Untukmu Sayangku

Sayang, aku tahu bahwa engkau layak menganggapku laki-laki yang tidak romantis. Laki-laki yang jarang mengajakmu menonton ke bioskop, mengirimimu rangkaian bunga, atau sekedar pergi ke sebuah konser musik di malam minggu, dimana ratusan pasang kekasih berbondong-bondong mengunjunginya.

Sayang, aku juga tahu bahwa engkau pantas berfikir bahwa aku adalah lelaki miskin yang pelit. Lelaki yang jarang mengajakmu bersantap di restoran terkenal, membelikanmu pakaian merk mahal, bahkan untuk sekedar menelfonmu setiap malam untuk mengucapkan “Selamat tidur sayang, mimpi yang indah!”

Sayang, aku mengerti bahwa engkau bisa saja menganggapku sebagai pria bodoh yang kurang pengertian. Pria yang sering memberikan nasihat salah untuk skripsimu, pria yang tidak bisa memberikan saran yang pas untuk pilihan gaun yang hendak kau beli, bahkan teramat sering tidak tahu harus pergi kemana saat berkendara motor bersamamu.

Sayang, mungkin satu-satunya yang aku punya hanyalah ketulusan hati bahwa “Aku teramat mencintaimu”.

Maafkan jika ternyata aku bukanlah pangeran tampan berkuda putih seperti dalam impianmu. Maafkan aku bahwa ternyata aku bukanlah Alibaba yang memiliki segudang harta karun.

Sayang, bukannya aku tak suka menonton bioskop bersamamu, bukan pula aku tak mau bersantap di restoran bersamamu, dan sungguh bukannya aku enggan menghiasimu dengan pakaian mahal.. Aku merasa bahwa aku lebih suka menabung untuk berbagai kebutuhanmu yang lebih mendesak, aku lebih suka membantumu membiayai skripsimu sayang. Aku lebih suka menabung untuk membelikanmu cincin indah untuk hari ulang tahunmu, serta membantumu untuk biaya hidup ketika tabunganmu sudah habis dipertengahan bulan. Percayalah sayang, bukannya aku tak suka mengendarai kendaraan mewah bersamamu, tapi aku lebih suka menabung untuk menyiapkan rumah untukmu tinggal di masa mendatang.

Maafkan aku sayang, ternyata aku bukanlah Nostradamus yang bahkan bisa meramalkan masa depan. Bukannya aku tak mampu memberikanmu nasihat untuk pilihan gaun yang hendak kau beli sayang, tapi aku lebih suka engkau menjadi dirimu dengan pilihanmu sendiri ketimbang memaksakan pilihanku untuk kau sukai. Dan bukan pula aku tak suka menelfonmu setiap malam untuk menyampaikan “Selamat tidur sayangku”, tapi aku lebih suka mengucapkannya langsung sambil menatap wajah bidadarimu sayang. Sungguh bukan pula aku begitu bodoh hingga tak bisa untuk sekedar menentukan tujuan saat berkendara bersamamu, tapi percayalah sayang yang kubutuhkan hanyalah bersamamu. Sudah cukup bagiku untuk sekedar mendengarkan langgam suaramu, seruling surgawiku.

Sayang, bagiku engkau adalah sekuntum bunga indah yang sempurna, yang tak perlu aku hias lagi dan tidak juga butuh diperbaiki. Aku menyukai pilihan-pilihanmu, aku menyukai dekat bersamamu untuk sekedar merasakan hangat jiwamu di kedalaman pancaran mata kristalmu. Sayang, bagiku engkau adalah segalanya. Aku sudah bahagia hanya dengan melihatmu dalam anganku saat kau mengenakan tas pemberianku. Aku bahagia dengan sekedar mengetahui bahwa kau menyukai anting perak dihari ulang tahunmu. Aku bahagia dengan harapanku bahwa engkau berkenan menyimpan cincin emas yang kupersembahkan untuk sepanjang hidupmu.

Aku sudah bahagia dengan mengingatkan bahwa kau harus membayar cicilan motor hari ini, sebelum meminjam dasi untuk wisudamu minggu depan dan mengingatkan beberapa agenda kecil lainnya yang harus kau kerjakan hari ini. Aku sudah bahagia menjaga dan memegang tanganmu disetiap anak tangga yang kau turuni. Aku sudah bahagia dengan membawakan mukenamu dalam tasku untuk kau pakai shalat hari ini sayang, aku bahagia dengan setiap hari membawakan handphone-mu dalam sakuku, serta mengingatkanmu di sepanjang jalan agar dompetmu tidak tercecer. Aku sudah bahagia dengan seharian menemanimu ke toko buku untuk mencari buku perpustakaan pengganti yang sudah kau hilangkan.

Aku sudah bahagia sayang hanya dengan menyimpankan gelang yang selalu kau tinggalkan sehabis shalat, atau sekedar menyematkan peniti dibajuku untuk bisa menggantikan peniti di jilbabmu yang hilang hari ini. Sayang, aku sudah bahagia dengan menunggumu berpanas-panas dimotor ketika engkau sedang terburu-buru memfotokopi transkrip untuk kau pakai 2 menit lagi. Aku sudah bahagia untuk sekedar bangun malam dan memanjangkan do’aku untukmu agar kau bisa menghadapi pendadaranmu 2 minggu lagi, agar kau bisa tidak flu dan pusing lagi besok pagi, dan agar kau bisa mencapai karier yang kau impikan.

Sungguh tak kubutuhkan engkau menghiasi dirimu dengan memakai semua pemberianku. Bagiku cukuplah engkau mengingatku dalam hatimu untuk selamanya.

Tapi jika ternyata semua itu belum cukup untukmu sayang, maafkan bahwa ternyata aku bukanlah manusia sempurna yang kau impikan. Maafkan jika kisah kita tidaklah seperti roman cinta yang telah lama engkau simpan dalam khayalmu. Bagiku engkau memiliki seluruh hidup dan pilihanmu sayang, jika semua yang kumiliki belum bisa membuatmu bahagia, pilihlah kekasih hati yang sempurna untuk menerangi keanggunan dirimu. Bagiku cukuplah untuk mengenang namamu dalam hatiku untuk selamanya, bahwa aku pernah memiliki bidadari surgawi, yang akan kucintai hingga akhir nafasku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: