Ketika…

Ketika kulihat dirimu, aku tertawan
Ketika kuwirid namamu dalam hembusan nafas
Aku fana, lebur dalam ruhmu, menyatu dalam aliran darah
Jiwaku remuk dalam tusukan aura keharmonian
Aku hilang, dan Engkaupun menjadi Aku

Orang bilang aku telah mabuk
Orang bilang aku telah minum air yang terlarang
Namun apalah mereka tahu
Bahwa cinta adalah beda dengan nafsu

Jika engkau memandang cinta identik dengan kenafsuan
Maka sesungguhnya matamu telah buta
Jikalau hati merindukan cinta maka terlihatlah cerminan bayanganNya
Bagaimana itu bisa disebut nafsu
Sedang nafsu sendiri telah terbakar dalam kesilauan kebesaranNya
Yang memantul dalam dirimu

Ketika aku memanggil namamu,
Aqalku lumpuh untuk memahami
Keberanianku takluk dalam kelembutan
Kesombonganku runtuh sujud di bawah pesonamu

Raga terpisah, tersiksa dalam sekat lahiriyah
Sakit dan sakit, yang tertusuk adalah sirr
Pusat segala jiwa, bagaimana ku tak sekarat
Namun tahukah engkau
Dalam sakit yang panjang, disitulah kenikmatan yang besar

Ketika jiwamu merasuk dan aku menjadi trance
Nikmat luar biasa…, segala pujian padaMu wahai Penguasa Kenikmatan
Engkau curahi kafilah yang kehausan dalam terik pesonanya
Dengan salju ketenangan dan keheningan
ketiadaan… MATI
"sejatining ora ono opo-opo sing dhihin awit duk awang uwung iku Ingsun"
"Ingsun sing amartaning Dat, Sipat, Afngal"
"jroning siro sipat Rahman Rohim"

Kuberitahu engkau,
Walau hatimu menamparnya
Bagi sirrku, tamparan itu bagai belaian lembut yang menyejukkan
Karena yang menampar itu engkau bukan ruhNya
Sedang sang ruh cinta tiada pernah berkehendak
Yang ada dalam benaknya adalah tetesan belaian kesucian hakiki

Kuberitahu engkau,
Walau engkau lari menjauh dan bersembunyi
Namun sang ruh cintamu tiada mau terpisah dari sirrKu
Bagaimana bisa bercerai sedang hakikat cinta itu Ahad

Engkau boleh mencaci, engkau boleh muak, engkau boleh menampar
Namun ketahuilah, sirrku telah fana dalam ruh kecintaan
Menuju ketiadaan yang berAda
Dalam semesta yang ahad penuh mahabbah
"surodiro jayadiningrat lebur dening pangesti"

Aku.. Engkau.. adalah Dia
yang Kau sebut itu Dia
ketika jasadiyah hancur
yang baqo adalah esensi
maka…
Aku adalah Sang Pecinta Esensi
sesungguhnya esensi itu sendiri adalah AKU
"amaliyo manungso sanyoto drajat khalifah murid khidir
amukti nur Ahmad sujud dening Dzat
ing rahsa tresno sipat manunggaling kawula gusti"

(Haditya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: