STIMULUS EKONOMI, REFLASI DAN EFFEKTIVITASNYA (KETIKA PEMIMPIN DAN RAKYAT MENJADI GILA II)

Siklus ekonomi merupakan hal yang alamiah. Sejak jaman nabi Yusuf – kasus 7 tahun kemakmuran melimpah dan 7 tahun masa paceklik, sampai sekarang sejarah terus berulang. Memang tidak sama persis. Mazhab ekonomi Austria menerangkan mekanisme siklus ini. Sayangnya, ilmu yang logis dari mazhab ini sudah ditinggalkan para politikus dan pemegang kekuasaan. Salah satu kaidah dasar mazhab yang tidak disukai oleh para penguasa adalah masalah intervensi ekonomi melalui pajak, undang-undang dan yang paling buruk dari semuanya yaitu inflasi moneter. Inflasi moneter menyebabkan distorsi dan misallokasi kapital yang akan berakhir dengan penyelarasan, pelurusan, perampingan penyeminbangan kembali. Kalau jaman dahulu, siklus ini banyak dipengaruhi oleh siklus pertanian, saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kredit dan faktor moneter. Distorsi standard hidup – besar pasak dari pada tiang, ketimpangan perdagangan, membengkaknya hutang, asset bubble menjadi ciri periode pesta. Dan kempesnya asset bubble, masa pembayaran-pembayaran hutang, masa menabung, berhemat, dan memangkas kapasitas produksi menjadi ciri dari periode paska pesta, periode koreksi atau periode resesi. Resesi yang dalam yang membuat sendi-sendi ekonomi kolaps disebut depresi.

Pendekatan nabi Yusuf dalam menghadapi siklus ini berbeda dengan para penguasa dunia saat ini. Yusuf, justru membentuk tabungan riil (bahan komoditi riil bukan tabungan kertas – paper saving) selama masa subur, masa boom ekonomi. Sedangkan para penguasa dunia saat ini yang menganut mazhab ekonomi Keynesian, justru boom ekonomi diciptakan dan distimulasi dengan memompakan kredit. Dengan kata lain tabungan dikuras oleh kredit. Kapasitas produksi diciptakan untuk memenuhi permintaan yang disokong kredit yang temporer sifatnya. Maksudnya ketika konsumen sudah tidak kuat lagi menahan beban kredit, konsumsi dan standard hidup harus diturunkan. Kapasitas produksi harus terkoreksi. Pada masa ini harga-harga turun karena pasokan lebih banyak dari pada permintaan. Inilah yang disebut deflasi. Ketika masa koreksi, makin banyak lagi kredit dan uang diciptakan untuk menangkal koreksi. Bisakah ketersediaan kredit menahan laju koreksi?

MENENGOK KASUS 1930
Pembaca Ekomoni Orang Waras dan Investasi (EOWI) yang setia pasti sudah memahami bahwa pandangan EOWI bahwa krisis ekonomi yang dimulai dari tahun 2009 ini punya kemiripan dengan depresi 1930 karena pemicunya sama. Dalam besarannya mungkin krisis ekonomi 2007 lebih parah dari 1930. Alasan-alasan hanya masalah besarannya. Fokus kita lebih banyak ke arah ekonomi US yang pada dasarnya menjadi motor penggerak ekonomi dunia. Ekonomi dunia yang berlandaskan konsumsi, dan konsumsi US adalah 30% dari konsumsi dunia, maka dengan menfokuskan analisa ke US, sama artinya memfokuskan diri pada pusat gempa. Apa yang terjadi di US, mencerminkan semua yang diakibatkan di dunia.

Beberapa perbedaan antara kasus 1930 dengan krisis 2007 yang bisa membuat krisis 2007 lebih parah dari krisis 1930an.

1. Besarnya kredit (di US) pada krisis 2007 adalah lebih dari 350% GDP vs. 274% untuk kasus 1930.

2. Pertanian masih menjadi andalan untuk kasus 1930. Orang masih bisa memelihara ayam, ternak, menanam sayur, jagung, dan kebutuhan pokok di halamannya yang luas. Untuk kasus 2007, ketika orang di PHK dan menganggur, mereka jadi tidak produktif.

3. Tahun 1930, hanya suami yang bekerja untuk menunjang gaya hidup masa itu. Gaya hidup tidak setinggi sekarang. Dan ketika suami di PHK, istri masih bisa cari kerja part-time. Sekarang jika kedua-duanya di PHK, maka tamatlah dunia.

4. Pasar derivatif yang besarnya $500 triliun punya potensi berbalik arah. Di tahun 1930, pasar ini tidak ada.

5. Pada masa 1930 US masih sebagai kreditur sedangkan 2007 pemerintah US punya hutang yang mendekati $11 trilliun (80% GDP). Dan untuk tahun 2009, ada potensi defisit anggaran pemerintah sebesar $1 trilliun.

Pada krisis 1930an, di US ada 9000 bank ambruk. Uang deposan $140 milyar, amblas (kira-kira ekivalen dengan $6.3 triliun uang 2008). Tingkat pengangguran di US naik menjadi 25%. Harga-harga jatuh, baik itu harga bahan komoditi atau barang jadi. Konsumsi menurun penjualan perusahaan juga menurun sehingga membuat perusahaan-perusahaan tidak bisa membuat keuntungan dan akhirnya kollaps.

Bursa saham di tahun pertama krisis 1930 mengalami tekanan dan terkoreksi sebesar 37.9%, tetapi kemudian rebound dan berhasil raih kembali 50% dari kerugiannya. Dibandingkan kasus 1930, koreksi Dow di tahun pertama krisis krisis yang dimulai di akhir tahun 2007 ini terkoreksi lebih dalam lagi, yaitu 51.9% (Chart-1 dan Chart-2). Koreksi sebesar 37.9% di krisis 1930 berlangsung hanya dalam hitungan minggu (1.5 bulan), yang kemudian rebound dan berhasil meraih kembali 50% dari koreksinya. Tetapi kemudian koreksi berlanjut sampai mencapai -89.2% mendekati 3 tahun kemudian.

Apakah pola ini juga akan berulang. Tentu saja iramanya agak berbeda dalam artian, untuk krisis 2007 ini rebound baru dimulai setelah setahun masa koreksi. Banyak faktor lain, moneter, ekonomi dan prilaku pemerintah yang perlu dilihat. Kita akan lihat satu per satu pada bagian di bawah ini.

Chart 1 (klik untuk memperbesar)

Chart 2 (klik untuk memperbesar)
TINDAKAN REFLASI THE FED DAN EFFEKFIVITASNYA
The Fed, badan swasta yang dipengaruhi pemerintah, dibentuk setelah krisis 1907 – the 1907 Bankers’ Panic. Ini adalah krisis finansial di US akibat usaha mengguyur dan menggoreng saham United Copper Company. Walaupun waktunya tepat, yaitu menjelang resesi, ternyata guyuran-gorengan itu gagal. Bank yang memberikan pinjaman untuk membiayai guyuran-gorengan United Copper Company ini di-rush oleh deposannya. Dan ini menyebar ke bank-bank dan institusi keuangan afiliasi. Seminggu kemudian badan keuangan ke tiga yang terbesar di New York, Knickerbocker Trust Company rontok. Rontoknya Knickerbocker merambat kemana-mana karena deposan kehilangan kepercayaan terhadap bank dan institusi keuangan. Kejadian inilah yang memicu dibentuknya the Fed, yang sebenarnya bertentangan dengan konstitusi US. Fungsinya adalah sebagai pemberi kredit yang terakhir pada saat kreditur lain sudah enggan memberi kredit.

Sesuai dengan mandat yang diberikan kepada the Fed, the Fed melaksanakan fungsinya sebagai pemberi kredit yang terakhir di saat tidak ada lagi yang mau. Memberikan liquiditas di saat kebekuan liquiditas. Dalam kaitannya dengan tindakan the Fed, ada perbedaan yang penting antara krisis 1930an dan krisis 2007.

Pada tahun 1929-32 the Fed menaikkan suku bunganya. Sekarang menurunkannya sampai mendekati 0% untuk merangsang penyaluran kredit, supaya orang mau mengambil kredit.

Tahun 1929-1932 the Fed malah mengetatkan supply uang dan membiarkan bank-bank runtuh. Ini menyebabkan kontraksi supply uang (Chart-1 dan Chart-2). Dan sekarang “menolong bank-bank” dan membantu dengan tambahan liquiditas.

The Fed pada krisis 2007 berani memberikan bantuan liquiditas dengan jaminan asset-asset busuk dan illiquid.

Monetary base yang merupakan uang kertas (dan koin) yang beredar di tambah cadangan simpanan bank-bank komersial adalah bentuk uang yang sangat liquid. Dalam hal monetary base, ada pola yang mirip antara depresi 1930 (1924 – 1933) dengan kasus saat ini (1999 – 2008). Perbedaannya di tahun 1930, the Fed membiarkan terjadinya kontraksi monetary base selama 2 tahun dan hampir mendekati -5%. Sedangkan saat ini the Fed memompakan liquiditas sehingga mencapai ekspansi lebih dari 70% sebelum terjadinya kontraksi. (Lihat Chart-3). Ini adalah tindakan super inflationary. Tetapi apakah tindakan super inflationary ini akan tersalur ke ekonomi dan bisa meredam gelombang deflasi?


Chart 3 (klik untuk memperbesar)


Chart 4 (klik untuk memperbesar)

Kalau dilihat, ekspansi monetary base ini tidak diikuti oleh ekspansi uang kertas yang beredar. (Lihat Chart-4). Velocity of money (perpindahan uang dari satu pelaku ekonomi ke yang lain) juga menurun (Chart-5) Ini membuat orang bertanya. Pertanyaannya ialah, kalaupun the Fed bisa memberikan liquiditas kepada bank-bank komersial, apakah liquiditas itu bisa tersalur ke ekonomi. The Fed boleh bisa memberikan kredit kepada bank, tetapi bank belum tentu mau menyalurkan kredit. Kemudian, lapis berikutnya ialah the Fed tidak bisa memaksa konsumen untuk mengambil kredit dan meneruskan pola konsumsinya yang besar pasak dari pada tiang. Kalau konsumen tidak mau mengambil kredit dan melanjutkan pola konsumsinya maka uang usaha the Fed gagal. Uang bantuan liquiditasnya hanya mandeg di bank-bank komersial. Tetapi Imam Semar hampir lupa bahwa di luar sana banyak orang gila yang suka spekulasi. Mungkin liquiditas yang diberikan the Fed tidak bisa tersalur ke konsumsi, tetapi bisa tersalur ke dunia spekulasi. Hhmmm……., asset mana yang akan jadi target spekulasi berikutnya?


Chart 5 (klik untuk memperbesar)

Chart-6 (sumber: the Fed) menunjukkan kesediaan konsumer US untuk mengambil kredit cicilan. Sampai saat ini trendnya masih menurun. Artinya, kucuran liquiditas the Fed masih tidak tersalurkan ke konsumen. Sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda pembalikan arah.

Chart 6 (klik untuk memperbesar)

Pola konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan kredit. Masalah ini adalah masalah psikologi manusia yang irrasional. Ada faktor-faktor lain. Ancaman terhadap kehidupan dimasa depan akan membuat orang lebih cenderung berhemat.Terkadang bisa berlebihan. Kesulitan hidup dimasa lalu juga mempengaruhi kecenderunan menabung. Jangan terlalu banyak mengharap bahwa Cina akan bisa menggantikan konsumer US. Demikian juga Brazil dan India. Jadi kelebihan kapasitas yang dibentuk untuk memenuhi permintaan yang temporer karena dukungan kredit harus dipangkas dan akan terpangkas.

Dalam ruang lingkup global, the Fed saat ini sudah sulit diharapkan untuk punya peran global. Artinya kalau ada kebekuan kredit di negara lain, Eropa misalnya, the Fed tidak bisa diharapkan untuk membantu. Sama juga dengan bank sentral Eropa dan bank sentral Jepang. Kondisi mereka tidak lebih baik dari the Fed. Jangan berharap juga pada bank sentral Cina. Mereka akan kalang kabut untuk mengendalikan Yuan yang punya potensi tertekan. IMF sudah terlalu banyak kliennya.

TINDAKAN STIMULUS PEMERINTAH DAN EFFEKFIVITASNYA
Yang dimaksud dengan stimulus ekonomi disini ialah memberikan uang kepada konsumen dengan maksud agar supaya konsumen bisa mempertahankan pola konsumsinya. Dengan adanya kelebihan uang dibandingkan sebelumnya, maka secara intuitif konsumen akan merasa nyaman untuk mempertahankan pola konsumsinya. Penyaluran cash ini bisa melalui penurunan dan rebat pajak penyediaan lapangan kerja pada proyek-proyek yang disponsori, didanai pemerintah dan kalau semuanya ini tidak berhasil, perang bisa dijadikan sarana penyediaan lapangan kerja. Jepang melakukan hal ini dalam usaha menangkal deflasi yang dimulai pada tahun 1990. Dalam kasus depresi 1930 di US, proyek seperti ini dikenal sebagai New Deal. Mungkin karena kurang effektif dalam menyelesaikan masalah pengangguran, akhirnya US terjun langsung ke perang dunia II di Eropa.

Ketua IMF Dominique Strauss-Kahn beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan BBC yang disitir oleh Reuters, menganjurkan agar dunia menyediakan dana stimulasi ekonomi sebesar $120 triliun dan [link]. Tentu saja orang IMF sudah gila. $120 trilliun adalah 2 kali GDP dunia. Tetapi kemudian ada ralat, bukan $120 trilliun tetapi $1.2 trilliun. Saya pikir angka ini $1.2 trillium atau $120 trilliun keduanya mustahil. Angka $120 terlalu besar sedangkan $1.2 trilliun tidak mungkin karena untuk China ($560 milyar) dan Obama US ($700 milyar) sudah melampaui $1.2 trilliun. Mungkin yang benar adalah $12 trilliun. Wow….., 20% dari GDP dunia. Saya jamin kalau stimulus ekonomi seperti ini direalisasikan, akan ada inflasi yang menggila.

Obama menjanjikan akan membuat 2 juta lowongan kerja dengan $700 milyar paket stimulus. Kemudian janji itu ditingkatkan menjadi 3 juta lowongan kerja. Apakah stimulus ini cukup untuk mempertahankan ekonomi US (dunia?). Sebelum membahas masalah effektifitas paket stimulus ini, kita akan lihat definisi tingkat pengangguran di US. Untuk bulan November 2008 lalu, menurut headline berita, tingkat pengangguran US naik 6.7% (lihat tabel di bawah). Itu adalah angka resmi. Ini bukan angka total pengangguran. Kalau ditambah dengan pekerja part-time, orang yang sudah putus asa mencari kerja dan lain sejenisnya, maka angka ini menjadi 12.5% untuk bulan November 2008. Jadi ada semacam kecurangan statistik. Seharusnya, pekerja part-time, pekerja marginal, penganggur yang sudah putus asa (untuk sementara),juga bagian dari ekonomi. EOWI akan menggunakan data pengangguran absolut ini.

Dalam setahun ini, dari November 2007 sampai November 2008, jumlah pengangguran absolut di US naik dari 13 juta orang menjadi 20 juta orang (lihat Chart-7). Jadi, kalau Obama mau menambah 3 juta lowongan kerja dengan $700 milyar sampai $ 1 triliun, hanya bisa menampung kurang dari separo pengangguran yang tercipta selama setahun ini. Proyek paket stimulasi dari Obama, mungkin baru akhir tahun depan bisa menyerap tenaga kerja. Team Obama masih harus memikirkan proyek apa yang akan dilakukan dan juga melakukan perencanaannya. Pada saat itu, EOWI memperkirakan akan ada penambahan 7 juta pengangguran lagi. Obama harus bisa bergerak cepat.

Chart 7 (klik untuk memperbesar)

Stimulus seperti yang dilakukan Obama, sangat tidak effektif. Untuk menciptakan 2 juta lowongan kerja, diperlukan $700 milyar. Artinya $350,000 per lowongan kerja selama 2 tahun. Ini jauh di atas GDP per kapita US 47,000 per tahun. Kalau tujuannya untuk mengisi kantong konsumen (supaya mereka bisa mempertahankan pola konsumsinya) bukankah lebih baik jika uang $350,000 itu bisa diberikan pada 3-4 warga US selama 2 tahun? Ini belum diperhitungkan bahwa dana stimulus ini berasal dari hutang pemerintah yang sudah mencapai hampir dari 80% dari GDP. Dan hutang ini harus dibayar pembayar pajak dimasa depan. Kasihan benar pembayar pajak dimasa depan. Mereka tidak menikmati tetapi harus membayar.

Langkah yang dilakukan US, diikuti oleh banyak negara. Cina misalnya, telah menganggarkan $560 milyar. Jumlah ini bisa berdampak 13 kali lebih besar dari paket Obama, mengingat upah buruh di Cina jauh lebih murah.

Catatan: Disaat negara-negara lain memberikan stimulus ekonomi, pemerintah Indonesia justru sebaliknya. Penerimaan pajak ditingkatkan dan subsidi BBM dihapuskan. Ini yang disebut bunuh diri ekonomi.

PROTEKSIONISME, GEJOLAK SOSIAL DAN PERANG
Mungkin agak terlalu pagi untuk mengatakan akan adanya gejolak sosial dan perang. Dari pengalaman sejarah, krisis seukuran krisis 2007 ini biasanya dibarengi gejolak sosial, pengkotak-kotakan kelompok masyarakat/bangsa, kebangkitan sosialisme dan diakhiri dengan perang. Ini adalah sifat manusia untuk mempertahankan diri mereka. Walaupun untuk kebangkitan sosialisme dan perang masih jauh dari pandangan mata, tetapi proteksionisme, mungkin tidak terlalu jauh. EOWI tidak berharap tahun 2009, proteksionisme akan merebak. Tetapi, kebangkitan ke arah sana akan dimulai tahun 2009.

Pada masa krisis berat seperti sekarang ini, pemerintah di semua negara punya kecenderungan untuk melakukan proteksionisme untuk melindungi industri dalam negrinya dan kebijakan dumping untuk membantu eksport. Walaupun dalam pertemuan G-20 2008 beberapa waktu lalu, key-notenya adalah menghindari proteksionisme. Apakah proteksionisme ini bisa dihindari?

Pada krisis 1930 undang-undang Smoot-Hawley, menetapkan kenaikan tariff bea masuk ke US dan memicu perang tariff dengan (diantara) negara-negara lain. Apakah kali ini berbeda?

Penyelamatan 3 industri otomotive US, Ford, Chrysler dan GM akan sulit sekali berhasil kalau tidak ditindak lanjuti dengan proteksi industri ini. Mereka tidak akan mampu bersaing dengan industri otomotif dari Jepang, Korea dan Jerman. Jerman dengan keunggulan persisi dan engineeringnya. Jepang dengan keunggulan hemat energinya dan Korea dengan keunggulan harganya.

Proteksinisme dan pagar-pagar perdagangan (trade barrier) nampaknya sudah diantisipasi akan meningkat ketika krisis 2007 merebak. WTO – Organisasi perdagangan dunia akan mulai memonitor dan melaporkan kenaikan tariff bea masuk dan tindakan-tindakan proteksionisme [link] sebagai usaha untuk menghambat proteksionisme dan pemasangan pagar-pagar perdagangan.

We regret that inflexibility and lack of leadership have prevailed precisely when … the world economy faces its most severe crisis in 70 years,” kata Azevedo perwakilan dari Brazil.

Industri otomotif tidak akan suka kenaikan tariff bea masuk besi baja dari Cina, tetapi mereka perlu perlindungan dari mobil import yang mempunyai kelebihan dari Ford, GM dan Chrysler. Perang dagang, proteksionisme adalah topik dimasa datang. Mungkin untuk tahun 2009 proteksionisme belum berkobar. Tetapi trend proteksionisme sudah (akan) muncul. Tanda-tandanya sudah nampak, silahkan lihat di berita ini [link]. Hanya tinggal menunggu waktunya.

HARAPAN DI TAHUN 2009
Bursa saham sudah sangat oversold. Potensi rebound sangat kuat selama tahun 2009. Indeks Dow kemungkinan bisa rally dan mencapai level 10,000 – 10,500 dan IHSG bisa memasuki level 1700 – 2000. Tetapi konyol sekali kalau menganggap bahwa krisis telah berlalu. Untuk ukuran krisis seperti krisis 2007, rentang waktu 1 tahun adalah terlalu pendek. Tech bubble 2000 perlu waktu 3 tahun untuk terkoreksi. Krisis minyak 1970an perlu rentang waktu hampir 2 tahun. Dan depressi 1930 perlu rentang waktu 3 tahun lebih untuk koreksi. Begitulah sejarah. Apakah mau berharap krisis saat ini berbeda? Kalau itu yang anda harapkan, anda pasti gila.

Investor yang cerdik, akan menggunakan rally ini untuk melepas sahamnya yang secara fundamental buruk. Kewaspadaan dan kesiapan strategi diperlukan karena hampir semua pelaku pasar berpikir sama. Yaitu mencari peluang dan waktu yang tepat untuk melepas portfolionya yang busuk.

Setelah rebound, akan pasar akan koreksi kembali. Kalau di tahun 2008, kita bisa hantam kromo untuk melakukan short selling, semua saham rontok karena liquidasi-paksa, sedangkan untuk tahun 2009 liquidasi paksa sudah berkurang dan saham yang akan rontok adalah saham-saham yang fundamentalnya buruk. Dengan demikian investor perlu riset yang baik untuk memilih target short-selling yang gurih. Kami di EOWI tidak akan berani melakukan short-selling saham-saham emas. Itu pasti.

Krisis akan berlanjut. Ke depan hutang kartu kredit akan menghadang, dari sektor kredit perumahan US, UK dan Eropa, perubahan dari bunga penggoda ke bunga mengambang masih akan berlangsung terus. Kreditur mungkin akan memberlakukan bunga yang lebih tinggi karena faktor resiko yang secara keseluruhan membuat keadaan semakin buruk.

Konsumsi menurun membuat ekonomi global semakin lesu. Tingkat pengangguran akan naik sebelum pemerintah mengimplementasikan paket stimulusnya. Walaupun tahun 2009 suram, tetapi sebagian dari 2009 akan ditandai oleh bear market rally yang cukup bagus. Paling tidak untuk Indonesia, dengan adanya pemilihan umum, waktu kematian beberapa sektor industri bisa ditunda. Tetapi hal ini diimbangi dengan tindakan bunuh diri ekonomi oleh pemerintah dengan secara diam-diam menghapuskan subsidi BBM (tidak secara resmi diumumkan) dan meningkatkan pajak. Kalau memang tujuannya mau mengurangi defisit, politikus seharusnya bisa menghapuskan posisi-posisi yang tidak berguna, seperti posisi wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati sampai wakil lurah – negara masih berjalan tanpa mereka. Juga mengosongkan sebagian besar kursi di DPR dan MPR. Karena negara tidak perlu banyak undang-undang. Mendaya-gunakan tentara yang menganggur. Serta merampingkan struktur birokrasi.

EOWI masih berpegang pada opini deflasi, karena walaupun bank-bank sentral berusaha menyalurkan kredit, tetapi mereka hanya bertepuk sebelah tangan. Bank komersial masih enggan menyalurkan kredit dan konsumen masih enggan mengambil kredit. Apakah menurut pendapat anda orang yang sudah mengalami tabungan negatif seperti Chart-8, kemudian dibebani dengan negative home equity (harga rumahnya lebih rendah dari sisa cicilan hutang rumahnya) akan melanjutkan pola konsumsi yang di atas kemampuannya? Pemerintah mungkin bisa mengatasi hal ini dengan membuat proyek-proyek besar sekali, perang besar sehingga tingkat pengangguran menurun sampai ke level 2005. Tetapi ini hanya bisa menunda krisis berikutnya yaitu hiper-inflasi. Itu masih dalam batas angan-angan, karena Jepang gagal memperoleh hasil yang diharapkan dari usaha-usaha reflasi semacam di atas. Mungkin Gideon Gono, gubernur bank sentral Zimbabwe tahu jawabnya.


Chart-8 (klik untuk memperbesar)

Sekian dulu, jaga kesehatan anda, tabungan anda dan investasi anda baik-baik.

Jakarta 3 Januari 2009.

-by Imam Semar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: