Sejarah Tanjung Priok dan Makam Mbah Priok (Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad)

Kisah Mbah Priok

Tahun 1727, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA dilahirkan di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Ketika remaja, ia belajar ilmu-ilmu agama di Hadramaut, Yaman Selatan pada Al Imam Al Arif Billah Quthbil Irsyad Wa Ghowtsil Ibad Wal Bilad Al Habib Abdulloh Bin Alwi Al Haddad R.A.

Di usia 29 tahun, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA ini kembali ke Indonesia dan mensyiarkan agama Islam pada penduduk pesisir Jayakarta. Karena dirinya yang sudah dibekali ilmu agama, lambat-laun pengaruh atas dirinya di kalangan masyarakat meluas, bahkan dianggap sebagai Waliyullah.

Kondisi macam ini justru membuat gerah para pejabat di pemerintahan Hindia Belanda, takut bilamana masyarakat yang sudah dicocok hidung dan dibodohi jadi memberontak karena disewenang-wenangi.

Saat Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA hendak mensyiarkan Islam sekaligus berziarah ke Al Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus R.A di Batang, ke Sunan Gunung Jati R.A. di Cirebon sampai ke Sunan Ampel R.A. di Surabaya, ia berangkat dengan perahu dan dikejar-kejar Belanda. Dalam hikayat cerita rakyat tentang epos kesejarahannya, perahunya ditembaki dan diletupkan meriam, namun tak ada satu peluru dan senjata meriam yang bisa mengenai perahunya, beliau juga tak merasa apa-apa hingga tentara Belanda menghentikan serangan.

Beliau tetap dengan kegiatan keagamaannya, mensyiarkan Islam, mengajarkan belas kasih pada sesama, menumbuhkan semangat keberanian masyarakat akan kebenaran yang harus dijunjung tinggi dan keadilan yang harus diperjuangkan. Ia juga mensyiarkan agama Islam sampai ke luar Jawa yaitu ke Sumatera. Dalam hidup, hanya kalimat-kalimat tauhid yang dikumandangkan dan didengungkannya pada masyarakat.

Setiap melakukan perjalanan syiar agama, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A selalu membawa priuk nasi untuk memasak makanan. Untuk menanak nasi ia menggunakan kayu bakar dari pinggir-pinggiran perahu, bagkan gagang dayung juga dipergunakan untuk kayu bakar. Menurut cerita warga, ketika bekal bahan pangan sudah habis, jubahnya dimasukkan ke dalam priuk nasi sambil berdoa. Ketika dibuka, jubah itu berubah jadi nasi dengan izin Allah SWT.

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA meninggal ketika sedang berdakwah. Dari cerita rakyat, saat bepergian, perahu yang ditumpanginya terbalik, namun dalam kondisi begitu, ia dan orang-orang yang masih selamat, masih tetap mengingat Allah SWT dan tetap menjalankan shalat berjamaah di atas perahu yang terbalik. Berhari-hari terkatung-katung di atas perahu terbalik dalam kondisi tidak makan, ia meninggal di atas perahu.

Perahunya yang berisi beberapa mayat termasuk mayat Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA, didorong oleh ribuan lumba-lumba untuk sampai tepian pantai. Masyarakat yang melihat kondisi itu langsung menghampiri, mengurusi jenazah dan memakamkan di sisi pantai.

Sebagai tanda batu nisan, ditancapkan di bagian kepala dari makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA sebuah dayung pendek dan di bagian kakinya ditancapkan sebatang kayu kecil berukuran kira-kira sebesar lengan anak kecil yang kemudian tumbuh menjadi pohon tanjung. Tak ketinggalan, sebuah priuk nasi yang selalu dibawa-bawa saat mensyiarkan agama ditaruh di sisi makam.

Ada kabar cerita, priuk nasi itu lama-lama bergeser hingga ke tengah laut. Kekeramatan makamnya membuat orang-orang di daerah itu sebagai Tanjung Priuk, ada juga yang menyebutnya sebagai Pondok Dayung yang artinya dayung pendek dalam Bahasa Sunda. Itu juga yang membuat Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dikenal dengan sebutan Mbah Priok.

Sejarah Penggusuran

Jauh sebelum digusur Satpol PP, Belanda juga sudah mau menggusur tempat makam tokoh agamawan di daerah ini. 23 tahun setelah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dimakamkan, Pemerintah Hindia Belanda hendak memperluas pelabuhan dan menggusur makamnya. Namun aneh, saat hendak dilakukan penggusuran, puluhan bahkan ratusan opsir Belanda meninggal secara tiba-tiba.

Sampai dicari cara untuk memindahkan makam di pesisir pantai tersebut, ditemukan cara dengan menghubungi seorang guru agama, Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. Dalam khatwal, didapati syarat-syarat pemindahan makam harus menghubungi adik dari Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan. Syarat yang harus dipenuhi sebagai ahli waris yang harus mengetahui masalah pembongkaran makam saudara kandung.

Singkat cerita, makam itu dipindahkan di satu daerah di Jl. Dobo yang masih luas. Saat proses penggalian jenazah, mayat masih dalam keadaan utuh disertai aroma wangi, meski jasad itu sudah berusia 23 tahun terkubur. Makam itu kemudian dipagar dan diurus oleh warga atas permintaan sang adik.

Makam ini terletak dekat dengan pelabuhan PTK terminal peti kemas di daerah Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

Sumber sejarah: Risalah Manaqib Makam Keramat Situs Sejarah Tanjung Priuk

Kenapa Tetap Ingin Digusur?

Usut punya usut, daerah TPU Dobo di Kelurahan Koja, Jakarta Utara, ternyata sejak tahun 1997 sudah jadi milik PT Pelindo II dari putusan pengadilan. Beberapa jasad di sana sudah dipindahkan ke TPU Semper. Makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA ini yang sulit untuk dipindahkan.

Namun versi lain mengatakan bahwa makam Mbah Priok ini sudah tak ada di tempat. Seperti yang dikutip dari ANTARA, Kepala Satpol PP, Harianto Badjoeri yang mengatakan begitu. Harianto juga menegaskan bahwa eksekusi yang dilakukan Satpol PP bukan merupakan eksekusi makam, melainkan eksekusi bagi bangunan liar disekitarnya. Bangunan yang didirikan tanpa IMB pemerintah daerah yang digunakan bagi para peziarah yang ingin mengunjungi makam, meskipun jasad Mbah Priok (katanya) sudah tidak lagi ada di tempat.

Siapa yang benar agak membingungkan, yang pasti saat Pemerintah Kota Jakarta Utara mengutus Satpol PP dan petugas untuk menggusur daerah itu, tak ayal lagi pertempuran pecah dan memakan korban.

sumber:  http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/14/sejarah-priok-yang-berdarah-dulu-dan-sekarang/-12

2 responses to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: