Sentimen Positif dan Bangkitnya Sektor Riil

KEBANGKITAN ekonomi sebuah negara membutuhkan dukungan kondisi makro yang menunjang. Kondisi itu dapat berupa tingkat inflasi yang relatif rendah, kurs mata uang yang menguat, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin mantap.

Meskipun dibayang-bayangi tragedi di sana-sini, memasuki hari-hari pertama 2007, sekurang-kurangnya ada tiga sinyal positif yang dapat mendatangkan inspirasi.

Pertama, pemerintah telah mengumumkan bahwa inflasi sepanjang 2006 tercatat ‘hanya’ sebesar 6,6%. Ini sebuah angka yang menggembirakan. Menggembirakan karena angka ini tidak saja jauh lebih rendah daripada tingkat inflasi 2005 sebesar 17,11%. Namun, juga lebih rendah daripada yang ditargetkan pemerintah sendiri, yakni sebesar 8%.

Kedua, nilai tukar rupiah sempat menciptakan keseimbangan baru dengan menembus batas psikologis Rp9.000 per dolar Amerika Serikat (AS), yang dalam setahun terakhir menjadi benchmark perdagangan valuta. Dalam tiga hari pertama 2007, rupiah sempat diperdagangkan pada level Rp8.940 hingga Rp8.990 per dolar AS, meskipun kemudian kembali lagi ke kisaran Rp9.000 per dolar AS.

Ketiga, Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,50%.

Memang terlalu dini untuk menyimpulkan tiga indikator itu pertanda bahwa setelah terpuruk selama hampir satu dekade, ekonomi Indonesia akan segera pulih. Juga terlalu terburu-buru bila dikatakan kondisi ini otomatis akan menggerakkan sektor riil.

Namun, para pelaku ekonomi baik pemerintah maupun swasta hendaknya tidak membiarkan momentum ini berlalu begitu saja. Karena, betapa pun lemahnya, sinyal positif itu dapat menjadi inspirasi untuk mencetuskan energi baru, pendorong kebangkitan di semua sektor perekonomian. Terutama sektor riil.

Semua paham bahwa selama beberapa tahun terakhir, sektor ini mengalami mati suri. Angka-angka makro yang optimistis telah diketengahkan. Namun, semua itu tidak ada artinya. Sebab dampaknya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat luas dalam bentuk peningkatan kesejahteraan. Dan peningkatan kesejahteraan masyarakat luas tidak terjadi karena sektor riil tidak bergerak.

Majalnya sektor riil juga telah menciptakan kemajalan berikutnya dalam upaya penurunan tingkat pengangguran dan pemberantasan kemiskinan. Karena itu, sinyal perbaikan atas makroekonomi ini harus dimanfaatkan untuk memulihkan ekonomi riil masyarakat.

Untuk itu, dunia usaha dan sektor perbankan harus mendukung. Penurunan BI rate yang baru saja dilakukan diharapkan terus berlanjut pada 2007. Itu penting mengingat penurunan suku bunga BI dalam 2006 nyatanya tidak berdampak pada penurunan suku bunga kredit perbankan nasional. Itu tidak boleh terjadi lagi tahun ini.

Sudah tepat bila Kepala Negara mendesak Bank Indonesia dan perbankan nasional agar terus menurunkan suku bunga sehingga dapat memompa pertumbuhan di sektor riil.

Lebih dari itu, pemerintah harus mampu mengelola persepsi positif yang muncul di awal tahun ini sebaik-baiknya. Ia harus menjadi sentimen positif dan spirit pergerakan pasar serta seluruh aktivitas perekonomian setahun ke depan. Itulah kunci bagi bangkitnya kembali ekonomi nasional.

sumber: Editorial Media Indonesia (Sabtu, 06 Januari 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: