LPG: Perlindungan Konsumen dan Keterbukaan Informasi Publik

Elpiji Kok Dibuat Mainan

Rabu, 29/09/2010 09:02 WIB

Agus Pambagio – detikNews

Jakarta – Beberapa hari yang lalu saya dihubungi seorang teman yang tinggal di daerah perumahan  Bumi Serpong Damai (BSD) yang menemukan kejanggalan dengan tabung elpiji Pertamina isi 12 kg miliknya. Pertama, api tidak sebiru biasanya. Kedua, ketika akan mengganti tabung gas yang sudah kosong, saat mengocok-ngocok terdengar suara gemericik di dalam tabung.

Berdasarkan pengaduan tersebut, selama beberapa hari ini saya berusaha  mencari tahu dengan menghubungi beberapa pihak yang berwenang, seperti pejabat dan Komisaris Pertamina, Menteri ESDM, Menteri Negara BUMN, YLKI, rekan-rekan di beberapa milist dan Blackberry Messenger Group serta berbagai sumber yang memahami persoalan elpiji tabung 12 kg produk Pertamina.

Dari komunikasi saya dengan Komisaris, mereka menyangkal ada perubahan kualitas gas elpiji 12 kg dan meminta saya untuk mengunjungi website Pertamina yang menampilkan program konversi dan meminta saya untuk mendiskusikan dengan bagian Pemasaran & Niaga. Jawaban ini patut diduga menghindar dan tidak nyambung. Lalu saya sms Menteri ESDM dan jawabannya : “Tksh  atas infonya, saya cek”. Itu saja dan sampai tulisan ini saya buat, belum ada perkembangan.

Berhubung saya penasaran, maka saya juga menghubungi salah satu pejabat berwenang di Pertamina yang kebetulan saya kenal dan ternyata beliau mengakui kalau komposisi Butane dan Propane pada elpiji tabung 12 kg diubah. Beliau berjanji untuk menyampaikan masalah ini ke Direksi. Esoknya saya mendapat kabar bahwa Direksi berang setelah persoalan ini diberitakan di detikcom. Kemudian patut diduga ada instruksi agar pejabat Pertamina dilarang menanggapi, kecuali Corporate Secretary.

Dari beberapa komunikasi di atas, saya semakin yakin bahwa komposisi isi tabung gas elpiji untuk keperluan rumah tangga memang diubah. Dari komposisi semula sekitar 60% Propane dan 40% Butane menjadi 60% Butane dan 40% Propane. Komposisi ini patut diduga mulai berubah dan dipasarkan sekitar awal Agutus 2010.

Perkiraan saya, perubahan komposisi ini dimaksudkan untuk mengurangi bahaya ledakan yang diakibatkan oleh gas elpiji ukuran 12 kg dan 3 kg. Pertanyaannya, apakah pengurangan kadar Propane akan mengurangi bencana ledakan elpiji yang sampai hari ini masih terus sahut menyahut diseluruh Indonesia? Rugikah Pertamina/Negara dengan perubahan komposisi tersebut? Rugikah konsumen?

Pertanyaan selanjutnya jika benar diubah komposisinya, mengapa Pertamina tidak menginformasikan ke publik sesuai amanat UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik?

Siapa yang Dirugikan?

Berdasarkan data yang saya kumpulkan dari engineeringtoolbox.com, memang benar semakin tinggi komposisi Butane maka tekanan gas dalam tabung juga semakin rendah. Tekanan Propane akan turun sekitar 1,6 bar jika komposisi Propane diubah dari 60% (6,7 bar pada temperatur 32 derajat C) ke 40% (5,1 bar pada temperatur 32 derajat C). Pertanyaannya berapa daya tahan tabung elpiji 12 Kg?

Sesuai dengan yang tertulis di tabung 12 kg, tabung tersebut didesain sanggup menahan tekanan sampai 31 bar. Jadi meskipun komposisi Propane 60%, tabung masih sanggup menahannya, tidak meledak. Lalu mengapa komposisi harus diubah?

Sumber lain menyatakan bahwa komposisi 50% Propane, tekanan pada suhu 32 derajat C hanya sebesar 104 psi. Sedangkan dengan komposisi Propane 70%,  tekanan pada temperatur 32 derajat C sebesar 134 psi. Sehingga jika di prorata maka dengan komposisi 60% Propane pada temperatur 32 derajat C, tekanannya 119 psi.

Tekanan tersebut masih di bawah yang dipersyaratkan oleh Dirjen Migas melalui Surat Keputusan No. 25K/36/DDJM/1990 tentang Pengaturan Spesifikasi Elpiji yang Beredar di Masyarakat, yaitu 120 psi. Lalu mengapa komposisinya harus diubah kalau masih di bawah tekanan maksimum yang diatur oleh SK Dirjen Migas tersebut? Apa maksud Pertamina melakukan perubahan komposisi?

Melalui perbincangan saya dengan beberapa pakar kimia dan gas di Indonesia, nilai atau kadar kalori Butane memang lebih rendah dibandingkan dengan Propane. Sehingga semakin rendah komposisi Propane maka nyala api akan semakin tidak sempurna, tampak kemerah-merahan, dan panas yang dihasilkan juga berkurang. Akibatnya untuk memasak konsumen memerlukan waktu lebih lama dan pada akhirnya diperlukan elpiji lebih banyak.

Kerugian lain yang akan diterima oleh konsumen adalah dengan dinaikkannya komposisi Butane dari 40% menjadi 60% dan menurunkan Propane dari 60% menjadi hanya 40% akan sering menyisakan gas Butane yang tidak bisa terbakar di dalam tabung. Kondisi ini terjadi karena tekanan Butane lebih rendah dari Propane sehingga gas tidak bisa keluar dari tabung. Sisa Butane dalam tabung diperkirakan masih ada sekitar 10%.

Dengan sisa gas dalam tabung,  jika tabung dikembalikan ke agen dan diisi ulang maka gas baru yang masuk ke dalam tabung hanya 90%. Jelas ini merugikan konsumen, dengan harga tetap sama tetapi gas yang akan terbakar kurang dari 100% atau bahkan kurang dari 90% karena adanya  penumpukan Butane di dalam tabung hasil pengisian sebelumnya. Bayangkan, konsumen membayar untuk harga gas sebanyak 12 kg, namun yang bisa dibakar untuk memasak hanya sekitar 9,5 kg.

Di sisi lain, Pertamina atau Pemerintah mendapatkan keuntungan dengan adanya sisa Butane di dalam tabung. Karena ketika masih ada sisa Butane sekitar 10% dalam tabung dan tabung dikembalikan ke agen, maka agen Pertamina hanya mengisi sekitar 90%-nya saja (sekitar 10,8 kg untuk tabung 12 kg atau 2,7 kg untuk tabung 3 kg). Namun dijual ke konsumen dengan harga full 12 kg. Jadi Pertamina untung 1,2 kg/tabung isi 12 kg atau 0,3 kg/tabung 3 kg. Belum lagi karena rendahnya nilai kalori dari Butane maka konsumen akan memerlukan elpiji lebih banyak. Teganya Pertamina pada konsumennya, jika ini benar-benar terjadi.

Apa yang Harus Dilakukan Konsumen?

Jika semua analisa penulis benar, maka konsumen harus mengantisipasinya dengan baik melalui beberapa tahapan untuk menghindari kerugian permanen. Pertama, pastikan bahwa api di atas kompor menyala biru bukan kemerah-merahan. Kedua, ketika kompor tidak lagi bisa menyala karena gas habis, kocok-kocoklah tabung elpiji yang sudah habis gasnya tersebut. Jika masih ada suara gemericik, artinya masih ada sisa Butane  di dalamnya. Jika ini terjadi segera kembalikan ke agen Pertamina.

Konsumen baik secara individu dan kelompok, sesuai dengan UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dapat melakukan komplain dan gugatan kepada Pertamina karena patut diduga Pertamina melakukan kebohongan publik. Saya berharap gugatan konsumen bisa difasilitasi oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Selain melakukan gugatan langsung ke Pertamina atau Pemerintah,  sesuai dengan UU No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, konsumen dapat melakukan pengaduan ke Komisi Informasi Publik (KIP) agar Komisi ini dapat segera melakukan pemeriksaan kepada Pertamina.

Semoga untuk menjawab tulisan saya ini, Kementrian ESDM atau Pertamina dapat segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agar konsumen tidak kembali dirugikan.

AGUS PAMBAGIO (Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen).

(nrl/nrl)

Sumber: http://us.detiknews.com/read/2010/09/29/090215/1450940/103/elpiji-kok-dibuat-mainanRabu,

KOMPOSISI LPG SESUAI SPESIFIKASI & STANDARD KESELAMATAN

Jakarta, Friday, October 01 2010 (15:00)

Pertamina sangat konsern terhadap spesifikasi dan tingkat keselamatan produk termasuk untuk produk LPG. Berdasarkan spesifikasi LPG yang dikeluarkan Direktorat Jendral Minyak & Gas Bumi No. 26525.K/10/DJM.T/2009, komposisi produk LPG minimal mengandung campuran Propane (C3) & Butane (C4) sebesar 97% dan maximum 2% merupakan campuran Pentane (C5) dan hidrokarbon yang lebih berat. Batasan komposisi Propane (C3) dan Butane (C4) dalam spesifikasi tersebut dibatasi dengan parameter makimum tekanan uap yang ditentukan (145 psi). Komposisi campuran LPG Pertamina yang mengandung 50% Propane dan 50% Butane telah sesuai dengan ketentuan tersebut baik dari aspek komposisi maupun tekanan uapnya yang telah diperhitungkan sesuai kalori/daya bakar yang diperlukan untuk kebutuhan memasak/rumah tangga. Tidak ada sedikitpun maksud Pertamina untuk merugikan konsumen, justru Pertamina sangat memperhitungkan faktor keselamatan konsumen LPG sehingga komposisi tersebut paling optimum untuk kebutuhan rumah tangga.

Komposisi tersebut telah digunakan sejak awal program konversi dan tidak mengalami perubahan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku yang ada mengingat Propane banyak dihasilkan oleh gas yang berasal dari lapangan minyak & gas, sedangkan Butane dihasilkan dari kilang pengolahan minyak. Dari sisi keselamatan, komposisi tersebut merupakan komposisi yang optimum, karena komposisi campuran tersebut dijaga pada level tekanan 120 psi atau 8 bar atau 8 kali tekanan udara luar. Tekanan ini sepertiga dari tekanan kerja yang dirancang untuk valve/katup LPG (yang ada pada bagian atas tabung LPG 12 kg maupun 3 kg) sebesar 24 bar. Selain itu komposisi tersebut juga telah mempertimbangkan keamanan dan kemampuan aksesoris sesuai standar SNI.

Terkait dengan adanya masukan dan beberapa laporan yang kami terima, Pertamina menyampaikan apresiasi dan penghargaan, dan terus melakukan pengecekan di lapangan. Berdasarkan masukan tersebut kami sampaikan bahwa adanya sisa cairan yang diduga Butane (C4) atau Pentane (5) didalam tabung LPG 12 kg, patut diduga bahwa tabung LPG 12 kg tersebut merupakan hasil oplosan atau penyuntikan LPG. Penjelasan teknis tentang hal ini adalah bahwa pada saat dilakukan penyuntikan isi LPG 3 kg ke LPG 12 kg, posisi tabung LPG 12 kg ada di bawah dengan posisi katup ada diatas, dan posisi tabing LPG 3 kg dibalik dengan posisi katup ada dibawah. Dengan demikian campuran fraksi yang lebih berat “Butane (C4) dan Pentane (C5)” yang ada di dalam tabung LPG 3 kg akan cenderung masuk terlebih dahulu kedalan tabung LPG 12 kg dibandingkan fraksi yang lebih ringan “Propane (C3)”. Hal inilah yang mengakibatkan komposisi Butane (C4) dan Pentane (C5) lebih banyak pada tabung LPG 12 hasil penyuntikan. Sehingga ketika dilakukan pengecekan pada tabung LPG 12 kg hasil penyuntikan, dengan cara menggoyang-goyangkan ketika isinya telah habis, terdengar suara gemericik cairan yang diduga Butane (C4) dan Pentane (C5) yang masih tersisa. Hal ini juga mengakibatkan perubahan warna api menjadi agak merah karena tidak tepatnya komposisi antara campuran oksigen dan bahan bakar ketika terjadi pembakaran.

Untuk itu, kami mengharapkan bantuan dan partisipasi masyarakat termasuk rekan-rekan pemerhati kebijakan publik bersama-sama memerangi tindakan pengoplosan LPG karena kegiatan tersebut tidak hanya merugikan masyarakan dan Pertamina sebagai institusi bisnis tetapi juga sangat membahayakan keselamatan kita bersama. Kami berharap masyarakat dapat segera melaporkan kepada Kepolisian terdekat atau melalui contact Pertamina 500.000 apabila dijumpai aktivitas yang mencurigakan terkait LPG.

Written by DIVISI KOMUNIKASI

sumber: http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5870&Itemid=33

2 responses to this post.

  1. Posted by sidik Wiyono on November 26, 2010 at 8:43 pm

    Masukan untuk Pertamina

    Pada Bulan Juni 2010 saya membeli LPG 12 KG satu minggu kemudian di rumah kami bau gas LPG setelah kami cari ternyata las lasan pada kepala tabung LPG Bocor, hal ini ketahuan setelah seluruh botol saya periksa dengan Air sabun.
    Bulan Agustus s/d November 2010 pada awalnya saya menyambung gas LPG 12 kg ke kompor tidak ada masalah, namun 1 minggu kemudian karet seal pada tabung rusak (karet nya leleh) saya yakin kwalitas karet yang dipakai kurang bagus. kejadian ini berlannsung 3 kali dalam 4 bulan konsumsi LPG kami 2 tabung per bulan, sehingga 45% botol dari pertamina karetnya hanya bisa bertahan 1 minggu.
    Jika karetnya meleleh gas LPG nya bocor.
    Inilah Salah satu penyebab kebakaran dan meledaknya Botol LPG,
    Saran :
    Pertamina harus menjaga QC
    Pertamina harus mengetes Karet seal dari pemasok dengan cara karet tersebut direndam dengan LPG minimal 1 Bulan kalau tidak leleh baru dipakai,
    Cara tersebut pernah kami lakukan pada saat saya bekerja di perusahaan perminyakan kami akan membeli karet pelapis tangki yang tahan acid 98%.
    semoga dapat mengurangi kebakaran yg disebabkan oleh Gas LPG.
    terimakasih

    salam,
    Sidik Wiyono
    Bontang -Kalimantan Timur.

    Reply

  2. waahhh dari dulu sampe sekarang emang kayak begini.. gak ada tindakan pemerintah kita yang bertanggung jawab … jangan2 isi dari pemerintah kita jga ikutan MAEN kale yahhh …
    terima kasih mas informasinya ..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: