Cover Curse dan Badai Krisis Ekonomi 2010-2011

FENOMENA LIPUTAN UTAMA DAN SAMPUL HALAMAN MAJALAH

Ringkasan:
Setelah market crash tahun 1987 dimana Alan Greenspan baru saja diangkat menjadi gubernur bank sentral US, the Fed, dunia diguyur dengan likwiditas dan ekspansi kredit. Di dalam ekonomi selalu ada siklus boom-bust, penggembungan bubble-dan-pecah. Dan sudah menjadi ketidak-bijaksanaan Greenspan (dan juga banyak bank sentral lainnya) untuk mengguyurkan kredit yang kemudian membuat bubble berikutnya menjadi semakin besar. Spekulasi semakin lama semakin marak karena leverage yang dimungkinkan oleh tersedianya kredit yang mudah. Krisis moneter Nikkei bubble dan real-estate Jepang pecah (1990), Peso Mexico dan effek Taquila (1994), Macan Asia (1997), krisis finansial Russia (1998), LTCM (1998), krisis moneter Argentina (1999-2001), Panic Y2K, pecahnya Tech Bubble (2000), krisis demi krisis silih berganti. The Fed, bank sentral Jepang dan bank-bank sentral lainnya mengguyurnya dengan likwiditas. Ini bagai menyiram api dengan bensin. Kobarannya semakin besar. Dan terakhir adalah bubble di sektor rumah hunian dan real-estate, yang terjadi tidak hanya di US tetapi juga di UK, Eropa, Timur Tengah, Cina. Sebenarnya tidak hanya sektor real-estate, tetapi juga komoditi, saham emerging market dan lain sebagainya. Hanya ada satu ungkapan untuk menggambarkan hal ini, yaitu “kredit bubble”. Spekulasi di semua sektor yang digerakkan oleh ekspansi kredit yang pengucurannya mudah dan sembrono.

Ketika bubble pecah, konsumen tidak mampu berhutang lagi dan tidak mampu melakukan konsumsi (yang ditunjang hutang/kredit). Konsumen dan juga sektor bisnis, tidak lagi berekspansi, melainkan mulai membayar hutangnya. Terjadilah kontraksi kredit. Pemerintah tidak suka hal ini dan secara global beramai-ramai melakukan “penyelamatan” dan stimulus ekonomi. Kali ini pemerintahlah yang melakukan konsumsi atau “bagi-bagi uang”. Tetapi apa yang dilakukan pemerintah, masih kalah cepat dibandingkan kecepatan kontraksi kredit. Akibatnya secara netto, kredit tetap berkontraksi. Pada episode ini cash is king, karena cash dicari untuk membayar hutang. Cash disini berarti US dollar karena kebanyakan kredit adalah dalam dollar.

Paket stimulus memberi effek plasebo. Optimisme bahwa ekonomi nampak membaik muncul dimana-mana (sepanjang Maret – Desember 2009) padahal data menunjukkan bahwa kredit masih mengalami kontraksi. Bagaimana selanjutnya?

Paket stimulus bak doping terhadap penyakit deflasi, ekonomi akan kembali kepada trend deflasinya semula pada saat effek stimulusnya habis. Dan pemerintah-pemerintah dunia harus memberikannya lagi. Kalau dulu, effeknya bisa bertahan sampai 5 tahun, sekarang akan lebih pendek dan dosisnya pun harus lebih tinggi. Dananya darimana? Sumber dana pemerintah tidak jauh dari pajak dan penerbitan surat hutang yang untuk pembayaran nantinya akan dibebankan pada pemasukkan pajak dimasa datang. Pemerintah (di negara mana saja) punya pilihan lain, yaitu menekan budget, mengurangi pegawai dan aktifitasnya, meniadakan stimulus ekonomi, menstop penyelamatan bank yang kolaps dan berusaha untuk surplus anggaran. Dengan demikian hutang negara berkurang. Skenario ini bisa dikatakan bukan pilihan politikus.

Episode berikutnya setelah masa deflasi adalah pada masa dimana hutang yang harus dibayar pemerintah sudah menumpuk. Pada saat itu pemerintah punya beberapa pilihan. Pertama menaikkan pajak sampai membuat warga memberontak; mencetak uang, menjatuhkan nilai riil hutang dan mengobarkan api hiper-inflasi atau harus mengemplang. Pilihan yang paling mungkin karena paling disukai politikus adalah skenario hiper-inflasi. Yang sebenarnya sama buruknya dengan menaikkan pajak hingga mencekik. Pada episode ini cash is trash, karena pemerintah dengan sengaja menurunkan nilai riilnya.

Pada seri Menyonsong Krisis Ekonomi 2010 – 2011 ini, EOWI (Ekonomi Orang Waras dan Investasi) akan mengulas hal-hal yang berkaitan dengan krisis mendatang, terutama kelanjutan dari proses deflasi yang dimulai sejak krisis tahun 2007.

DOLLAR JATUH – SAMPUL MUKA THE ECONOMIST DESEMBER 2007
Liputan utama dan gambar muka majalah oleh beberapa kalangan investor dijadikan indikator kontrarian atau dijadikan sebagai hal yang menandai titik balik dari suatu proses. Misalnya beberapa waktu lalu, yaitu pada bulan Desember 2007, majalah the Economist membuat liputan tentang kejatuhan US dollar. Judulnya sangat menyolok di sampul halaman (Gambar-1). Gambarnyapun cukup dramatik untuk menggambarkan pelurukan dollar yang terbakar. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Tiga bulan setelah pemuatan “The Panic about the Dollar”, yaitu bulan Maret 2008, US dollar mengalami “bottoming” untuk kemudian rally secara dramatik.


Gambar 1 (Klik gambar untuk memperbesar)

Pada saat itu tidak ada yang menyangka bahwa US dollar akan menguat, mengingat kasus ‘sub-prime’ – kredit perumahan – sedang melanda US sejak awal tahun 2007. Seperti umumnya krisis, mata uang negara yang dilanda krisis akan mengalami depresiasi. Memang sebelumnya US dollar sudah lama melorot. Ditambah dengan krisis disektor kredit perumahan, rally US dollar sama sekali tidak diduga.

Suatu proses, misalnya kejatuhan US dollar akan berjalan cukup lama tanpa memperoleh banyak perhatian media. Paling-paling hanya masuk sebagai liputan biasa. Pada titik klimaksnya, media tentu saja tidak menempatkan sebagai hal untuk liputan biasa lagi. Karena topiknya menjadi sangat “hot”. Maka topik tersebut menjadi bernilai serta layak untuk dijadikan liputan utama dan dimasukkan di sampul muka. Itu mungkin sekedar penjelasan bagaimana liputan utama/sampul depan majalah bisa dijadikan indikasi klimaks dan titik balik suatu proses.

BUBBLE REAL-ESTATE – SAMPUL MUKA TIME 2005
Contoh lain yang berkaitan dengan fenomena sampul muka majalah adalah bubble di sektor perumahan di US. Sampai pertengahan dekade 2000, sektor real-estate US mengalami booming, akibat glontoran bensin likwiditas Alan Greenspan ketika ia memadamkan kobaran api krisis Tech-Bubble Nasdaq 2000 yang bisa jadi adalah rambatan dari glontoran bensin likwiditas krisis LTCM dan paranoid Y2K sebelumnya. Banjir bensin kredit di sektor real-estate, membuat masuknya spekulasi di sektor ini dan harga rumah naik secara cepat dalam waktu yang cukup singkat, hanya bilangan beberapa tahun.

Pada bulan Juni 2005, majalah Time membuat liputan utama mengenai sektor perumahan. Di sampul muka majalah Time ini terpampang gambar dan tulisan “HOME $WEET HOME”. Dan ada komentar kecil “Why we’re going gaga”, – kenapa kita begitu terpikat oleh real-estate. Gambarnya ada orang memeluk sebuah rumah dengan penuh perasaan bahagia (Gambar-2). Diceritakan bahwa seseorang membeli rumah seharga $150,000 dan 2 tahun kemudian menjualnya dengan harga $250,000. Ada lagi yang membeli rumah seharga $ 400,000 dan menjualnya $600,000 dua tahun kemudian. Setahunnya memperoleh $100,000. Tidak hanya itu, sebenarnya uang yang digunakan sebagian besar adalah uang pinjaman alias kredit. Jadi rate of return dari kapitalnya sendiri sangat besar, karena leverage kredit perumahan.

Cuplikan dari Time berikut ini menunjukkan bagaimana optimisme masyarakat terhadap sektor ini:

John Williams, a disc jockey from Long Beach, Calif., is available for weddings and birthday parties. He also does real estate closings. Williams, 40, recently decided to hitch his fortunes to the Southern California home market, buying houses, fixing them up and–in the parlance of our times–flipping them for a quick profit. “I saw so many friends and colleagues getting rich,” he says. “I wanted to get rich too.”

Williams has made some money–he flipped his first two properties for a combined gain of $27,000–and quickly discovered that he’s not alone. “I went to look at some homes in Palmdale- Lancaster [an area of Los Angeles County],” he says, “and the woman showing me and a group of other investors around was a hairdresser who works for Century 21 on the side. We went into Taco Bell for lunch. The girl at the register heard us talking, and she told us she just got her mortgage broker’s license.”

Bagi investor yang berpengalaman, kalau pelayan restoran, penata rambut, disc jockey sudah tertarik menjadi broker real-estate, atau broker saham atau apapun, maka fase mania sudah merasuki sektor tersebut. Tinggal tunggu kejatuhannya saja.


Gambar 2 (Klik gambar untuk memperbesar)

Tidak lama setelah pemuatan sektor real-estate US di sampul majalah Time, apa yang kemudian terjadi? Pada tanggal 1 Agustus 2005 atau 1.5 bulan setelah topik real-estate muncul sebagai sampul halaman majalah Time, harga rumah mencapai puncaknya dan mulai meluruk ke bawah. Indeks perumahan HGX (Phlx Housing Index) mencapai titik klimaksnya pada tanggal 31 Juli 2005. Dan itu berlanjut menjadi krisis kredit perumahan ‘sub-prime’.

JEFF BEZOS AMAZON – SAMPUL DEPAN TIME 1999
Kasus yang menarik lagi adalah mengenai saham Amazon. Wajah Jeff Bezos pendiri toko buku online Amazon menghiasi sampul majalah Time edisi 27 Desember 1999 (Gambar-3). Jeff Bezos menjadi man of the year majalah Time dan dirinya beserta Amazon dijadikan liputan utamannya. Pada laporan utama itu Time mau menunjukkan betapa sukses dan kayanya Jeff yang saat itu mempunyai 200 milyar “nickel” (10 sen) atau $ 20 milyar. Di dalam artikel utamanya dikatakan:


Gambar 3 (Klik gambar untuk memperbesar)

There was a time when Bezos could say, “If I had a nickel for every time a potential investor told me this wouldn’t work…” and then lapse off into head shaking. Now he follows that line with a wild, giggly laugh. No wonder: as of last week, Bezos had 200 billion nickels. A rich reward, to be sure, but how on earth can you compensate a man who can see the future?

Apa yang terjadi dengan saham Amazon 1.5 tahun kemudian? Dari akhir tahun 1999 sampai kwartal I 2001, saham Amazon anjok dan 93% nilainya menguap. Kekayaan Jeff Bezos tidak lagi 200 milyar nickel, tetapi tersisa 14 milyar nickel atau $140 juta. Masih banyak sih…., tetapi anjlok cukup tajam.

Pemuatan disampul muka merupakan pertanda buruk bagi Amazon dan Jeff Bezos, merupakan klimaks dan titik balik bagi mereka.

UNI SOVIET/BLOK KOMUNIS – SAMPUL DEPAN TIME 1988
Kasus lain adalah munculnya foto Gorbachev di majalah Time, Januari 1988 sebagai “man of the year”. Ini juga menandai akhir dari Uni Soviet dan blok komunis Eropa timur, Pakta Warsawa.

Gorbachev sebagai pemimpin Uni Soviet yang diangkat tahun 1985 memperkenalkan perestroika (restrukturisasi ekonomi) dan glasnost (politik keterbukaan) awalnya untuk memberikan angin segar untuk pembaharuan di negara komunis ini. Tujuan pembaharuan ini tidak lain untuk kemakmuran dan kejayaan. Semuanya berjalan dengan cepat. Hanya 3 tahun setelah Gorbachev menjadi pemimpin Soviet, fotonya terpampang di sampul depan majalah Time. Uni Soviet. Tetapi apa yang terjadi setelah pemuatan wajahnya di sampul majalah Time? Bisa dikatakan bahwa inilah titik klimaks dari Gorbachev dan Uni Soviet.


Gambar-4 (Klik gambar untuk memperbesar)

Foto Gorbachev terpampang di sampul depan Time pada edisi 5 Januari 1988. Hanya terpaut sebulan Uni Soviet angkat kaki dari Afganistan dan menelan kekalahan perang yang sudah berlangsung selama 18 tahun. Tidak hanya itu pamor komunisme memudar, dan Uni Soviet dan pemerintahan Pakta Warsawa tidak bisa lagi mempertahankan komunisme. Negara-negara komunis Eropa timur yang tergabung dalam Pakta Warsawa menghadapi pergolakan dari dalam. Ekonomi Uni Soviet terpuruk. Defisit anggaran harus ditutup dengan membuat hutang dan menjual asset. Hutangnya bertambah dan cadangan emasnya turun sehingga tersisa hanya 10% nya saja. Tembok Berlin runtuh tahun 1989 dan Jerman Timur dan Barat bersatu kembali tahun 1990. Satu-persatu komunisme ditinggalkan dan tahun 1991 Pakta Warsawa bubar bersama bubarnya negara Konfederasi Uni Soviet.

Jadi apa arti pemuatan Gorbachev di sampul depan majalah Time? Karena suksesnya sebagai pemimpin? Atau harus dilihat klimaks dari karier politiknya.

Banyak contoh-contoh lain seperti wajah Ronald Reagan tampil di sampul Time edisi 5 Januari 1981 dan 3 bulan kemudian yaitu tanggal 30 Maret 1981, Reagan ditembak John Hickley Jr. Hanya berselang 3 bulan.

Wajah Nixon juga menghiasi Time edisi 3 Januari 1972. Pada bulan Juni 1972 terkuak skandal Watergate yang akhirnya menjatuhkannya.

Foto Cindy Lauper muncul bersama Madonna di Time di tahun 1985. Tahun itu menandai akhir dari penyanyi Cindy Lauper. Padahal Cindy lebih mempunyai talenta dibanding Madonna.

BEN BERNANKE – SAMPUL TIME JANUARI 2009
Wajah Ben Bernanke menghiasi sampul muka majalah Time. Fenomena sampul depan, bukan hal yang asing bagi investor. Oleh sebab itu banyak investor cemas karenanya. Jangan heran kalau (sekali lagi kalau), majalah investasi Baron akan mengulas hal ini dalam minggu-minggu ke depan.

EOWI tidak punya bola kristal untuk mengetahui, pertanda apa kira-kira yang dibawa oleh kemunculan foto Ben Bernanke di majalah Time ini. Titik balik apa? Pasalnya Ben punya peran di banyak bidang di ekonomi. Akan kah deflasi menggila atau inflasi, akan kah ekonomi bangkit atau makin terpuruk. Akan kah harga real-estate naik setelah sekian lama turun? Untuk itu EOWI akan menengok hal apa yang paling membuat Ben Bernanke populer. Dan hal tersebutlah yang menjadi tonggak sejarah perjalanan karier Ben Bernanke.


Gambar-5 (Klik gambar untuk memperbesar)

Beginilah cuplikan dari laporan utama/sampul depan majalah Time edisi 29 Desember 2009:

He just happens to be the most powerful nerd on the planet.

Bernanke is the 56-year-old chairman of the Federal Reserve, the central bank of the U.S., the most important and least understood force shaping the American — and global — economy. Those green bills featuring dead Presidents are labeled “Federal Reserve Note” for a reason: the Fed controls the money supply. It is an independent government agency that conducts monetary policy, which means it sets short-term interest rates — which means it has immense influence over inflation, unemployment, the strength of the dollar and the strength of your wallet. And ever since global credit markets began imploding, its mild-mannered chairman has dramatically expanded those powers and reinvented the Fed.

Professor Bernanke of Princeton was a leading scholar of the Great Depression. He knew how the passive Fed of the 1930s helped create the calamity — through its stubborn refusal to expand the money supply and its tragic lack of imagination and experimentation. Chairman Bernanke of Washington was determined not to be the Fed chairman who presided over Depression 2.0. So when turbulence in U.S. housing markets metastasized into the worst global financial crisis in more than 75 years, he conjured up trillions of new dollars and blasted them into the economy; engineered massive public rescues of failing private companies; ratcheted down interest rates to zero; lent to mutual funds, hedge funds, foreign banks, investment banks, manufacturers, insurers and other borrowers who had never dreamed of receiving Fed cash; jump-started stalled credit markets in everything from car loans to corporate paper; revolutionized housing finance with a breathtaking shopping spree for mortgage bonds; blew up the Fed’s balance sheet to three times its previous size; and generally transformed the staid arena of central banking into a stage for desperate improvisation. He didn’t just reshape U.S. monetary policy; he led an effort to save the world economy………

But the main reason Ben Shalom Bernanke is TIME’s Person of the Year for 2009 is that he is the most important player guiding the world’s most important economy. His creative leadership helped ensure that 2009 was a period of weak recovery rather than catastrophic depression, and he still wields unrivaled power over our money, our jobs, our savings and our national future. The decisions he has made, and those he has yet to make, will shape the path of our prosperity, the direction of our politics and our relationship to the world.

Ada beberapa stress mengenai Ben di majalah Time, yaitu:

It (kekuasaannya) has immense influence over inflation, unemployment, the strength of the dollar and the strength of your wallet.

Di masa datang, kemungkinan kekuasaan Ben Bernanke dan the Fed tidak akan berdampak apa-apa lagi terhadap inflasi, pengangguran, dollar dan daya beli konsumen di US. Berdasarkan sejarah, kekuasaan sentral bank menjadi mandul, untuk kasus deflasi. Bank sentral Jepang tidak bisa menahan deflasi. Konsekwensi berikutnya, the Fed tidak bisa lagi mengendalikan nilai US dollar. The Fed mungkin mau melakukan devaluasi US dollar agar produk US bisa kebih kompetitif, kemungkinan the Fed tidak mampu. US dollar akan menguat.

“….. he led an effort to save the world economy”

Kepemimpinannya akan merosot dan ekonomi dunia akan terperosok kembali ke….., mungkin resesi deflasionari.

His creative leadership helped ensure that 2009 was a period of weak recovery rather than catastrophic depression.

Sama seperti Gobachev kepemimpinannya (sebelum wajahnya muncul di sampul muka Time), nampaknya akan membawa perubahan di Soviet menuju ke arah kemakmuran. Akhirnya Uni Soviet dan Pakta Warsawa malah bubar. Kali ini usaha-usaha the Fed sudah mencapai klimaksnya. Bukannya “weak recovery” lagi, tetapi ekonomi akan menuju depressi yang dalam.

Anda bisa melakukan google search mengenai fenomena-sampul-depan. Khusus untuk Ben Bernanke, seperti Paul Krugman di New York Times menulis:

Bernanke and the cover curse
December 16, 2009, 8:17 am

So Time magazine has named Ben Bernanke Person of the Year. Be afraid, be very afraid.

The magazine cover curse is a well-known phenomenon: you should always short the stock of a company whose CEO is the subject of a glowing cover story in a major magazine.

Plus there’s the specific Time effect. Let’s not forget the 1985 joint portrait of Madonna and Cyndi Lauper, which concluded that Ms. Lauper was the one who’d remain a star.

Sekian dulu……, selamat berlibur dan selamat tahun baru Hijriah dan Masehi.

sumber: dikutip dari EOWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: