Risalah Malam Pertama

Pendahuluan

Sesungguhnya segala pujian itu adalah milik Allah, yang baginya kita selalu memuji, selalu merasa lemah, dan selalu memohonkan ampun. Dan kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami, dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang bias menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Muhammad saw, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amma ba’du.

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, sampai memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut rumah tangga, seperti nafaqah (memberi nafkah), warisan, selingkuh, dsb.

Selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam Islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al Quran dan As Sunnah Ash Shahihah yang sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih (orang-orang beriman terdahulu yang lebih dekat ilmunya dengan nabi dan para sahabat). Berdasarkan rujukan ini, kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan yang terjadi dalam masyarakat kita.
Malam Pertama

Malam pertama merupakan malam yang istimewa bagi pasangan suami istri baru. Maka Islam memberikan beberapa etika adab dan prosedur yang baik sehingga pasangan baru akan dapat mengoptimalkan pernikahannya sebagai ibadah kepada Allah swt dan mengupayakan perlindungan yang sempurna bagi calon keluarga barunya terhadap gangguan syaitan di masa yang akan datang.

Berikut beberapa etika malam pertama :

1.      Bujuk rayu

Dianjurkan kepada suami untuk melakukan bujuk rayu dan bersikap lemah lembut pada mempelai wanita pada malam pertama dengan mengajak bicara, menyuguhkan segelas minuman, atau semisalnya sehingga terjadi keakraban di antara mereka berdua. Contoh yang diberikan oleh Rasulullah ialah sebagai berikut :

Berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid bin as-Sakan yang mengatakan : Saya merias Aisyah untuk Rasulullah saw. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau saw agar menghadiahkan sesuatu kepada Aisyah. Maka datanglah Rasulullah saw dan duduk di sebelah Aisyah. Waktu itu beliau saw disodori gelas berisi susu dari pelayan, setelah beliau minum, beliau kemudian menyodorkan gelas tersebut kepada Aisyah tetapi Aisyah menundukkan kepalanya dan malu.

Asma’ binti Yazid melanjutkan : maka saya menegurnya dan berkata kepadanya : “ambil gelas itu dari tangan Rasulullah!” Akhirnya Aisyah mengambilnya dan meminumnya sedikit. <HR. Ahmad, Al Humaidi, dan Ath Thabrani dengan sanad Shahih>

2.      Meletakkan tangan pada ubun-ubun

Mempelai pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun mempelai wanita dan berdoa seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda :

“Apabila seseorang diantara kamu menikahi seorang wanita, maka peganglah ubun-ubunnya, lalu ucapkanlah basmalah dan doakanlah dengan doa barokah. Hendaknya ia ucapkan : Allaahumma innii as aluka min khairihaa wa khairi maa jabaltahaa alaihi wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan perangainya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan perangainya). <HR. Bukhari, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Habi Ashim, dan Baihaqi>

3.      Sholat dua raka’at

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimatullah ta’ala berkata : perbuatan shalat ini ada dasarnya dari para salaf (pendahulu kita).” Diantaranya ialah hadits Abu Sa’id maula (bekas budak) yang mengatakan: “Saya menikah ketika saya masih menjadi budak. Saya mengundang beberapa orang sahabat Nabi saw, diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Lalu waktu iqamat shalat telah ditegakkan, maka bergegaslah Abu Dzar maju menjadi imam. Tetapi mereka berkata : kamu saja. Maka sayapun maju menjadi imam padahal saya adalah budak.

Selanjutnya mereka mengajari saya seraya berkata : “Kalau isterimu nanti menemuimu, maka shalatlah dua raka’at berdua, lalu memohonlah kepada Allah kebaikan segala sesuatu yang datang kepadamu dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari keburukan segala sesuatu yang datang kepadamu. Setelah itu berdoalah dengan doa yang berkaitan dengan persoalanmu dan persoalan isterimu.” <Hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf juz VII, lembar ke 50>

4.      Gosok gigi

Disunahkan bagi pria sebelum mencumbu isterinya untuk bersiwak (gosok gigi) terlebih dahulu agar mulutnya bersih dan tidak berbau. Begitu pula pihak wanita. Cara ini dirasa lebih dapat melanggengkan keharmonisan hubungan keduanya.

Syuraih bin Hani r.a berkata : “saya bertanya kepada Aisyah r.a : Dengan sesuatu apakah Nabi saw memulai ketika beliau masuk ke dalam rumahnya?

Aisyah r.a menjawab : “Dengan siwak” <HR. MuslimIII/143-144, Abu Awanah, Aun al-Ma’bud, Ibnu Khuzaimah, dan lain-lain>

5.      Membaca doa sebelum berkumpul dengan isteri

Selanjutnya, bila hendak melakukan hubungan badan, maka hendaknya membaca doa : Bismillahi Allahumma jannibnisy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanii (Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang hendak engkau berikan kepadaku)

Lebih lanjut Rasulullah saw bersabda : “Maka apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan keduanya, niscaya syetan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” <Hadits Shahih dikeluarkan oleh Bukhari IX/228/Fathul Bari, Muslim X/5/Syarh Nawawi, dan lain-lain>

6.      Harus lewat jalan lahirnya bayi

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a, ia mengatakan : “Umar bin Khattab r.a datang kepada Rasulullah saw sambil berkata : “Celaka saya ya Rasulullah!”

Maka Rasululah saw bertanya : “Apa yang menyebabkanmu celaka?”

Umar menjawab : “Malam ini saya memindahkan perabotan rumah saya.” (merupakan kata kiasan tentang hubungan badan yang dilakukan tidak seperti biasanya).

Ibnu Abbas berkata : Rasulullah saw tidak menjawab, sampai akhirnya turun kepada beliau firman Allah swt : “Isteri-isteri kamu adalah (seperti) ladang cocok tanam bagimu, maka datangilah ladang kamu sebagaimana kamu kehendaki.” (QS Al Baqarah : 223)

Sesudah ayat itu turun, Rasulullah saw bersabda : “Datangilah (isterimu)dari arah depan dan dari arah belakang, tapi jauhilah duburnya.” <HR Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, Ahmad, Ibnu Hibbanm Ibnu Jarir, dan Baihaqi dengan sanad shahih>

Dalam riwayat lain juga dikatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda : “… (boleh) dari arah depan, atau dari arah belakang, asalkan di kemaluannya.” <HR. Bukhari dan Muslim>

7.      Berwudhu bila ingin mengulangi lagi

Jika hajat biologisnya telah selesai, maka hendaknya jangan tergesa-gesa bangun sebelum pasangannya tuntas pula menyelesaikan hajatnya, sebab demikian akan lebih melapangkan hubungan kasih saying antara keduanya. Dan bila memiliki kemampuan untuk mengulangi sekali lagi, maka hendaknya berwudhu dulu. Rasulullah saw bersabda :

“Jika seseorang di antara kamu mendatangi isterinya, kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaknya ia berwudhu.” <HR. Muslim, Abu ‘Awanah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, al-Humaidi, Ibnu Abi Syaibah, dan Abu Nu’aim>

8.      Jaga kebersihan dan kesucian setelahnya

Aisyah r.a berkata : “Seorang wanita yang berakal seyogyanya bersiap sedia dengan sobekan kain (atau tissue – penulis) sehingga apabila suami menggaulinya, suami bisa menggunakan sobekan kain tersebut untuk mengelap sisa-sisa (sperma yang masih menempel) pada dirinya, dan ia (isteri) juga dapat menggunakannya untuk mengelap sisa yang menempel pada dirinya. Kemudian keduanya dapat menggunakannya dengan pakaian tersebut selagi tidak terlumuri air mani.” <Hadits mauquf (terhenti) pada Aisyah r.a oleh Baihaqi dengan sanad shahih. Juga diriwayatkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala>

Mu’awiyah bin Abu Sofyan r.a pernah bertanya kepada saudara perempuannya, Ummu Habibab yang juga salah satu isteri Nabi saw : “Apakah Rasulullah saw sholat dengan pakaian yang digunakan untuk menjima’ kamu?

Maka Ummu Habibah menjawab : “Ya, apabila beliau tidak melihat ada air mani padanya.” <HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban, dan lainnya dengan sanad shahih>

9.      Mandi junub bersama

Aisyah r.a berkata : “Saya dan Rasulullah saw mandi junub bersama dari air satu bejana.” <HR. Bukhari dan Muslim>

Adapun tata cara mandi junub yang paling komplit ialah berdasarkan pada Hadits berikut : Dari Aisyah r.a, dia berkata : “Kebiasaan Rasululah saw apabila hendak mandi dari sebab janabat, beliau mulai yaitu : mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya pada tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhunya untuk sholat. Kemudian beliau mengambil air, lalu memasukkan jari-jarinya pada pangkal-pangkal rambut, hingga ketika beliau telah selesai melakukannya, beliau menuangkan air pada kepalanya tiga kali tuangan sepenuh telapak tangan. Kemudian beliau mengguyur seluruh tubuhnya, kemudian mencuci kakinya.” <HR Muslim no. 316, dalam riwayat Bukhari no.272 disebutkan pada akhiran : “kemudian beliau mencuci seluruh tubuhnya>

Tambahan : Wanita tidak wajib membuka pintalan rambutnya ketika mandi janabat, namun harus membukanya ketika mandi haidh. Hal ini merupakan kemudahan dari Allah swt. (lihat : al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Azis hal. 51 karya syaikh Abdul “Azhim al-Badawi)

10.  Dilarang menggauli isteri ketika masa haid atau nifas

Rasulullah saw bersabda :

“Siapa yang menjima’i isteri yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’I duburnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada Muhammad.” <HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi dengan sanad shahih>

11.  Larangan menyebarkan rahasia

Diharamkan bagi kedua mempelai menyebarkan rahasia hubungan seksual karena hal itu termasuk dosa besar. Beliau saw sangat keras ancamannya terhadap hal ini. Rasulullah saw bersabda :

“Perumpamaan orang tersebut seperti setan laki-laki bertemu dengan setan perempuan di jalanan kemudian menggaulinya sementara orang-orang melihatnya.” <HR. Imam Ahmad dengan sanad hasan>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: