Nabi Yusuf as: Spekulan Terbesar Sepanjang Sejarah

Minggu lalu saya membaca di internet berita yang membuat heboh Filipina. Judulnya adalah: “Filipina Berenang Beras Busuk, Rakyatnya Kelaparan” (link). Sebenarnya berita ini adalah dari bulan lalu, tetapi menarik untuk diangkat sebagai latar belakang dongeng di EOWI. Cerita ringkasnya adalah mengenai membusuknya 2,2 juta ton beras, yang merupakan 90% dari timbunan persediaan pangan Filipina. Dengan penduduknya yang berjumlah 92 juta jiwa, maka 2,2 juta ton merupakan persediaan pangan untuk 50 hari atau 2 bulan. Kejadian ini mengingatkan cerita tentang nabi Yusuf. Dalam hal timbun menimbun pangan, ukuran yang ada di Filipina ini masih kecil dibandingkan dengan volume (relatif) yang dilakukan oleh nabi Yusuf. Yang ditimbun oleh nabi Yusuf adalah persediaan 7 tahun. Saya perkirakan jumlah yang ditimbun nabi Yusuf kira-kira 50 juta – 70 juta ton. Relatif terhadap penduduk dimasa itu, bisa dikatakan bahwa nabi Yusuf adalah penimbun pangan tersukses dalam sejarah peradaban manusia.

Banyak pembaca EOWI yang merasa risih kalau EOWI mengidentikkan nabi Yusuf sebagai spekulator. Mungkin dalam mind-set banyak orang sudah terpatri bahwa seorang nabi itu jauh dari kaya dan segala macam urusan keduniaan apalagi kegiatan seperti spekulasi dan menjadi penimbun. Seperti nabi Muhammad sering dipersepsikan sebagai seorang yang miskin. Persepsi ini agak kontradiksi dengan catatan sejarah yang mengatakan bahwa nabi melakukan qurban sebanyak 70 ekor onta pada hari iedul Adha, mahar untuk Khadijah (istri pertamanya) adalah 200 ekor onta (paling sedikit senilai Rp 1,6 – 2,0 milyar uang 2010), untuk setiap istrinya yang lain maharnya 2000 dirham (30 juta uang 2010). Tidak hanya itu, warisan beliau bisa menghidupi janda-jandanya yang 13 orang dan anak-anaknya sampai mereka meninggal. Catatan: nabi dan keluarganya tidak boleh menerima zakat atau pensiun. Tidak hanya itu, beliau juga mewariskan tanah Fadak yang terkenal subur kepada anaknya, Fatimah. (Tanah ini kemudian disita oleh khalifah Abu Bakar, tetapi dikembalikan kepada ahli warisnya pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz). Nabi Muhammad tidak miskin seperti dipersepsikan oleh kaum sufi dan yang cenderung menganut sufiisme. Beliau ini pedagang besar yang punya ekspedisi dagang yang besar. Bukan pedagang eceran. Inti yang ingin disampaikan adalah, persepsi yang terpatri dikepala massa, belum tentu cocok dengan catatan sejarah.

Orang sering mengarang-ngarang agama. Untuk suatu issue, bukannya melihat pada sumber asalnya seperti kitab tuntunannya, tetapi manusia cederung untuk mengarang. Enaknya, banyak yang mengikutinya. Contoh yang pernah dibahas di EOWI adalah masalah rohani dan rohaniah di dalam Islam. Kalau melihat Quran, kata tersebut tidak pernah ada padahal kedua kata tersebut adalah kata bahasa Arab. Contoh lain, orang Islam sering menyebut Quran sebagai kitab suci. Ini juga salah. Quran tidak pernah menyebut dirinya sebagai kitab suci (Arab: kitabbul quddus). Silahkan cari di Quran kalau ada. Quran menyebut dirinya sebagai bacaan mulia (Quranul karim), petunjuk (al huda), pembeda (al-fuqan), tetapi tidak ada kitab suci (kitabbul quddus). Dengan kata lain, julukan kitab suci untuk Quran adalah karangan manusia. Demikian juga dengan nabi Yusuf, tidak akan ada yang berani mengatakan bahwa nabi Yusuf adalah seorang spekulan. Sebabnya mungkin karena kata spekulan mempunyai konotasi yang negatif. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Cerita yang panjang tentang nabi Yusuf ada di Quran dan di Perjanjian Lama. Di dalam Quran, ada satu surat yang didedikasikan khusus untuk nabi Yusuf, namanya surat Yusuf. Dan di Perjanjian Lama, kisah mengenai Yusuf ada di buku Genesis bab 41 sampai akhir (bab 50). Kedua sumber ini juga membicarakan kisah nabi Yusuf yang ada kaitannya dengan spekulasi pasar. Kalau anda kaget mengetahui hal ini dan tidak percaya, silahkan cek langsung ke sumbernya setelah anda membaca artikel ini.

Kisah nabi Yusuf kita mulai saja dari ketika ia dibuang oleh kakak-kakaknya ke dalam sumur karena rasa iri kakak-kakaknya terhadap Yusuf yang mendapat perhatian yang lebih dari ayahnya. Tidak berapa lama nabi Yusuf di dalam sumur, ia ditolong oleh karavan yang lewat yang kemudian dijual sebagai budak. Dalam perjalanannya akhirnya nabi Yusuf terdampar di rumah seorang pembesar kerajaan Mesir sebagai pembantu disana. Di Perjanjian Lama disebut Potiphar (dari bahasa Mesir kuno, yang berarti yang kuat, al Aziz). Nabi Yusuf mengalami kesialan, ia difitnah berusaha memperkosa istri Potiphar. Walaupun kemudian tidak ada bukti yang mendukung, demi menjaga nama baik dari segala gunjingan, nabi Yusuf dijebloskan ke dalam penjara.

Di dalam penjara nabi Yusuf berkenalan dengan dua pelayan raja Fir’aun yang dituduh berniat membunuh Fir’aun. Pada suatu hari kedua pelayan raja ini secara terpisah bercerita tentang mimpi mereka dan nabi Yusuf mengartikan bahwa pelayan yang satu akan dihukum mati dan yang lain akan dibebaskan dan memperoleh kembali pekerjaannya. Mengartikan mimpi adalah salah satu bakat nabi Yusuf. Kepada pelayan yang diramalkan akan dibebaskan, nabi Yusuf berpesan agar kasusnya disampaikan kepada Fir’aun. Bahwa di penjara dirinya yang tidak bersalah masih mendekam.

Apa yang diramalkan Nabi Yusuf berdasarkan mimpi kedua pelayan raja itu, ternyata menjadi kenyataan. Yang satu dihukum mati dan yang satunya lagi dibebaskan dan memperoleh kembali pekerjaannya. Untuk sementara nabi Yusuf dilupakan. Sampai pada suatu hari Fir’aun terganggu dengan mimpinya tentang adanya 7 ekor sapi gemuk-gemuk yang kemudian dimakan oleh 7 ekor sapi yang kurus-kurus, dan 7 batang gandum yang subur-subur dimakan oleh 7 batang gandum yang kurus-kurus. Mimpi ini tidak bisa ditakwilkan oleh ahli nujum istana. Pada saat ini pelayan minum Fir’aun yang pernah dipenjara bersama Yusuf, teringat akan temannya yang punya bakat untuk menafsirkan mimpi.

Nabi Yusuf kemudian dipanggil untuk menghadap dan menerangkan arti mimpi Fir’aun. Mengenai arti mimpi itu, nabi Yusuf menerangkan bahwa akan adanya 7 tahun masa subur disusul oleh 7 tahun masa paceklik yang akan melibas semua yang diperoleh selama masa subur. Fir’aun sangat terkesan atas penjelasan Yusuf yang juga menerangkan pentingnya arti pemimbunan bahan pangan selama masa subur untuk menghadapi masa paceklik. Kemudian ia mengangkat Yusuf untuk menempati suatu posisi dalam kaitannya menghadapi krisis mendatang. Yusuf diberi kekuasaan dan dukungan finansial yang besar untuk membangun gudang-gudang pangan. Selama masa subur, nabi Yusuf membangun gudang-gudang pangan dan mengisinya dengan gandum yang dibelinya dari petani.

Tujuh tahun berlalu, gudang-gudang Yusuf penuh dan datanglah kemarau yang ditunggu-tunggu.

Genesis 41,

(56) Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir.

(57) Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi

Genesis 47:

(13) Di seluruh negeri itu tidak ada makanan, sebab kelaparan itu sangat hebat,
sehingga seisi tanah Mesir dan tanah Kanaan lemah lesu karena kelaparan itu.
(14) Maka Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di
tanah Kanaan, yakni uang pembayar gandum yang dibeli mereka; dan Yusuf membawa uang itu ke dalam istana Fir’aun.

(15) Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: “Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di depanmu? Sebab tidak ada lagi uang.”

(16) Jawab Yusuf: “Jika tidak ada lagi uang, berilah ternakmu, maka aku akan memberi makanan kepadamu sebagai ganti ternakmu itu.”

(17) Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu.

(18) Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: “Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami.

(19) Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dengan tanah kami akan menjadi hamba kepada Fir’aun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan jangan mati, dan supaya tanah itu jangan menjadi tandus.”

(20) Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Fir’aun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Fir’aun.

(21) Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain.

(22) Hanya tanah para imam tidak dibelinya, sebab para imam mendapat tunjangan tetap dari Fir’aun, dan mereka hidup dari tunjangan itu; itulah sebabnya mereka tidak menjual tanahnya.

(23) Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: “Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Fir’aun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu.

(24) Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Fir’aun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu.”

(25) Lalu berkatalah
mereka: “Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Fir’aun.”

(26) Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Fir’aun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Fir’aun.

Nabi Yusuf sangat sukses di dalam spekulasi ini. Dikatakan spekulasi karena sumber informasi ini berasal dari Fir’aun bukan dari wahyu yang diberikan kepada nabi Yusuf secara langsung. Mimpi Fir’aun ini bisa saja bunga tidur. Lagi pula methode peramalan nabi Yusuf baru teruji 2 kali. Sehingga, sebagai methode empiris akan sangat beresiko terhadap kegagalan. Banyak faktor yang bisa dikategorikan sebagai resiko dan andaikata nabi Yusuf gagal maka Yusuf akan berhadapan dengan 70 juta ton gandum yang membusuk, persoalan yang besarnya 32 kali yang dihadapi Arroyo. Itu resiko. Salah-salah lehernya bisa dipenggal Fir’aun, kalau mengalami kegagalan. Dikatakan sukses karena, kalau anda membaca potongan cerita dari Perjanjian Lama, buku Genesis, dinyatakan bahwa dengan spekulasi itu nabi Yusuf berhasil:

a. membeli semua ternak di Mesir untuk Fir’aun
b. menguasai tanah di Mesir untuk Fir’aun
c. menjadikan semua warga Mesir menjadi budak Fir’aun

Apa itu bukan sukses? Kalau memang kisah di Perjanjian Baru itu benar, maka nabi Yusuf bisa disebut sebagai spekulator yang sukses.

Tindakan nabi Yusuf tidak didasari oleh keinginan untuk melakukan derma atau “charity”. Sebab pangan yang ditimbunnya tidak dibagikan secara gratis melainkan dijual. Hal ini tidak saja dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, tetapi juga Quran. Pada surah Yusuf 65, yang mencritakan tentang saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir untuk memperoleh bahan makanan, kemudian ayat tersebut mengatakan bahwa uang (barang-barang untuk barter) untuk membeli gandum dikembalikan. Artinya saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk membeli/barter bahan pangan. Artinya Yusuf tidak membagi-bagikan bahan pangan secara gratis kepada masyarakat.

Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran, untuk membeli gandunm) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)”. (Quran 12:65)

 

Quran dan Perjanjian Lama memasukkan episode suatu kisah penimbunan pangan yang kemudian untuk dijual kembali. Tentunya ada hikmah yang akan disampaikan. Kalau tidak ada hikmah yang akan disampaikan maka, akan mudah sekali, Episode ini diloncati dan tidak perlu dicantumkan baik di Quran atau di Perjanjian Lama. Pernahkah anda menanyakan kepada diri sendiri, hikmah apakah yang bisa diambil dari episode ini. Saya tidak punya pilihan lain kecuali menyimpulkan bahwa hikmah pada episode ini adalah untuk menyatakan bahwa spekulasi (menimbun yang kemudian untuk dijual kembali) adalah baik dan dianjurkan.

Anda mungkin tidak setuju dan menganggap EOWI melecehkan moral nabi Yusuf yang menjadikan rakyat Mesir menjadi budak Fir’aun. Anda salah lagi. Nabi Yusuf lebih bermoral dan berprikemanusiaan dibandingkan pemerintah Republik Indonesia. Fir’aun dan nabi Yusuf setelah menguasai tanah-tanah rakyat Mesir, mereka menyuruh rakyatnya menggarap tanah itu dan hanya menarik 20% dari hasil panen. Dengan kata lain, Fir’aun menyediakan tanah dan bibit serta modal untuk bertanam dan sebagai imbalannya hanya 20% dari hasil panen. Dibandingkan dengan pajak penghasilan (PPh 21) yang ditarik pemerintah RI yang mencapai 30% itu, maka tarif yang ditetapkan nabi Yusuf masih lebih rendah. Lagi pula untuk yang 30% itu pemerintah RI tidak memberikan apa-apa sebagai modal atau kemudahan. Jadi jangan bandingkan antara nabi Yusuf dengan pemerintah RI, karena pemerintah RI lebih kejam.

sumber: http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2010/09/nabi-yusuf-spekulan-terbesar-sepanjang.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: