Hak Cipta, Royalty, dan Penjiplakan Budaya

Baru-baru ini iklan pariwisata Malaysia di TV kabel ada tayangan tari pendet. Tidak berapa lama muncul protes dari kubu Indonesia bahwa tari pendet adalah milik Indonesia (dan seakan-akan hak ciptanya dimiliki Indonesia). Malaysia dilarang menggunakannya. Itu bukan milik Malaysia. Dulu juga pernah terjadi hal yang sama tentang kesenian reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, batik. Jauh sebelumnya Indonesia (siapapun orangnya) mempersoalkan lagu kebangsaan Malaysia – Negaraku, sebagai jiplakan dari lagu Terang Bulan yang populer di Indonesia pada jaman baheula (paling tidak tahun 1956an). Rekaman lagu ini ada di Lokananta Surakarta yang dibuat tahun 1965. Wow….., Malaysia ternyata tukang jiplak budaya!!!

Sebenarnya bukan Malaysia saja, tetapi Indonesia juga. Kalau penjiplakan lagu kebangsaan sudah dianggap besar maka Indonesia menjiplak yang lebih besar lagi. Tetapi tidak pernah menyadarinya. Malaysia menjiplak lagu kebangsaannya, Indonesia menjiplak bahasa!! Dan banyak lagi.

JIPLAKAN BUDAYA YANG KECIL-KECIL
Pertama cerita wayang Ramayana dan Mahabarata. Cerita Ramayana dan Mahabarata yang sekarang banyak digunakan sebagai dasar tarian di Jawa dan Bali adalah bukan asli Indonesia, melainkan dari India. Jadi tari-tarian Jawa dan Bali, banyak yang sebenarnya jiplakan (sebagian) dari budaya India.

Bait pertama lagu Garuda Pancasila juga merupakan jiplakan bait pertama lagu La Marseillaise, lagu kebangsaan Prancis.

Kedua hal ini yang saya bisa ingat dengan segera. Yang lain juga masih ada.

JIPLAKAN TEKNOLOGI
Kalau kita bilang bahwa tahu adalah makanan tradisionil rakyat. Mungkin anda harus telusuri dari mana asalnya tahu. Dari Cina. Tahu bukan makanan asli Indonesia. Kalau tempe, kedelai yang difermentasi dengan jamur Rhizopus Oligosporus, memang asli Jawa (bukan Sumatra, Bali, atau Sulawesi, tetapi Jawa). Kalau tahu,….. itu berasal dari Cina.

Lalu, bagaimana dengan kecap, tauco, petis……., apa itu masakan tradisionil Indonesia?

BAHASA INDONESIA
Saya percaya bahwa pembaca sekalian tidak pernah mencicipi pendidikan Taman Siswa tahun 1920an. Mertua dan ayah saya pernah. Dan salah satu mata pelajarannya adalah bahasa Melayu bukan bahasa Indonesia. Karena nama Indonesia baru muncul tahun 1928 dalam acara Sumpah Pemuda, kemudian diresmikan sebagai negara tahun 1945.

Sebelum tahun 1928 tidak ada yang disebut bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Minang, Banjar ada karena ada suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Aceh, Banjar dan lain sebagainya. Karena tidak ada orang (suku) Indonesia, maka tidak ada bahasa Indonesia.

Bunyi Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut:

Pertama: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
Kedoea: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Disini jelas bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan atau bahasa pengantar – lingua franca. Pada masa itu sebagai bahasa pengantar untuk nusantara dan Asia Tenggara adalah bahasa Melayu, yaitu bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Melayu. Bahasa ini juga dipakai dalam berbisnis antar pulau dan antar suku bangsa. Sampai sekarang bahasa yang sama dengan bahasa Melayu masih digunakan oleh suku-suku diluar Indonesia dan Malaysia, antara lain suku Moro di Mindanau, suku Thailand Pattani dan suku Champa di sungai Mekong.

Kalau anda menengok literatur-literatur atau koran tahun 1920an, bahasa yang digunakan disebut bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia. Nenek saya saja masih menyebutnya “coro Melayu” (cara Melayu, bahasa Melayu) untuk bahasa Indonesia. Seingat saya nenek saya tidak pernah menyebut bahasa Indonesia, melainkan bahasa Melayu untuk merujuk pada bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia yang mereka kenal adalah dengan nama bahasa Melayu.

Kalau kita tengok kembali sastra “Indonesia” (dalam tanda petik) lama sejak periode Pujangga Lama, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Dan kalau kita menonton film P. Ramlee (bintang film Malaysia klasik), kita akan menyadari bahwa bahasa yang digunakan sama dengan bahasa sastra jamannya Abdul Muis. Bahkan tidak berbeda dengan bahasa film Indonesia klasik Si Pincang (1952) atau Bengawan Solo (1949). Gaya bahasanya sangat teateral dan tonil. Yang saya mau katakan bahwa, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu awalnya sama. Bahasa Indonesia tidak lain adalah bahasa Melayu yang diberi nama berbeda.

Ketika saya tinggal di Malaysia, awalnya saya menggunakan bahasa Indonesia kuno, yang ada di buku-buku sastra lama. Teman-teman saya sering mengatakan bahwa bahasa saya seperti bahasanya P Ramlee. Dan untuk saya film-film klasik Malaysia lebih mudah dimengerti dari pada sinetron modern Malaysia, karena bahasa film klasik Malaysia mirip/sama dengan bahasa Indonesia kuno.

Kalau kita katakan bahasa Jawa, assosiasi kita tertuju pada suku (kelompok orang) yang menggunakannya, yaitu orang Jawa. Demikian juga dengan Sunda, Batak, Minang, Aceh dan sebagainya. Bagaimana dengan bahasa Melayu? Suku Melayu menempati Semenanjung Melayu (bagian dari Malaysia sekarang). Malaysia adalah negaranya orang Melayu (Malay). Bagaimana dengan orang Melayu yang ada di Sumatra? Itu sama saja dengan orang Melayu yang ada di Kampung Melayu Jatinegara (Jakarta) atau keturunannya Encik Awang di Cawang Jakarta. Sama seperti orang Jawa yang ada di Suriname atau di Johor. Mereka adalah orang yang awalnya perantauan.

Ini issunya. Kalau orang Indonesia jengkel karena Malaysia menjiplak kesenian reog Ponorogo, kuda lumping, gamelan, batik, harus diingat bahwa di Malaysia (Johor, Perak) banyak orang Jawa keturunan perantau. Tidakkah mereka berhak menggunakan budaya moyangnya? Kalau mereka tidak berhak, maka Indonesia tidak berhak menggunakan bahasa Indonesia, karena itu modifikasi dari bahasa Melayu (bahasanya orang Malaysia).

Dari pada ribut dengan orang Malaysia, sebagai bahasa resmi negara, mari kita gunakan saja bahasa Jawa yang kromo madyo sajalah. Atau Jawa Timuran yang lebih egalit. Untuk resminya maka bab tentang bahasa negara di UUD 45 perlu diganti. Lumayan untuk memberi pekerjaan bagi anggota MPR yang sudah lama menganggur. Kita tidak perlu menggunakan kata tidak, satu, delapan, ikan, melainkan mboten, setunggal, wolu dan iwak. Lebih enak bukan? Bahkan dalam hal sakit kepala, bahasa Jawa lebih lengkap. Ada ngelu, senut-senut, gleyeng, cekot-cekot. Mungkin kalau bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional, akan lebih baik.

Saya sebenarnya tidak terlalu perduli dengan hak cipta. Oleh sebab itu saya sering download lagu, software, menggunakan chart orang lain tampa ijin dan tanpa bayar. Saya juga tidak perduli apa Malaysia mau menggunakan tari pendet, kuda lumping, reog dan gamelan dalam iklan pariwisatanya. Atau bahkan dalam paket pariwisatanya dimasukkan tari pendet, kuda lumping, reog, batik dan gamelan. Itu lihai-lihainya merekalah dalam cari duit. Orang Prancis Nicolas Léonard Sadi Carnot dan orang Jerman Rudolf Diesel boleh menemukan sistem termodinamika yang mendasari mesin internal-combustion. Sekarang banyak negara/pabrik memakainya tanpa bayar royalti. Dan tidak hanya itu, Jepang membuatnya sempurna dalam penerapannya di bidang otomotif.

Saya tidak bisa membayangkan kalau orang Inggris meminta royalti kepada USA, Australia, Canada, New Zealand, Trinidad, ……., karena bahasanya (bahasa Inggris) digunakan sebagai bahasa USA, Canada, Australia, New Zealand, Trinidad,…… bahkan tanpa mengubah namanya. Di USA, Canada, Australia, New Zealand, dsb, tidak ada bahasa USA, Australia, Canada, melainkan hanya bahasa Inggris (English). Dasar!! tidak menghargai hak intelektual (atau apapun namanya)!!!
Jakarta 30 Agustus 2009.
sumber:
dikutip dari EOWI (Ekonomi Orang Waras dan Investasi)

One response to this post.

  1. […] Saya sebenarnya tidak terlalu perduli dengan hak cipta. Oleh sebab itu saya sering download lagu, software, menggunakan chart orang lain tampa ijin dan tanpa bayar. Saya juga tidak perduli apa Malaysia mau menggunakan tari pendet, kuda lumping, reog dan gamelan dalam iklan pariwisatanya. Atau bahkan dalam paket pariwisatanya dimasukkan tari pendet, kuda lumping, reog, batik dan gamelan. Itu lihai-lihainya merekalah dalam cari duit. Orang Prancis Nicolas Léonard Sadi Carnot dan orang Jerman Rudolf Diesel boleh menemukan sistem termodinamika yang mendasari mesin internal-combustion. Sekarang banyak negara/pabrik memakainya tanpa bayar royalti. Dan tidak hanya itu, Jepang membuatnya sempurna dalam penerapannya di bidang otomotif. Saya tidak bisa membayangkan kalau orang Inggris meminta royalti kepada USA, Australia, Canada, New Zealand, Trinidad, ……., karena bahasanya (bahasa Inggris) digunakan sebagai bahasa USA, Canada, Australia, New Zealand, Trinidad,…… bahkan tanpa mengubah namanya. Di USA, Canada, Australia, New Zealand, dsb, tidak ada bahasa USA, Australia, Canada, melainkan hanya bahasa Inggris (English). Dasar!! tidak menghargai hak intelektual (atau apapun namanya)!!! Jakarta 30 Agustus 2009. sumber: dikutip dari EOWI (Ekonomi Orang Waras dan Investasi) sumber: https://raggne.wordpress.com/2009/09/07/hak-cipta-royalty-dan-penjiplakan-budaya/ […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: