Menyingkap Rahasia Sang Diri

• Kesadaran dan Kewaspadaan Sang Diri-Jati

       Sang Diri-Jati adalah kesadaran mendengar dari telinga, sama halnya
dengan, kesadaran dalam fungsi-fungsi indriya lainnya. Organ pendengaran,
organ
penglihatan, dll. tidak mampu berfungsi tanpa hadirnya Kewaspadaan Sang
Diri-Jati. Sifat dari Sang Diri-Jati dapat didefinisikan dengan apa ‘yang
bukan
itu’ (what it is not) dan tidak dengan ‘yang itu’ (what it is).

Sang Diri-Jati, seperti apa adanya dia, tak dapat dilukiskan, oleh karena
ketiadaan karakteristik-karakteristik yang dibutuhkan oleh suatu pendefinisian
untuk itu. Ia bukan substansi dengan atribut-atribut, bukan pula sosok pribadi
yang mengarahkan indriya-indriya, dll. Ia bukan apa-apa (nothing) bagi
indriya-indriya dan juga pikiran, walaupun segala-galanya bagi dirinya
sendiri.

Walaupun demikian, tindakan-tindakan pembebasan, kemauan dan determinasi,
memungkinkan bagi kita untuk menduga/mengambil kesimpulan atas sifat dari Sang
Diri-Jati. Kelahiran, asal dan substansi penyusunnya tak dapat dijelaskan dan
ditentukan, kecuali atas dasar pengertian tentang suatu yang tak-berawal, dan
yang tak-tersusun.

Dunia pengalaman adalah indikator dari keberadaan sosok Makhluk Abadi.
Penerimaan terhadap keberadaan kita yang terbatas adalah bukti dari adanya
Ketidak-terbatasan. Bahwasanya manusia tak-sempurna, juga berarti bahwa ada
Makhluk Yang Sempurna. Akan tetapi, tetaplah tidak memungkinkan untuk
menganggap
bahwa kita sendiri kini sempurna, sebab pengalaman kita sendiri menentang
keras
kesimpulan serupa itu. Bilamana ketidak-hadiran dari apapun juga yang
mendatangkan berbagai kesulitan dan bencana, barulah nilai dari kehadirannya
dapat disadari. Bilamana tanpa sesuatu petunjuk, penjelasan apapun tak bisa
diberikan, kita diharuskan untuk menerima/mengakui realitas dari ‘sesuatu
itu’.

Tak ada pengalaman yang dapat dijelaskan tanpa dilandasi oleh kehadiran
Diri-Jati, kecuali atas landasan sesosok Diri yang permanen. Rasa ‘aku’
yang ada
didalam menolak untuk ditolak, dan memantapkan dirinya bahkan sebelum kita
memulai memikirkannya.

• Lima Selubung Eksternal bukanlah Realitas Sejati

Kesadaran dipresuposisikan oleh pemikiran. Apapun yang merupakan suatu
kombinasi
dari beberapa bagian (komposit), haruslah bergantung pada ‘sosok keberadaan
utuh non-komposit’. Perbedaan-perbedaan hanya dapat dijelaskan oleh
ketidak-berbedaan. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan badaniah memiliki suatu
nilai, hanya atas dasar hipotesis dari ketidak-mampuan makhluk (dalam
menjadi).
Kita memberi nilai kepada keberadaan ragawi kita, oleh karena kita
mencampur-adukkan antara Diri-Jati —yang tak-terbagi— dengan raga terbagi ini.
Indriya-indriya tidak bersesuaian satu dengan yang lainnya, namun
ketidak-sesuaian ini didamaikan dan diharmonisasikan oleh Sang Diri-Jati,
pemersatu didalam. 

       Dalam keadaan terjaga, kesadaran meliputi tubuh, seperti halnya api
membuat bola besi menjadi merah membara, tatkala dipanasi. Menjadi sulit
membedakan antara api dan bola besi itu sendiri dalam keadaan seperti itu.
Sama
halnya dengan raga, tampak seperti Sang Diri-Jati oleh karena rembesan
kesadaran
pada raga dan indriya-indriyanya. Akan tetapi kesadaran berbeda dengan raga
berikut indriya-indriyanya, tak ubahnya seperti api yang berbeda dengan bola
besi itu.

Pengungkapan rahasia Diri merupakan sifat alami dari Sang Diri-Jati sendiri.
Oleh karena itulah maka indriya-indriya sensorik dapat mengungkapkan
objek-objek pada kita. Tanpa itu mereka mati.
Seperti halnya matahari menerangi dunia, Sang Diri-Jati menerangi lahir dan
batin. Nah, inilah yang membuktikan bahwa raga bukanlah Diri-Jati, demikian
juga
batin.  

       Sama juga halnya, Prana bukanlah Sang Diri-Jati. Prana adalah ekspresi
dari pikiran. Ia merupakan saluran penghubung antara pikiran dan raga. Aliran
Prana diatur oleh fungsi dari pikiran, dan pada gilirannya, raga dikendalikan
oleh gerakan Prana. Kondisi raga tergantung pada bagaimana kerja  Prana, dan
kondisi dari Prana tergantung pada bagaimana kerja si pikiran, berikut
keinginan-keinginan yang dipunyainya. 

       Hadirnya hidup pada Prana disebabkan oleh hidup dari Sang Diri-Jati.
Prana tidak mempunyai hidup (ataupun kesadaran) dalam keadaan tidur nyenyak,
ketika ia tak-berhubungan dengan Sang Diri-Jati. Ada juga yang lepas dari
kesadaran seperti bernafas dan fungsi-fungsi lain dari Prana. Oleh karena itu
dapat disimpulkan bahwa, dapat dipahami bahwa tak satupun dari kelima selubung
eksternal (panca mayakosa) memiliki realitas.

sumber: http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/4629?var=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: