Kisah Cinta di kala SMA . . .

(Joke, biar gak stress)

Hari ini jam 3 siang aku masih melamun di kamar, sambil menahan kesal karena tadi jam 2 Dodi menciumku, sudah entah berapa kali kucuci bibirku, namun tetap saja rasanya masih ada…..Jijik.
Aku marah, aku tampar dia. Dan dia hanya tersenyum sambil berkata “Kamu mau menampar aku seribu kalipun aku nggak akan peduli, aku cuma minta kamu ijinkan aku mencintaimu” lalu dia pergi begitu saja. “Dasar Gila…!” kataku dalam hati

Dodi anak kelas 3 Fis 2 dia adalah bintang kelas, kesayangan guru bagaimana tidak menjadi kesayangan semua ulangan Fisika tidak pernah dibawah 9, Biologi, Kimia, Matematika semua dibabatnya. Dia juga pengurus OSIS, ketua KIR, jago Basket dan seabreg kelebihan lainnya. Semua cewek di sekolah ini berharap bisa jadi pacarnya, jangankan jadi pacar, hanya dilirik Dodi saja bisa bikin mabuk kepayang.

Ya… bagi mereka Dodi adalah segalanya, karena mereka nggak tahu siapa Dodi sebenarnya , mereka nggak dicium Dodi di belakang kantin dekat WC, pokoknya bagiku mahluk yang bernama Dodi itu adalah mahluk yang paling aku benci, rasanya jijik kalau aku harus bertemu dia

Aku sendiri duduk di kelas 2 Bio 2, aku merasa biasa saja, tidak pintar juga tidak bodoh. Aku adalah orang yang pendiam, karena dalam diam itu aku dapat menikmati duniaku sendiri, dalam diamku aku bisa menjadi siapa saja… Aku sangat menikmatinya.

Hari ini aku masih berdiri di depan sekolah, dari tadi aku menunggu angkot selalu saja penuh,
“Uh…. panasnya, minta ampun….!!”
“San, belum pulang…???”
“Eh, kamu Rin, belum nih…masih belum dapet angkot..”
“Gimana kalau kita maen dulu, San ?”
” Duh, maaf ya Rin, aku harus pulang sekarang, ada janji nih”, elakku

Kalau Dodi adalah jagoanya sekolah ini, Rina adalah kembangnya sekolah, dia cewek paling cantik di SMA-ku anaknya baik, supel, ramah walau dia kaya tapi dia bisa bergaul dengan semua orang.. Aku pikir alangkah beruntunganya lelaki yang bisa menjadi kekasihnya nanti.
Kulirik jam di tanganku, uh.. sudah hampir setengah dua.

Tin..tin, suara klakson motor mengagetkanku

“Hai, San belum pulang …??
Uh…. pasti Dodi, mahluk menjijikan itu
“Eh, Dod … belum, gak dapet angkot”
“Mmm… San aku mau minta maaf, atas kejadian kemarin. Aku gak tau kalau…”
“Sudahlah Dod, aku gak mau ngomongin itu lagi”, jawabku ketus
“Iya, aku ngerti, San kamu marah, tapi maafin aku ya…, please…”
Aku diam saja.
“San, aku mau ngomong sama kamu, gimana kalau kita ngobrol sambil makan bakso ?”
“Maaf, Dod aku mau pulang !”
“San please aku butuh bicara sama kamu…”
“Tidak, aku mau pulang…!”
“San… aku bisa maksa kamu lho…!!
“Coba aja !!”, tantangku
“Gimana kalau aku cerita ke anak-anak tentang kejadian kemarin ?”, katanya sisnis
Deg… mati aku, batinku dalam hati
“Kalau kamu berani cerita tentang hal itu, sama saja kamu bunuh diri Dod”, jawabku
“Ya, memang tapi kamu juga ikut, terserah kamu deh”
Agak lama aku terdiam,
“Oke Dod, aku pikir kita memang harus bicara”
“Nah gitu dong, ayo naik …!”

Setelah selesai makan Bakso, barulah Dodi mulai bicara,
“San, aku gak peduli kamu mau ngomong apa tentang aku, tapi entah kenapa… aku naksir kamu” katanya setengah berbisik
“Kamu gila apa Dod, kamu kan tau aku gak bisa….”
“Ya… aku tau, San… ini memang gila, tapi aku gak bisa terus bohong sama diriku..”
“Dod, coba kamu lihat sekitar, masih banyak cewek cantik di dunia ini, kamu bisa deketin Maya, Eva, atau malah Rina, ditanggung mereka pasti mau jadi pacar kamu”
“Aku gak peduli sama semua cewek itu San, aku suka kamu titik”
“Dod, aku gak seperti yang kamu bayangkan, aku harus pulang sekarang”,
aku langsung berdiri meninggalkannya. Sementara Dodi hanya terdiam lalu mengusap hidungnya yang berdarah

Sudah seminggu ini Dodi tidak masuk sekolah, menurut yang aku dengar dia sedang sakit, entah sakit apa, aku nggak peduli. Seminggu ini aku merasa tenang tanpa ada Dodi di sekolah ini. Aku masih tak habis pikir mengapa Dodi bisa suka padaku, sangat aneh menurutku, tapi kalau aku ingat waktu dia menciumku dulu… hueek jijik aku mengingatnya.

Sampai tiba-tiba setelah istirahat, Pak Togar wali kelasku masuk.
“Anak-anak harap tenang sebentar, ada suatu hal yang harus bapak sampaikan “.
tetapi suasana kelas bukannya makin tenang tetapi malah semakin gaduh.
“Anak-anak tenang…. TENANG SEMUA !!!” teriak pak Togar
barulah suasan kelas tenang. “Telah berpulang ke hadirat Tuhan teman kita Dodi murid kelas 3 Fis 1, tiga hari yang lalu di kampung halamannya di Semarang, karena leukimia”

Seisi kelas semakin gaduh, ada juga yang menangis, aku hanya terdiam tak tahu harus berkata apa-apa, sampai Pak Togar menyentuh pundaku.
“Kamu dipanggil ke kepala sekolah, ada yang ingin bertemu”.
“Siapa Pak..?” tanyaku
“Ibunya Dodi, ia mau bertemu denganmu….”
“Ada apa Pak…?”
“Entah akupun tak tahu, sudah kau pergi saja ke kantor !”
“Baik pak”
Dengan perasaan bingung aku berjalan ke kantor Kepala Sekolah.
Tok..tok..tok
“Permisi Pak…”
“Oh, Ya… masuk !”
“Maaf Pak, tadi kata Pak Togar saya dipanggil, ada apa ya Pak??
“Oh, ya… kenalkan dulu, ini ibunya Dodi.
Kamipun bersalaman.
“Silahkan lho Bu kalau mau bicara berdua, saya masih mau keliling dulu, sebentar ”
“Trima kasih atas kebaikan bapak”
“Ah, tidak apa Bu, almarhum Dodi adalah kebanggan kami juga, kamipun turut merasa kehilangan”
“Sekali lagi trima kasih, pak”
“Ya…ya… silahkan bu saya tinggal dulu”
Setelah Bapak Kepala Sekolah pergi, barulah ibunya Dodi berkata
“Maaf, kalau saya mengganggu adik belajar, tapi saya harus bertemu dengan adik”
“Tidak apa bu, saya turut berduka cita atas meninggalnya Dodi”
“Trima kasih dik, saya datang dari Semarang hnya mau melaksanakan amanat yang diberikan oleh Dodi sebelum dia meninggal”
“Ada apa ya bu…” tanyaku bingung
“Dodi menitipkan surat ini buat adik, dan saya harus menyampaikannya langsung kepada adik” katanya seraya menyerahkan sepucuk surat padaku
“Apa isinya bu??” tanyaku
“Saya juga tidak tahu dik, saya tidak pernah berani membukanya. Saya harap adik mau menerimanya”
“Baiklah Bu, saya terima surat ini”
“Kalau begitu, saya tidak mau terlalu lama mengganggu adik, saya permisi pulang”
“Baiklah Bu, kalau begitu”
“Tolong pamitkan pada Bapak Kepala Sekolah ya dik..”
“Baik Bu, nanti saya sampaikan” jawabku

Selama pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi, rasa penasaran tentang isi surat dari Dodi membuat pikiranku kacau, baru di rumah aku bisa membacanya

Semarang, Agustus 2004

Hai, apa kabar San ? lewat surat ini aku ingin sekali lagi meminta maaf padamu atas kelancanganku waktu itu. San kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah nggak ada lagi di dunia ini. Aku memang sudah merasa bahwa umurku sudah sampai di sini, kemarin setelah kita ngobrol, aku langsung pulang ke Semarang, gak tahu kenapa sampai di Semarang sakitku bertambah parah, memang San aku terkena leukimia hanya tidak adak ada yang tahu selain keluargaku.
San, aku tau ini adalah kesalahan untuk aku mencintaimu, kamu pasti berpikir aku ini aneh bahkan mungkin gila. Aku gak tau mulai kapan aku merasakan ini….
Andai aku dan kamu dilahirkan berbeda dari sekarang mungkin kamu bisa mengijinkan aku untuk cinta padamu.

Salam
Dodi

Aku gak tahu harus bagaimana setelah membaca surat itu, kubaca tulisan di amplopnya

Buat : Santo Budiono
Kelas 2 Bio 2
SMAN 2 – Jakarta

TAMAT

Hahaha..
(ngerti gak lucunya dimana?)

sumber: mailing list tetangga

One response to this post.

  1. Posted by Noe Gauthama on August 23, 2010 at 9:27 am

    huahahahaaaa…………………….geblekkkk………..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: