Indonesia dekade 2000-2010

Empat orang aparat polisi dan angkatan laut dibunuh secara kejam di Irian. Kepalanya dihantam dengan batu pada saat mereka sudah tidak berdaya. Demonstrasi dengan membawa panah dan parang. Mungkin kalau mereka punya senapan, mereka akan membawanya pula. Itu di Irian. Di Jawa Timur, demo buruh. Di Prancis demo menentang undang-undang perburuhan. Di Irak demokrasi ditegakkan, tetapi kurang laku, hanya sebagian saja yang mau menerimanya. Bom masih meledak disana sini. Di California US, ratusan ribu imigran gelap berdemonstrasi minta diakui keberadaannya. Edan Pelanggar hukum berani unjuk rasa.

Ada berita bahwa Plaza Senayan dibom. Korbannya: 20 orang mati, 34 orang luka-luka. Ada yang parah, ada yang ringan dan ada ……., 1 orang tertipu pada setiap kali artikel ini di baca…., ha ha ha ha. Jangan terlalu serius. Kita harus bergurau sedikit.

Walaupun judulnya siklus Kondratiff, saya tidak akan membawakan cerita tentang siklus Kondratiff secara spesifik, tetapi siklus ekonomi dan sosial secara umum.

Kehidupan manusia dan alam berjalan naik-turun mengikuti beberapa siklus. Ada yang pendek, ada yang jangka menengah dan ada yang jangka panjang. Paling tidak, naik-turunnya kegairahan hidup dan ekonomi bisa dimodelkan sebagai resultan beberapa siklus bisnis. Kondratiff- seorang Russia, mengamati adanya siklus ekonomi/sosial yang mempunyai frekwensi 50-80 tahunan. Setelah Kondratiff, beberapa analis membagi-bagi menjadi beberapa siklus yang lebih kecil, 20 tahunan, 10 tahunan dan seterusnya.

Dari segi ekonomi dan bisnis, siklus ini bisa berarti bisnis yang menanjak (spring) dan marak kemudian sampai ke puncaknya (summer). Setelah itu, menurun dan masuk ke masa murung dan mencekam, depressi (winter). Satu siklus tidak selalu sama dengan seklus sebelumnya. Intensitasnya pun tidak sama. Bisa jadi lamanya tidak sama, dalam arti makin lama makin memanjang atau memendek.

Pada masa spring, aktivitas ekonomi biasanya seperti bangun dari tidur. Kegiatan-kegiatan baru mulai marak. Biasanya pada saat ini beberapa teknologi baru berhasil diadaptasi.

Kemudian diikuti dengan periode summer, boom. Konsumsi naik. Dari sudut internasional terjadi persaingan memperebutkan sumber daya alam, friksi-friksi sosial politik dalam memperebutkan sumber daya. Dan banyak terjadi mal investment – salah dan kebanyakan investasi.

Siklus 10 – 12 tahunan di Indonesia
Dari pengamatan saya, di Indonesia ada siklus sosial 10-12 tahunan dari puncak ke puncak. Mungkin ada kaitannya dengan sistem penanggalan Cina (Shio) yang siklusnya 12 tahun sekali. Saya tidak mengamati puncaknya tetapi penurunannya – titik nadirnya. Saya mulai dari tahun 1926-1927, pembrontakan di Sumatra dan Banten. Buntutnya adalah penangkapan-penangkapan banyak pemimpin partai pribumi. Dilihat dari ukurannya, titik nadir siklus 10-12 tahunan Indonesia ini berbarengan dengan titik puncak (mendekati puncak) siklus Kondratieff. Jadi skalanya tidak terlalu buruk.

Tahun 1930-1932, malaise di Hindia Belanda. Dunia memasuki periode Kondratieff autumn. Masa ini tidak terlalu banyak gejolak sosial di Hindia Belanda. Masa ini berdekatan dengan titik puncak siklus Kondratiff dimana munculnya proteksionisme, sosialisme, “big-brother” dan pengotak-kotakan dalam masyarakat. Hitler dan Mussolini fasis di Eropa. F.D. Roosevelt di US. (Catatan: FDR mengharamkan kepemilikan emas di US). Titik nadir siklus 10-12 tahunan di Hindia Belanda juga belum banyak melahirkan konflik berdarah. Walaupun tidak banyak gejolak sosial yang besar dimasa ini di Hindia Belanda, tetapi nampaknya apa yang terjadi di periode ini menjadi tumpukan bahan bakar pada periode dekade berikutnya. Di tahun 1930an, banyak pengangguran, pabrik-pabrik seperti pabrik gula ditutup. Orang stress. Ketegangan antar kelas dan golongan. Pribumi dan penjajah. Partai-partai politik lebih aktif. Pemikiran-pemikiran tentang pelepasan diri dari pemerintahan Belanda semakin kuat. Di sektor ekonomi, pabrik-pabrik gula di Jawa banyak ditutup. Di Sumatra perkebunan-perkebunan sawit, karet dan tembakau mengalami masa suram. Di Sumatra yang banyak daerah swapraja (mirip dengan daerah otonomi) yang dipimpin oleh sultan dan uleebalang (Aceh), ketegangan dan kecemburuan sosial makin menajam. Untuk siklus 10 tahunan ini, di Hindia Belanda antara tahun 1935 sampai Jepang masuk 1942, terjadi pemulihan ekonomi tetapi tidak terlalu bagus karena siklus ini dipengaruhi oleh siklus yang lebih besar, siklus Kondratieff. Kondisinya mirip dengan apa yang terjadi di tahun 1997 sanpai 2005 sekarang. Kondratieff sedang di puncaknya, sedang siklus 10 tahunan di titik nadir. Ada perbaikan tetapi kecil saja. Ketegangan dan pertentangan antar golongan mereda tetapi tidak tuntas.

Titik terendah dekade 1940 ditandai dengan proklamasi kemerdekaan – huru hara besar di negri Hindia Belanda. Itu secara umum. Antara tahun 1945-1947, pertentangan kelas dan golongan mencapai puncaknya. Belanda vs. Pribumi; Sultan Sumatra vs. Rakyat; Komunis (PKI) vs. RI. Untuk pertentangan antara Belanda vs. Pribumi anda bisa baca di buku sejarah SMA. Banjir darah di Madiun, mungkin anda pernah juga mendengar dari sejarah. PKI pimpinan Muso membantai banyak aparat pemerintah di Madiun. Salah satu calon korbannya adalah Abdul Hamid Swasono, polisi yang dikemudian hari menangkap Cut Zahara Fonna (penipu Aceh kelas Nasional). Pangkat terakhir polisi ini adalah Brigadir Jendral dan Panglima Daerah Kepolisian Kalimantan Selatan tahun 1970an.

Sumatra sebelum tahun 1946 adalah tanah sultan-sultan Melayu dan Aceh. Sultan Deli di Medan, Sultan Langkat di Tanjung Pura, Sultan Serdang, Sultan Asahan, Raja Negri Panai, Sultan Simalungun, Sultan Riau, dari Aceh sampai Minangkabau. Mereka masih kerabat dari sultan-sultan di Malaysia. Satu sistem. Tahun 1946 terjadi revolusi sosial, puncak dari pertentangan golongan (penguasa vs rakyat). Para sultan, ulebalang dan keluarganya dibantai. Salah satunya penyair Amir Hamzah putra mahkota sultan Langkat. Mayatnya terpenggal di temukan di Kuala Begumit. Kasihan juga Amir Hamzah, dia sudah memesan sebuah mobil sport beberapa tahun sebelumnya (menurut ceritanya), ketika mobil itu datang dia sudah mati. Kasus yang membuat perut mual adalah kasus Sultan/Raja Simalungun. Dia diambil dan dibantai ketika menghadiri kenduri. Menurut kabar mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau dan dimasak untuk dimakan. Di bidang ekonomi, inflasi menggila, pemerintah republik melakukan sanering (penghilangan 3 angka nol dalam mata oeang roepiah). Untuk revolusi sosial di Sumatra ini anda bisa cari dokumetasinya melalui Google.

Winter berikutnya dari siklus 10-12 tahun ini adalah tahun 1954-1957. Sejarah mencatat banyak pemberotakan, DI/TII, Permesta, PRRI. Dibidang ekonomi, inflasi lagi dan terjadi lagi sanering 2 menjadi 1 yang dikenal dengan gunting Safrudin. Mata uang digunting menjadi dua. Yang sebelah laku yang sebelah lagi tidak laku. Skala nadir siklus 10 tahunan ini tidak besar, karena dalam skala besar, siklus Kondratieff memasuki periode spring. Di dunia memulai investasi dan bisnis mulai tumbuh. Kondisi ekonomi semacam ini di Amerika melahirkan baby boomer. Orang-orang mulai membangun keluarga dan punya anak. Untuk Jepang baby boomer dimulai 5-10 tahun lebih awal. Jadi dalam skala dunia, ekonomi memasuki masa spring (mulai tumbuh).

Winter berikutnya adalah 1965 – 1967. Walaupun dunia sedang mengalami masa late spring atau early summer untuk siklus Kondratieff, skala siklus 10 tahunan di Indonesia sangat parah. 3 juta orang terbunuh selama kurun waktu 3 tahun. Pertentangan golongan mencapai titik puncaknya dan tekanan ekonomi juga pada puncaknya. Komunis vs. Islam/Non Komunis; Cina vs. Pribumi. Banyak elit politik yang berkuasa dihabisi. Apakah itu dibantai atau dimasukkan penjara selama belasan tahun (Coba hitung berapa banyak mentri Orla yang mati atau dipenjara selama belasan tahun. Belum lagi pentolan partai/komunis). Inflasi menggila. Sanering terjadi lagi akibat kertas sudah tidak cukup menampung jumlah NOL
. Tiga (3) angka nol dihilangkan.

Malari menandai titik nadir siklus 10 tahunan dekade 70. Pasar Senen dibakar, juga banyak mobil-mobil Jepang. Sebabnya sama, yaitu ketegangan sosial. Untungnya period ini masih dalam periode early summer pada siklus Kondratieff. Amerika mengalami kesulitan ekonomi, defisit anggaran, hyperinflasi. Tetapi Eropa dapat mengkompensasi kemunduran ekonomi Amerika. Ekonomi Indonesia sendiri tidak terlalu jelek karena masuknya infestasi baru dari Jepang di bidang manufakturing dan Amerika dibidang sumber alam. Subsidi bisa meredam gejolak.

Sama seperti sebelumnya, titik nadir siklus berikutnya tahun 1980an, skala kerusakannya tidak besar. Saya hanya bisa merasakan bahwa ayah saya kena kredit macet bersama banyak orang yang lain. Ekonomi dunia tidak terlalu buruk. Resesi memang melanda Amerika Utara sekitar tahun 1986-1987. Tetapi Jepang yang sedang boom, bisa mengambil alih peran motor penggerak ekonomi dunia. Di Indonesia subsidi bisa digunakan untuk meredam gejolak.

Dekade 1990 menjelang titik nadirnya yaitu tahun 1996-1997, Jepang sudah rontok di awal 1990. Russia sudah megap-megap (titik nadirnya di tahun 1998 dimana Russia menlakukan gagal bayar hutangnya). Argentina juga klepekan. Macan Asia babak belur. Keteganan dan luapan ketidak-puasan di Indonesia meletus, terutama karena subsidi mulai akan/mulai dikurangi. Paling tidak, subsidi tidak cukup meredam ketidak-puasan. Kebijakan keuangan US yang dikenal dengan Greenspan PUT, terlambat datangnya dan hanya bisa meredam penjalaran ke ekonomi US. Effek domino krisis keuangan Asia, gagal bayar hutang Russia, krisis Argentina, krisis LTCM (long term capital management) tidak menjalar ke US. Mungkin hanya sedikit, itupun banyak mengatakan karena kasus 911.

Kedepan, kita akan menyongsong nadir dari siklus 10 tahunan 2006-2007 dan Kondratief winter (periode suram 60-70 tahunan). Bukan masa yang mengenakkan. Kita tidak tahu, mana yang lebih teruk (parah) apakah nadir dekade 2000-2010 atau nadir dekade 2010-2020. Jurus the Fed yang dikenal dengan nama the Greenspan Put, dimainkan beberapa kali. Ketika menghadapi Asia Crisis, LTCM crisis, Y2K, menghadapi DOTCOM bubble burst, terakhir menangkal akibat 911. Greenspan mengguyurkan dollar dalam jumlah yang luar biasa. Ini bukan tidak berakibat sampingan. Harga emas, perak dan hard commodities naik. Untuk soft commodities gejala-gejala sudah kelihatan. Housing dan real-estate bubble di US. Semua ini Indonesia terkena imbasnya. Harga rumah di Indonesia sudah melambung 3 kali lipat dalam kurun waktu 3 tahun. Di level sekarang ini, hanya segelintir orang yang bisa membeli rumah (bahkan juga di US sendiri). Di China terjadi over & mal investment. Anda pernah dengar istilah “see through building” sebutan untuk gedung yang kosong melompong. Itu banyak di China. Anda tahu Petronas Twin Towers 2-3 tahun lalu, sebelum staff regional Petronas dan kantor perusahaan minyak lain di pindah (dengan tekanan) kesana. Waktu itu juga “see through building”.

Apakah yang akan terjadi pada nadir siklus 10 tahunan ini di Indonesia? Para elit politik akan disembelih seperti pada revolusi sosial 1946 dan 1965? Atau para konglomerat/pengusaha? Apakah ini akan terjadi di dekade 2000-2010 atau di dekade siklus 2010-2020. Sejarah selalu berulang, walaupun tidak selalu sama, tergantung banyak faktor. Faktor ekonomi dan faktor sosial/politik hanya merupakan 1 koin dengan 2 muka. Kali ini bom waktu ekonomi sangat besar. Hutang di US mencapai $40 triliun. Jika liability disektor medicare dan dana pensiun dimasukkan, akan mencapai $ 100 triliun. Sedangkan dana yang ada tidak cukup. Skala ini terbesar dalam sejarah umat manusia…….

Proteksinisme mulai bermunculan seperti tahun 1930. CNOOC dicekal dari mengambil alih Unocal. Dubai Port dicekal dari mengambil alih pengelolaan pelabuhan di US. Buruh-buruh berdemo di Prancis minta diproteksi. Juga di Indonesia. Putra daerah, buruh, pengusaha (textile) entah apa lagi minta diproteksi. Tenaga kerja/immigran gelap di US minta diproteksi. Perang tariff akan dimulai……. Kebijakan cekal dan pengontrolan ala “big brother” nya George Orwell merajalela. Phone-Cell prabayar anda harus didaftarkan bukan? Pemerintah (US, dan lainnya) berhak memata-matai kegiatan anda. Ini adalah gejala Kondratieff autumn.

Saran saya: beli emas dan senjata atau siapkan tempat pindah yang aman. Singapura, New Zealand atau Argentina? Entahlah.

Catatan: Tadi malam emas telah menembus resistance nya $569/oz dengan sangat decisive. Ini menandai rally berikutnya ke $650/oz. Saya jadi ingat tahun 1970-1981, dimana emas mencapai $ 850/oz. Kali ini paling tidak $ 2000/oz. Naiknya harga emas adalah indikasi akan adanya krisis. Krisis? Krisis yang mana?……, Bensin 80% chance akan mencapai Rp 7500/ltr atau $3/gal di tingkat retail US pada bulan July-Sept ini (Rp9500/US$). Apakah Pemerintah Indonesia akan tetap mensubsidi diharga Rp 5000an?. Angka 80% chance versi Imam Semar cukup tinggi lho…., Siap-siap beli anjing Rotweiler yang galak untuk menjaga rumah. PHK akan menelorkan tingkat kriminalitas yang tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: