak baik, maka racun sianida yang dikadung singkong ini masih bercokol didalamnya. Jadi penyebab kematian mereka ini secara tidak langsung adalah kemiskinan dan naiknya bahan-bahan pangan. Kami di EOWI ikut prihatin terhadap nasib mereka dan lain-lain yang terkena dampak naiknya harga pangan.

PELAJAR CHINA PROTES MAKANAN
Di Guizhou, pelajar sekolah (bukan pelajar madrasah atau pelajar kuil Shiolin) melakukan protes dengan merusak meja-meja, kursi dan kafetaria mereka. Mereka ini memprotes kenaikan harga makanan di kantin mereka yang terjadi berkali-kali.

Harga bahan pangan, dari mulai buah-buahan lokal, sayuran, beras dan gandum naik drastis dalam beberapa bulan ini di Cina. Jangan tanga harga daging. Pada minggu lalu EOWI menyinggung berita mengenai Carrefour dan Wal Mart dikenai pengontrolan harga oleh pemerintah Cina. Kenaikan harga juga menjalar ke restoran fast food seperti MacDonald dan juga pedagang-pedagang buah, sayur dan kebutuhan dapur ritel. Entah bagaimana tindakan pemerintah Cina untuk mencegah naiknya harga-harga pangan ini. Cina harus bertindak sebelum lonjakan harga pangan menjelma menjadi protes besar seperti yang terjadi di Mozambique, Tunisia dan Aljazair.

PROTES PANGAN MOZAMBIQUE
Di Mozambique, negara Afrika, terjadi protes kenaikan harga pangan. Dikabarkan ada 13 orang mati di dalam huru-hara itu. Kejadian ini terjadi pada bulan September 2010. Ada 146 orang ditahan setelah itu. Setelah itu, tidak banyak kabar mengenai krisis pangan di Mozambique lagi.

PROTES PANGAN DI ALJAZAIR
Kalau di Mozambique dan Cina protes pangan terjadi beberapa bulan lalu, berita yang masih hangat datangnya dari Aljazair. Beritanya dilangsir oleh Aljazeera dengan judulnya, protes kenaikan harga meledak di seluruh Algeria Price protests erupt across Algeria. Sekedar pengetahuan saja, bahwa TV Aljazeera tidak berlokasi di Aljazair melainkan di Dubai. Beritanya juga disiarkan di TV, karena Aljazeera adalah stasiun TV, bukan penerbit koran.

Aksi protes masih berlangsung di Aljazair. TV Aljazeera masih menyiarkannya.

BOLIVIA PROTES HARGA ROTI
Bolivia protes karena harga roti naik. Berita yang dilangsir pada tanggal 5 Januari ini mengatakan bahwa pemerintah Bolivia telah mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM sampai 85%. Kenaikan harga BBM ini merambat ke harga barang lainnya terutama bahan pangan. Akibatnya penjual ritel terpaksa menaikkan juga baang-barang jualannya.

Polisi datang ke toko-toko dan bersitegang dengan para pedagang ritel agar mereka tidak menaikkan harga barang (silahkan lihat video pada link tersebut di atas). Lucu juga. Kalau pemerintah boleh menaikkan harga BBM sampai 85%, tetapi pedagang roti tidak boleh menaikkan harga rotinya. Mungkin maksudnya pemerintah adalah mengalihkan sebagian tanggung jawabnya untuk memakmurkan bangsa ke bahu pedagang. Sayangnya pemerintah Evo Morales juga tidak mengalihkan sebagian kekuasaan politiknya kepada pedagang. Ini yang disebut mau enaknya sendiri. Mungkin akhirnya episode ini merupakan awal dari penyerahan kekuasaan sepenuhnya dari Evo Morales kepada politikus lain. Bukan kepada pedagang-pedagang roti yang dipaksa memikul subsidi roti lho.

TUNISIA PROTES PENGANGGURAN
Setelah Aljazair, Bolivia, Mozambique, Cina, sekarang gilirannya Tunisia. Demonstrasi memprotes tingginya pengangguran dan kenaikan harga-harga telah melanda Tunisia, pada bulan Desember 2010 lalu seperti yang dilangsir oleh TV Aljazeera . Satu orang dikabarkan mati dan beberapa luka-luka. Penyebab demonstrasi ini tidak jelas. Cupikan berita dari Aljazeera di bawah ini akan membuat kita mengerutkan kening.

The cause of the latest violence was not immediately clear but similar clashes
broke out on December 17 in the town of Sidi Bouzid after a man committed
suicide in a protest over unemployment.

A 26-year-old university graduate, Mohammed Bouazizi, had eked out a living peddling fruit and vegetables because he could not find a job.

When police confiscated his produce because he did not have the necessary permit, he doused himself in petrol and set himself alight, the Tunisian League for the Defence of Human Rights said.

Hidup yang sulit membuat Mohammed Bouazizi bunuh diri ketika diganggu polisi. Kemudian masyarakat mengamuk kepada polisi. Begitu ceritanya. Keadaan seperti ini hanya bisa terjadi kalau kondisi emosi dan mood masyarakat betul-betul sudah muak terhadap pemerintah.


Demonstrasi di Tunisia.

SOYLENT GREEN – SOLUSI PANGAN DI TAHUN 2022
Di akhir dekade 1960an sampai pertengahan dekade 1970an, banyak buku bertema tentang lingkungan, wabah, krisis energi dan masalah kekurangan pangan. Buku yang terkenal Population Bomb oleh Paul R. Ehrlich yang bercerita tentang kelaparan dunia akibat ledakan populasi.

Cerita efek rumah kaca, perubahan iklim, kekurangan pangan, wabah bukan cerita baru. Kalau akhir-akhir ini banyak film bertema kiamat dunia, seperti 2012, The Book of Eli, 28 Weeks Later, I Am Legend (1 & 2) di masa lalupun juga ada. Film yang temanya berkaitan dengan kekurangan pangan yang terkenal adalah Soylent Green yang dibintangi oleh Chalton Heston, yang juga membintangi film kelasik Ben Hur.

Kisah Soylent Green berlatar belakang tahun 2022, dimana dunia mengalami effek rumah kaca, serangan gelombang panas yang menghancurkan panen serta pangan dunia. Dunia kapitalisme bebas akhirnya menemukan solusinya yaitu makanan yang disebut soylent green. Soylent Green hanya makan satu-satunya bagi rakyat. Daging dan sayuran segar adalah luxury.

Trailer Soylent Green

Berikut ini adalah cuplikan dari Soylent Green. Beban memorinya agak besar, jadi sering terhenti. Kalau mau menontonnya bisa agak terganggu.
KRISIS PANGAN?
Minggu ini harga bahan komoditi dunia melonjak. Indeks CRB naik di atas level tertinggi sebelumnya di tahun 2008 (Chart-1). Serangannya saat ini lebih banyak ke pangan, bukan energi seperti tahun 2008. Walaupun serangan kali ini lebih banyak ke kelompok pangan, tetapi gelombang protes tidak dilaporkan seheboh tahun 2008. Paling tidak maraknya aksi protes saat ini bisa dijelaskan dengan kenaikan harga bahan pangan yang mencapai rekor baru. Oleh sebab itu beberapa waktu yang lalu, saya mengatakan secara sarkas-sadonik bahwa lebih baik punya kambing dari pada emas.
Chart – 1 

Menurut FAO (badan pangan dunia), krisis keuangan tahun 2007 – 2009 melahirkan kenaikan jumlah manusia yang kekurangan pangan, dari sekitar 850 juta di tahun 2005 – 2007 menjadi 1,03 milyar di tahun 2009. Di tahun 2010 turun kembali menjadi 925 juta. Dan untuk tahun 2011 – 2012 kemungkinan naik di atas 1 milyar kembali. Dan banyak dari penderita “kelaparan” ini berasal dari negara maju dan yang menjadi penyebab adalah krisis ekonomi yang menghantam negara-negara maju. Walaupun penambahan ini banyak berasal dari negara-negara maju, akan tetapi porsi terbesar tetap dipegang oleh Asia Pasifik (Chart – 3) yaitu 62,5 % dari seluruh kelaparan dunia.

Kalau dilihat dari Chart – 2, krisis keuangan tahun 2007 – 2009 membawa tingkat jumlah penduduk kelaparan kembali tahun entah kapan, jauh melewati level tahun 1961. Tahun 1061 hanya ada 875 juta penduduk dunia yang kelaparan. Dan krisis, pada puncaknya menyebabkan di lebih dari 1 milyar penduduk dunia kelaparan.


Chart – 2

Chart – 3Indonesia sendiri mempunyai 13 % dari penduduknya kelaparan (2005-2007), turun dari 15% tahun 2000-2002. Angka 13% ini kemungkinan naik pada periode krisis keuangan global. Bisa jadi kembali pada level 15%. Masa termakmur bagi Indonesia adalah dimasa pra-krismon 1997 yaitu hanya 11%. 

Kalau pembaca tertarik pada statistik kelaparan, bisa browsing di situs-situs http://www.fao.org/hunger/en/ dan http://www.worldhunger.org/

APAKAH AKAN ADA KIAMAT PANGAN?
Pertanyaan yang menarik mengenai krisis pangan yang menyebabkan maraknya gelombang protes dan demonstrasi selama tahun 2008 dan 2011 ini adalah, apakah akhirnya kebudayaan manusia akan hancur karena krisis pangan, seperti yang digambarkan oleh film Soylent Green? Apakah akhirnya manusia harus me-recyle manusia untuk bisa makan?

Dua ratus tahun lalu, Robert Malthus mengeluarkan sebuah teori. Katanya: “kenaikan produksi pangan adalah seperti deret hitung, sedangkan kenaikkan jumlah penduduk adalah seperti deret ukur.” Kesimpulan dari dalil ini adalah bahwa pada suatu masa akan terjadi kekurangan pangan yang dikenal sebagai Malthusian End of the World.

Teori Malthus ini masih diajarkan di sekolah-sekolah di dalam mata pelajaran ekonomi. Selama 210 tahun, teori ini tidak pernah terbukti.

Ide Robert Malthus dimunculkan di jaman modern ini heboh di akhir dekade 1960an oleh Paul Ehrlich. Bukunya yang menjadi best seller adalah The Population Bomb. Pada edisi awal dari buku ini, Paul Ehrlich meramalkan bahwa pada dekade 1970an dan 1980an ratusan juta orang di dunia ini akan mati kelaparan walaupun usaha-usaha untuk mencegahnya sudah dilakukan. Bukunya dimulai dengan pernyataan:

The battle to feed all of humanity is over. In the 1970s and 1980s hundreds of
millions of people will starve to death in spite of any crash programs embarked
upon now. At this late date nothing can prevent a substantial increase in the
world death rate…..

Ramalan Paul Ehrlich sangat jelas dan gamblang. Tahun dekade 1970 dan 1980 akan ada ratusan orang mati kelaparan. Banyak yang terpengaruh. Dimulailah secara gencar program-program yang tujuannya mengerem laju jumlah penduduk. Namanya Family Planning atau Keluarga Berencana. Penerapan program ini di banyak negara dilakukan secara paksa oleh Pemerintah. Di Cina dikenal dengan program 1 anak. Di Singapore, sangat effektif. Juga di Indonesia.

Tetapi apa yang terjadi. Sejak tahun 1969 sampai tahun 2007, jumlah orang kelaparan di dunia terus turun. Jangankan adanya Kiamat Malthus – Mati karena Kelaparan Global. Yang terjadi adalah sebaliknya. Jumlah penduduk dunia yang kelaparan turun (Chart-2). Bahkan kalau diukur dengan persentase (%) populasi dunia, angka penduduk yang kelaparan turun drastis (Chart – 4) dari sekitar 33% tahun 1969 menjadi 16% di tahun (2005 – 2007).

Selama 1 – 1,5 dekade ini, sejak tahun 1995 perbaikan tingkat hidup manusia di bumi ini mulai mendatar. Artinya, usaha-usaha yang dilakukan tidak banyak merubah nasib penghuni dunia golongan yang miskin. Yang tersisa ada di kantong-kantong negara Afrika yang dirusak perang (tidak bersaudara) atau negara sosialis totalitarian seperti Korea Utara (33%), Eriteria (64%), Bolivia (27%), Kongo (69%), Ethiopia (41%), Sudan (22%), Mozambique (38%).

Jadi kesimpulannya kelaparan pangan hanya ada di film fiksi, negara totalitarian, dan negara yang suku-sukunya suka saling berperang.


Chart – 4PENUTUP
Dari teori chaos yang terkenal itu, dapat dikatakan bahwa kepak sayap kupu-kupu di Amazon menyebabkan badai di lautan Pasifik. Saya tidak tahu apakah hal ini relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Pembangunan kota kosong di Cina mengakibatkan demostrasi di Aljazair, Mozambique, Tunisia, penurunan jumlah penderita ambeyen/wasi di Jakarta, berkurangnya bau sengak keringat orang India. 

Kalau diurut-urut bisa ada hubungannya. Cina yang mengucurkan dana stimulus ekonomi sebesar $ 500 milyar dan kredit domestiknya sebesar 15 triliun Yuan, untuk membangun kota-kota kosong di Cina. Akibatnya harga-harga bahan komoditi yang ada kaitannya dengan pembangunan itu, seperti besi, bijih besi, semen, dan sejenisnya. Chart – 5 menunjukkan kenaikan harga bijih besi selama ini. (Pada bulan Desember ini sudah cenderung melemah).


Chart – 5 Harga Bijih BesiWalaupun harga bahan komoditi melonjak naik, tetapi perdagangan internasional tidak terlalu marak, bahkan cenderung turun. Hal ini ditunjukkan oleh Baltic Dry Index yang sudah turun dan mencapai level tahun 2001 (Chart – 6). 


Chart – 6 Baltic Dry Index, level saat ini sama dengan tahun 2001

Dengan kata lain kenaikan harga pangan dan bahan komoditi, lebih banyak disebabkan oleh aksi spekulasi yang masuk di bursa komoditi. Dengan kredit murah, para spekulator (bank) bisa menggunakan leverage yang tinggi untuk berspekulasi. Harga-harga merambat ke komoditi pangan, karena pedagang latah, termasuk cabe di Jakarta dan bawang di India. Karena cabe dan bawang bukanlah bahan pokok, maka konsumen bisa menguranginya. Akibatnya bisa dipostulasikan bahwa kasus ambeyen (wazir) di Jakarta turun karena orang mengurangi makan cabe dan bau badan orang India juga turun karena mereka mengurangi makan bawang.

Kalau di koran-koran mulai banyak yang membicarakan masalah kenaikan harga pangan ini, opini di EOWI mengatakan bahwa kenaikan cabe dan bahan pangan dunia ini sudah mendekati masa-masa terakhirnya. Indeks CRB (Chart – 1) sudah men-test top nya di tahun 2008, kemungkinan membentuk double tops. Huru-hara sudah merebak di beberapa negara, walaupun tidak semarak tahun 2008, juga merupakan indikasi akan berakhirnya rally bahan komoditi. Ini tidak berarti besok atau bulan depan harga bahan komoditi harus turun. Bisa saja aksi demo dan kerusuhan meningkat dulu sampai mencapai intensitas yang sama dengan tahun 2008, baru kemudian harga komoditi turun.

Walaupun harga bahan komoditi nantinya turun, kalau Uni Ita sudah menaikkan harga itik gulai hijaunya atau warung sate PSK sudah menaikkan harga satenya, rasanya mustahil mereka akan diturunkan kembali. Sayang sekali……..,

Sebelum mengakhiri cerita minggu ini saya mau mengutip suatu berita. Terbetik berita-berita (sudah berkali-kali) bahwa Cina akan membeli hutang-hutang pemerintah Portugal, menalangi Portugal supaya jangan tersungkur. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Euro. Bisakah Cina menyelamatkan Euro? Atau yang akan terjadi bukannya Euro selamat, malah hal-hal lain yang tidak diinginkan dan tidak diduga sebelumnya.

Sekian dulu….., selamat berpuasa cabe dulu.

Jakarta 9 Januari 2011

sumber: EOWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: