Supercycle Emas: Rekor Harga Emas Rp 400 ribu /gram

Apakah emas di harga Rp 400 ribu per gram atau $1400 per oz masih murah? Jawabnya “tidak”. Apakah sudah mahal? Jawaban saya adalah “ya sudah mahal”. Patokannya adalah harga kambing. Nilai tukar rata-rata emas-kambing sepanjang sejarah sekitar 3,8 gram emas per ekor kambing. Data ini bisa diperoleh dari hadith nabi Muhammad saw, yang mewakili sejarah masa lampau. Pada masa hari raya Iedul Adha, sangatlah mudah melakukan survey harga kambing di berbagai kawasan di dunia. Dari spot check google, saya memperoleh harga kambing di berbagai kawasan dunia seperti di tabel di bawah ini.

Kalau dilihat harga kambing rata-rata saat ini adalah 2,7 gram emas yang lebih rendah kurang lebih 38% dari harga rata-rata historisnya. Tetapi harga ini tidak bisa disebut bubble. Karena harga bisa berfluktuasi sampai 2 kali lipat. Menurut hadith, ‘Urwa yang disuruh nabi Muhammad membeli kambing dan diberi 1 dinar (kira-kira 3,8 gr emas murni), ternyata bisa membeli 2 ekor, karena keberuntungannya. Bahkan ketika saya mulai menabung emas beberapa tahun lalu, harga emas adalah Rp 100 ribu per gram dan harga kambing masih di level Rp 500 ribu. Dengan kata lain emas lebih murah 30% dari nilai rata-rata historisnya.

Harga Emas Bubble?
Pertanyaan berikutnya: Apakah harga emas ini bubble?

Untuk menjawabnya maka harus didefinisikan arti kata “bubble”. Dan masalah definisi adalah masalah yang sulit, karena “a thing is not sum of its parts”; sesuatu bukan penjumlahan dari bagian-bagiannya. Misalnya, di jaman Yunani kuno pernah ada suatu usaha para filosof untuk mendefinisikan, apa itu manusia? Yang paling nampak dan terciri dari manusia adalah kakinya dua. Ini yang membedakan dengan kambing, anjing, kerbau, sapi dan lain sebagainya. Tetapi untuk mengatakan bahwa manusia adalah “hewan berkaki dua” terbentur pada hewan unggas (ayam dan burung) yang juga memiliki kaki dua. Untuk itu dipikirkan suatu kriteria yang bisa membatasi/membedakan manusia dengan ayam dan burung. Setelah dilihat secara seksama maka perbedaan antara manusia dengan ayam ialah bahwa ayam memiliki bulu (feather) sedang manusia tidak. Maka dibuatlah definisi bahwa “man is an animal without feather”; atau manusia adalah hewan tanpa bulu (feather).

Ada seorang yang agak usil, dia mengambil seekor ayam dan mencabuti bulunya. Kemudian membawa ayam yang malang itu berkeliling sambil mengatakan: “Ini manusia!!”

Itu sekedar penggambaran bagaimana sulitnya membuat definisi. Definisi selalu mempunyai celah.

Kalau mengambil analogi saham, kita bisa mengambil kriteria PER (price earning ratio) sebagai acuan harga. Bubble pernah beberapa kali terjadi di bursa saham US. Sebelum bubblenya meletus, tahun 1929 misalnya PER dari Dow Industrial adalah 32.6. Dan tahun 2000 44.2. Itu untuk indeks Dow. Untuk Indeks Nasdaq, PER pada tahun 2000 adalah 264. Bisa dikatakan bahwa kriteria bubble untuk saham adalah ketika PER mencapai di atas 30. Tidak berarti pada saat mencapai level ini bubble akan meletus. Saham Nasdaq bisa mencapai level 264, sebelum meletus. Sampai sebesar apa bubble bisa tumbuh, tidak ada patokannya.

Sebaliknya saham dikatakan murah jika PER nya mencapai 5 – 6.5. Dan nilai rata-ratanya yang bisa dianggap normal adalah sekitar 10. Dengan kata lain suatu asset dikatakan mengalami bubble pada saat harganya mencapai 3 kali valuasi normalnya.

Kalau kriteria ini diterapkan ke emas, maka harga kambing harus senilai di bawah 1,3 gram emas, untuk menetapkan bahwa emas sudah bubble. Dan sekarang masih di level 2,7 gram emas per ekor kambing, artinya emas masih belum memasuki level bubble.

Supercycle Emas
Emas saat ini baru saja membentur resistance jangka panjangnya (Chart-1). Puncak (peak) harga emas terjadi tahun 1933, ketika F.D. Roosevelt melakukan devaluasi US dollar dari $20 per oz emas ke $35. Kemudian, puncak (peak) berikutnya tahun 1980 bulan Januari, ketika mania di sektor emas dan logam mulia akan berakhir. Harga emas mencapai $ 860 per oz. Kalau kedua “peak” ini dihubungkan maka akan menjadi segaris dengan angka $1421 yang baru saja di capai emas pada tanggal 9 November 2010. Garis ini akan menjadi resistance yang kuat yang sukar ditembus oleh emas.

Chart-1 menunjukkan Supercycle Emas dari tahun 1919 sampai November 2010 dengan pelabelan Elliot Wave nya. Pertanyaannya: Apakah masih ada alternatif lainnya untuk supercycle ini? Karena emas saat ini belum bisa disebut bubble. Kita akan berharap bahwa emas akan mengalami bubble di akhir wave V nya. Dan saat ini harga emas masih belum bisa disebut bubble.

 


Chart 1

 

Di samping itu juga, perak sebagai “adik” dari emas, masih jauh dari harga puncaknya di bulan Januari 1980 yaitu $50 per oz. Perak nyaris menyentuh $30 pada tanggal 9 November 2010. Level ini tepat pada retracement Fibonacci 0.6 nya. Dengan kata lain perak juga masih belum mengalami fasa bullish yang sempurna sehingga mencetak rekor.

Suatu hal yang perlu dipertanyakan bahwa, kenapa yang digunakan adalah skala cartesian bukan semi-log. Banyak analis menggunakan chart cartesian untuk emas dan bahan komoditi. Padahal kalau hendak memperhitungkan inflasi, maka grafik semi-log harus digunakan.

Yang menarik, jika harga emas ini diplot dengan skala semi-log, maka akan terlihat bahwa harga emas bergerak dalam koridor yang dibatasi oleh dua garis sejajar (Chart-2). Wave I dan III menyentuh resistance atas (garis atas) dan wave II dan IV menyentuh support bawahnya. Kita otomatis akan berharap bahwa wave V akan berakhir dengan menyentuh resistance atasnya lagi (garis di atas) di harga $10,000 per oz.


Chart 2

Disamping itu kalau dilihat peak I dan peak III supercycle mempunyai jarak waktu 47 tahun. Dari data ini, seseorang bisa saja mengatakan bahwa harga emas mencapai titik puncak setiap 47an. Dan sekarang masih 31 tahun dari titik puncak sebelumnya (1980). Jadi masih harus menunggu dua sampai tiga dekade lagi.

Perak juga mempunyai pola yang sama. Kalau dihitung dari tahun 1800an, ada semacam siklus (berulangnya) puncak harga setiap 47 – 60 tahun. Jadi mungkin saja peak supercycle harga emas dan perak masih harus menunggu 2 – 3 dekade lagi. Peak emas dan perak yang dicapai saat ini hanyalah peak berkaitan dengan siklus komoditi yang terjadi setiap 30an tahun. Bukan supercycle 50 – 60 tahunan.

Sebenarnya tidak sulit bagi emas untuk mencapai harga $ 10,000 per oz dalam waktu 2 – 3 dekade. Cukup dengan inflasi US dollar rata-rata 8% per tahunnya. Inflasi rupiah saja yang 15% – 17% bisa dicapai dengan mudah. Apa lagi 8%. Jadi….., target itu bukan target yang mustahil. Akhirnya toh semua uang fiat akan mencapai nilai interinsiknya yaitu nol.

Catatan:
Kesimpulan bahwa emas akan mencapai $10,000 per oz dalam waktu 2 – 3 dekade lagi termasuk sangat aggressif, mengingat kondisi US sekarang. Ben Bernanke hanya mentargetkan inflasi 2% saja. Kecuali Ben Bernanke membuat blunder, seperti biasanya dan tidak tahu apa yang dilakukannya, target inflasi itu bukan hanya bisa dicapai, tetapi kebablasan.

Secara ilmiah, kesimpulan dengan cara menarik garis dari dua titik seperti di atas, tidak bisa diterima, kecuali mungkin untuk kalangan ilmu ekonomi, barangkali. Karena ekonomi bukan sain. Alasannya ilmiahnya adalah sebagai berikut. Pertama, hanya ada dua pasang titik untuk menarik dua garis tersebut. Satu garis dibentuk oleh 2 titik yang dihubungkan. Apakah titik berikutnya akan jatuh pada garis tersebut? Tidak ada jaminan. Dengan kata lain, secara ilmiah bisa dikatakan jumlah titik pengamatan tidak mencukupi. Dan secara empiris-ilmiah tidak bisa diterima. Kasus ini sama dengan kasus sari buah merah Papua yang katanya bisa menyembuhkan kanker, menurunkan kholesterol, dll, berdasarkan “testimoni” beberapa pemakainya. Atau kasus mak Erot yang katanya bisa memperpanjang Honda Jazz menjadi Honda Stream. Atau kasus minyak ikan yang katanya bisa mengurangi resiko stroke dan sakit jantung. Atau mengenai ramalan bintang, fengsui. Tidak ada uji klinis yang diakui sahih pernah dilakukan terhadap mak Erot, sari buah merah, minyak ikan omega 3, 5, 6, 9 atau empedu ular sebagai pengobatan/obat. Tidak ada uji lab yang pernah dilakukan untuk ramalan bintang dan fengsui. Tetapi tidak ada yang melarang untuk percaya.

Ilmu ekonomi tidak beda banyak dengan fengsui, ramalan bintang, mak Erot atau sari buah merah. Antara klub Keynesian dan klub Austrian tidak bisa sepakat tentang ekonomi. Ekonomi juga seperti agama dan kepercayaan. Saya percaya bahwa dalam waktu dekat akan terjadi koreksi terhadap harga emas yang cukup dalam. Tetapi dalam jangka panjang akan naik kembali. Bagaimana dengan anda? Terserah.

sumber: http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: