Municipal Bond (MB) – Media Pembangkrutan

Saya tidak akan membahas emas dan perak. Semua sudah tahu tentang uang sejati ini. Saya pikir membahas uang-uangan, uang politikus, lebih kelihatan intelek. Kebetulan saya mendapat bahan dari seorang anggota KSC yang diperolehnya dari mailist nya dia. Uang politikus kali ini adalah Municipal Bond – MB. Saya lebih suka memelesetkan menjadi Media pemBangkrutan. Perkara uang dan hutang, yang pasti, dalam 1-2 bulan kenaikan harga emas melebihi kupon (bunga) SUN (Surat Utang Negara), ORI (Obligasi Ritel Indonesia) atau MB (Minucipal Bond).

Sebelumnya kita mulai dengan email yang berasal dari mailist tetangga – ITB75 (alumni ITB tahun 1975. Dibawah ini adalah email yang ke-3. Yang pertama adalah pengenalan pada Municipal Bond MB yang dibalas oleh rekan anggota KSC (sebut saja namanya IMD) bahwa MB akan meningkatkan inflasi. Kemudian dibantah lagi oleh rekan mailist pro-bond sebut saja namanya BTS. Berikut ini adalah bantahan untuk opini anggota KSC – uang sejati yang ikut di mailist itu oleh anggota mailist pro-uang politikus.

Quote dari email BTS:
Obligasi Negara tidak mempengaruhi Inflasi. Uraiannya sebagai berikut :

1. Pemerintah itu sudah sejak lama berutang karena pendapatan yang diperoleh dari pajak tidak cukup untuk memenuhi tuntutan pembangunan. Utang yang paling lunak ya berasal dari luar negeri baik secara bilateral (misalnya langsung dengan Jepang, Jerman, dsb) dan atau multilateral (ADB, World Bank, KfW, JBIC, IDB, dsb).

2. Selain pinjam dari Luar Negeri, Pemerintah jaman Pak Harto dulu juga pinjam ke BI dengan bunga yang sangat murah (2%) yang disebut dengan Kredit Likuiditas BI. Contohnya adalah KLBI untuk Kredit Pemilikan Rumah-BTN. Sekarang, BI tidak dalam kontrol Pemerintah sehingga Pemerintah tidak boleh lagi pinjam ke BI dengan bunga murah. Kalau mau pinjam ke BI ya pake bunga SBI.

3. Oleh karena pinjam dari Luar Negeri bunganya akan dinikmati oleh Luar Negeri, maka diterbitkan UU No. 24/2002 tentang Surat Utang Negara (SUN), khususnya diatur penebitan Obligasi Negara. Obligasi Negara ini diprioritaskan dijual di Dalam Negeri sehingga bunga (coupon) bisa dinikmati bangsa sendiri. Untuk itu telah diterbitkan Treasury-Bond (jangka waktu 10 tahun) dan Bill-Bond (jangka waktu 5 tahun). "Coupon rate"nya antara 10,5 -11%. Oleh karena T-Bond dan B-Bond satuannya mahal dan yang beli umumnya korporat, maka diterbitkan Obligasi Retail Indonesia (ORI) dengan kupon 12% agar masyarakat biasa bisa beli. Harga satuannya cukup murah. Orang yang punya uang Rp 5 juta sudah bisa beli. Belinya juga mudah yaitu di BNI dan di Bukopin.

4. BI tak pernah beli Obligasi Negara sehingga BI tidak perlu cetak uang. Yang beli Obligasi Negara adalah pasar, yaitu masyarakat domestik dan juga investor Luar Negeri yang berminat. Namun demikian, penerbitan Obligasi Negara juga harus dibatasi. Jangan sampai terjadi seperti di Brazil. Karena terlalu banyak menerbitkan Obligasi Negara, dan ketika default, nilai obligasi-nya jatuh, terpaksa dilelang dengan harga yang sangat murah dari nilai pokoknya.

5. Oleh karena Obligasi Negara tidak dibeli BI, dan BI tidak mencetak uang untuk Obligasi Negara, maka penerbitan Obligasi Negara tidak menyebabkan inflasi atau tidak menambah M1.
Unquote:

Komentar Imam Semar:

A. Penerbitan surat utang adalah tindakan yang biadab, apalagi surat utang 30 tahun. Kata rekan pro-uang politikus ini: “Pemerintah itu sudah sejak lama berutang karena pendapatan yang diperoleh dari pajak tidak cukup untuk memenuhi tuntutan pembangunan.”

Pendapatan pemerintah sebagian besar berasal dari pajak atau yang seperti pajak/tagihan. Dengan adanya pembangunan diharapkan ada peningkatan hasil pajak. Kenyataannya, setelah pembangunan 5 tahun (PELITA) Indonesia yang ke-sekian (sampai lepas landas dan nyungsep), penghasilan pajak tetap tidak bisa mencukupi belanja negara. Dimana salahnya? Negara adalah badan yang selalu/sering rugi. Pernahkah anda mendengar berita ada suatu negara yang untung? Bahkan cara yang terpasti untuk mengubah suatu perusahaan yang menguntungkan menjadi perusahaan yang rugi ialah dengan menasionalisasikan. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Inggris, US, Jepang, Cina atau Russia. Jadi siapa yang akan membayar utang itu. Untuk utang 30 tahun, maka anak yang belum lahirlah yang harus membayarnya. Biadab, karena anak itu tidak menikmati sama sekali produk yang harus dibayarnya.

B. Rekan KSC pro uang sejati kita, IMD, biasa membaca tentang kelakuan the Fed, berargumen bahwa bank sentral akan membeli surat utang dengan uang yang dicetaknya. Itu inflasi. Sebenarnya bukan itu saja mekanisme inflasi (penambahan uang di ekonomi). Yang agak berliku dan terselubung ialah dengan masuknya uang dari luar negri. Apakah itu dari uang konglomerat yang diparkir di Singapore atau uang Yen carry traders (pinjam Yen untuk spekulasi). Dengan masuknya Yen atau dollar, maka rupiah akan menguat. Penguatan rupiah akan membuat produk Indonesia kurang kompetitif. BI akan melakukan operasi pasar dengan menyerap sebagian mata uang asing. Sebagai gantinya maka beredarlah rupiah-rupiah baru. M1 naik. Tentu saja cadangan devisa BI akan naik. BI tidak akan menyimpan semua uang asing itu cash, sebagian ditukarkan dengan bond, misalnya US Treasury Bond. BI memang tidak membeli secara langsung MB atau surat utang lokal lainnya, tetapi buntut-buntutnya BI MENCETAK DUIT BARU dan membeli bond atau mata uang asing.

Ada yang paling mengganggu dalam masalah inflasi selama dekade ini. Jepang yang menerapkan suku bunga pinjaman di bawah 1%, menjadi sumber dana spekulasi semacam ini yang dikenal sebagai Yen carry trade.

Ini hanyalah satu atau dua mekanisme pertambahan peredaran uang-politikus.

C. Saya termasuk yang menentang campur tangan pemerintah dalam masalah mengelolaan kemakmuran. Pemerintah, birokrat dan para politikus sebagai pelaku pemerintahan adalah pelaku bisinis yang buruk, apalagi kalau dikaitkan pada mekanisme pasar dan kemakmuran. Andaikata campur tangan pemerintah, birokrat dan politikus merupakan jalan yang terbaik baik, maka Soviet Union, Cina era Mao, dan negara-negara sosialis sudah lama makmur! Andaikata kemakmuran atau pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan dengan membuat utang, maka Jepang tidak sudah lama keluar dari kemelut ekonominya yang sudah berlangsung selama 17 tahun sejak tahun 1990.

Kalau anda menganggap negara sosialis adalah contoh yang kurang tepat, maka saya ambil Jepang. Pemerintah Jepang 17 tahun lalu, hampir tidak punya hutang. Selama krisis ekonominya sejak 17 tahun lalu, pemerintah Jepang membuat utang untuk membiayai projek-projek mubazir pemerintah dengan harapan bisa menstimulasi ekonomi. Jalan-jalan yang tidak pernah dilalui mobil dibangun, semua tempat disemen, dibuat beton……,mungkin dipakai, mungkin juga tidak dan akhirnya sekarang utang pemerintahnya mencapai 150% dari GDP nya. Dan pertumbuhan ekonominya masih loyo. Yang kasihan ialah para penabung. Seharusnya mereka bisa menikmati uangnya yang stabil nilainya. Satu kilo daging hari ini sama harganya dengan 30 tahun kemudian.

D. Pada poin 1, BTS mengatakan bahwa pemerintah punya track-record selalu berhutang, dan salah salah utangnya bisa default (gagal bayar) seperti diterangkan pada poin 4. Buat orang yang waras surat utang pemerintah punya resiko yang tinggi untuk hancur. Sangat mengherankan kelompok yang mengaku “Putra-Putri Indonesia Terbaik” (ITB angkatan 1975) ada tidak mampu melihat track-record ini. Rekan BTS juga mengatakan bahwa sejak reformasi, BI berdasarkan undang-undang menjadi badan yang independen dari pemerintah. Jadi surat utang ini punya potensi yang tinggi untuk jadi toilet paper, mungkin wall paper.

Saya tidak percaya bahwa BI atau bank sentral lainnya akan berpangku tangan pada saat krisis bond. Kalau pemerintah gagal bayar, kepercayaan investor hilang, dan tidak akan ada lagi yang mau meminjami uang. Dan bagi karyawan BI yang digaji pemerintah, harus mencetak gajinya sendiri. Unjung-ujung nya menc
etak uang lagi.

Apakah anda percaya bahwa BI (bank sentral) akan tinggal diam pada saat pemerintah klabakan membayar hutangnya? Saya tidak. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah. Bank sentral akan menolong dengan mengglontorkan liquiditas dan ….. menciut kan nilai riil tabungan anda sebagai rakyat. Itu sejarah, dan pasti berulang.

E. Emas dibenci oleh para politikus. F.D. Roosevelt, presiden US, me-illigalisasi kepemilikan emas pada tahun 1933, karena rakyat yang kehilangan kepercayaannya terhadap dollar beramai-ramai menukarkan uangnya ke emas. Untuk mencegah hal ini Roosevelt membuat undang-undang yang akan memenjarakan pemilik emas selama 10 tahun plus denda 2 kali nilai emas yang dimilikinya (dalam hal ini saya mungkin tidak akurat).

Nixon, tahun 1973 menghapuskan keterkaitan dollar terhadap emas karena dia (bersama bank sentralnya) tidak bisa mencetak uang seenak udelnya dan para negara kreditur menagih hutangnya dalam bentuk emas, bukan dollar. Sukarno pun pernah membatasi kepemikikan emas.

Kalau ada lihat uang R 1000 dan Rp 100,000. Keduanya terbuat dari kertas dan tinta. Tenaga dan usaha untuk membuatnya (dari membuat kertas sampai pencetak ) juga sama. Lalu apa yang membuat berbeda dalam nilai? Beratnya? Indahnya (bagaimana dengan uang yang lusuh dan masih baru?).

Emas batangan 100 gram dan 1000 gram. Nilainya berbeda karena untuk mendapatkan (menambang) 1000 gram emas diperlukan usaha 10 kali lebih besar dari pada mendapakan 100 gram emas. Adil, masuk akal dan jelas.

Nasehat saya bagi Putra-Putri Terbaik Indonesia: gunakan akal kalian.

Ada berita yang lucu di Sydney Morning Herald tanggal 25 Nov-06, saya copy-kan beritanya:

Tony Blair’s recent interview with Sir David Frost got a few observers quite worried about the Prime Minister’s state of mind. His response to Frost’s observation that Iraq has been "so far pretty much of a disaster" was so far removed from reality as to be alarming. It is worth noting the Prime Minister’s reaction in full:

"It has [been a disaster] but, you see, what I say to people is: ‘Why is it difficult in Iraq?’ It’s not difficult because of some accident in planning, it’s difficult because there’s a deliberate strategy – al-Qaeda with Sunni insurgents on one hand, Iranian-backed elements with Shia militias on the other – to create a situation in which the will of the majority for peace is displaced by the will of the minority for war."

It’s not easy to deconstruct this statement. It seems to say: "It’s not our fault. Our plan was excellent. It’s just that the bad guys didn’t do the right thing – it’s so unfair.”

Ha ha ha ha ha ha ha ha …….

Lindung tabungan anda. Beli emas dan perak. Uang sejati.

Sumber: KSC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: