Saraba Ampat (7)

SARABA AMPAT
 
 [12]
 Dadalang Simpur barmain wayang
 Wayang asalnya sikulit kijang
 Agung dan sarun babun dikacang
 Kaler di pasang di atas gadang

 `Dadalang simpur bamain wayang`, bisa di artikan ` Dalang bekerja bermain wayang`.
 `Simpur`, sepertinya di ambil dari bahasa Jawa,`Sampur` yang berarti
 `selendang`, tapi apabila dikatakan `ketiban sampur`, atau `ketiban
 selendang`, sama artinya terkena suatu beban kerja`. Jadi `Dalang bekerja bermain wayang.`

 Suatu turunan dari kebudayaan Hindu di India, yang dibawa masuk ke Indonesia, khususnya Jawa adalah `Pagelaran Wayang`. Dan setelah masuknya agama Islam, melalui para wali-wali (terutama wali sembilan), maka cerita-cerita dalam wayang di modifikasi sehingga semuanya membawa nafas ajaran agama Islam. Seperti cerita,`Dewa Ruci` yang katanya karya Sunan Bonang. Dan yang senang memakai wayang untuk memberikan pelajaran tentang agama Islam, terutama sekali memang Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang (konon).
 Perlambang didalam wayang inilah, yang dipakai oleh Datuk Sanggul untuk menerangkan maksudnya. `Dalang kerja bermain wayang`, `Wayang asalnya si kulit kijang`.

 `Agung dan Sarun Babun di kacang`.
 Untuk satu bait ini, lama saya merenung, mempertanyakan apa yang dimaksud oleh Datuk Sanggul dalam memakai Istilah ini, karena istilah `sarun babun dikacang`, tidak saya temukan dalam istilah bahasa Banjar (yang sekarang), tidak pula saya temukan di istilah bahasa Arab maupun Melayu. Atau mungkin saja saya yang memang tidak tahu bahwa istilah itu sebenarnya ada dalam salah satu bahasa tadi.
Bahkan saya juga sempat berpikir, jangan-jangan Datuk Sanggul memakai bahasa `Suryani`.Tapi, kalau melihat di baris berikutnya,` Kaler dipasang di atas gadang`, tampak serapan bahasa jawa ke dalam bahasa Banjar.
 (Karena sudah saya tanyakan pada orang-orang Banjar sendiri, bahwa tidak ada istilah itu)., yang kata itu berasal dari bahasa Jawa yaitu,` Kelir dipasang di atas gedang`. Artinya,` Kelir` itu layar putih yang ada sebagai `background wayang`. `dipasang di atas gedang`. `gedang di sini dimaksudkan adalah `pisang` atau `pohon pisang`. Kalau istilah Jawanya `dhebog` (bacanya seperti `the book`).

Alhamdulillah ada salah seorang sahabat memberitahukan bahwa di kitab karya KH.Haderanie tentang ” Ma`rifat Musyahadah Mukasyafah Mahabah”, maksud dari
 `Agung dan sarun babun dikancang` itu :

Agung = gong;Sarun = Saron;babun = genderang; dikancang = dikencangkan talinya
 
 Dengan memakai pemahaman `Martabat tujuh`, baris ke tiga dan keempat bisa dipahami sebagai berikut,:
 `Agung dan sarun babun di kacang`.`Kaler dipasang di atas gadang`.
 `Agung` mewakili Dzat Alloh dalam martabat `Ahadiyah`, `sarun babun
 dikacang` mewakili dan menceritakan `kemuliaan` dari martabat yang kedua dan ketiga. Karena lanjutannya adalah `Kelir` yang dalam filsafat Islam di jawa ini dipahami sebagai `Jagad` alam semesta ini. Yang berada pada martabat ke enam dan ketujuh, yaitu `alam ajsam` dan `alam insan kamil`. Sedangkan `pohon pisang` atau `gadang` yang dipakai menancapkan `Kelir` tersebut adalah mewakili perlambang `alam arwah` dan `alam mitsal`. 
 [13]
 Wayang artinya si bayang-bayang
 Antara kadap si lawan tarang
 Semua majaz harus dipandang
 Simpur balakun hanya saorang

 `Wayang artinya si bayang-bayang`, Dipahami dalam filsafat Islam yang di Jawa, bahwa makna `wayang` memang berasal dari kata `bayang`. Menandakan bahwa `wayang itu si bayang-bayang`. Demikian juga manusia ini, yang dilambangkan sebagai wayang, adalah merupakan bayang-bayang dari Alloh ta`ala.
 Hal itu juga yang menjadi alasan, kenapa wayang yang indah warna-warnai, tapi yang ditunjukkan pada penonton justru bayang-bayangnya. Tetapi bila penontonnya atau si wayang sendiri bisa memahami hakekat diri, maka tampaklah keindahan atau kemuliaan dirinya. Dan kalau diteruskan kesadarannya, maka sadarlah, bahwa yang menggerakkan wayang adalah si dalang.”Man arofa nafsahu faqod arofa robahu”, barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”.

 Cerita di wayang, sama, atau analog dengan cerita di dunia ini yaitu
 `Antara kadap lawan si tarang.`Antara gelap lawan terang`.
 Kalau kita lihat, ada kesamaan filsafat wayang ini dengan filsafat aji
 saka yaitu:
 “ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa da ja ya nya, ma ga ba ta nga” “ada cerita, dua utusan, sama kuatnya, sama matinya”
 Dua utusan ini adalah `kadap lawan tarang`, antara `gelap musuh terang`,
 antara `kebenaran musuh kebatilan`. Yang memang sudah nash Qur`an juga sampai kiamat nanti, akan terus bertarung antara kebenaran musuh kebatilan ini. Dan barulah saatnya nanti (qiamat), kedua-duanya akan hancur lebur atau mati.

 Analog juga dengan filsafat cina,:
 yang dilambangkan dengan bulatan, yang separo terang dan yang separo gelap. Atau unsur yin dan yang. Hanya saja kalau di filsafat cina ini, dipahami bahwa seputih-putihnya, ada gelap sedikit. Dan segelap-gelapnya ada terang sedikit. Kenisbian gelap dan terang ini yang ditonjolkan.
 Artinya tidak ada yang benar mutlak dan tidak ada yang salah mutlak.

 Tapi Datuk sanggul mengingatkan,`semua majaz harus dipandang`. `Semua wujud atau semua bentuk tetap harus dipandang`, tetapi,` simpur balakun hanya saorang`. Hakekatnya, semua pekerjaan itu berasal dari si Dalang (hanya seorang).
 “La haula wala quwata ila billah”. “Tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya dari Alloh semata”. (Tauhid)

 [14]
 Samar, Bagung si Nalagaring
 Si Jambulita suara nyaring
 Ampat isyarat amatlah panting
 Siapa hendak mencari hening
 Serba empat yang terakhir yang diceritakan Datuk Sanggul adalah 4
 punakawan (4 hamba) dalam wayang yaitu,`Semar, Bagong, dan
 Nologareng(Gareng),` serta` Si Jambulita suara nyaring` yaitu `Petruk`
 yang rambutnya njambul itu. Mungkin ini bisa dipahami satu tahapan akhir dalam proses manusia yang mencari kebenaran yaitu proses `penghambaan diri` pada Alloh. atau `Hamba Alloh` atau “Abdulloh”.

 Serba empat menurut Datuk Sanggul sangat-lah penting,` Ampat isyarat amatlah panting` bagi `Siapa yang hendak mencari hening` atau `bagi siapa saja yang hendak mencari kebenaran`.
 kututup dengan ucapan syukurku “Alhamdulillah” pada Alloh, pada Nabi Muhammad dan pada Syech Abdul Jalil atau Datuk Sanggul, yang telah memberikanku petunjuk, pengertian dan pemahaman.

 Ada kesalahannya, semata-mata adalah karena kedholiman diriku ini., yang tidak mampu memberikan keterangan.
 wassalam
 huttaqi

 

sumber: http://www.huttaqi.com/artikel.php?id_isi=185&id_ttl=41&flag=0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: